Energi Spesial Peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-53

Seperti baru saja dilansir melalui rubrik Foto Headline malam ini, Kamis 27 April 2017, Mbah Nun memenuhi undangan Dirjen Kemenhukham dalam acara peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-53. Acara digelar di LP Kelas IIA Narkotika Jakarta.

Indonesia bukan hanya merangkai asa, tetapi Indonesialah yang bisa menawarkan asa kepada dunia. Hanya Indonesia yang bisa menyelesaikan masalah dunia
Foto: Gandhi.

Mungkin tampak “aneh” dari penglihatan umum bahwa seorang Mbah Nun berada di acara Lapas seperti itu, meskipun tak aneh juga, karena Beliau sering mendapat undangan dari pelbagai jenis dan latarbelakang masyarakat. Tetapi, panitia memang punya alasan khusus dan mungkin alasan ini jarang mewarnai lembar-lembar permohonan acara atau undangan yang ditujukan kepada Beliau. Mbah Nun diundang karena dianggap sebagai sosok yang memiliki energi, dan energi itu sangat dibutuhkan oleh khususnya para penghuni Lapas. Mbah Nun tak ubahnya orang tua, yang tutur katanya mengandung “otoritas”, kekuatan, dan tenaga yang menggerakkan langkah kaki anak-anaknya serta menguatkan hati mereka. Demikianlah maka tatkala Mbah Nun sudah tiba dan masuk ke lokasi acara disebut-sebut berulang sebagai tamu spesial.

Bersama para pejabat dan pegawai Lapas serta tamu undangan lain, Mbah Nun menyaksikan Sendratari yang diberi judul “Merangkai Asa”. Sebuah sendratari yang dimainkan oleh para narapidana untuk menggambarkan bagaimana harapan dan jiwa mereka. Juga sebuah narasi yang melukiskan pentingnya gotong royong dan kerjasama di antara masyarakat, petugas Lapas, dan narapidana sendiri di dalam menggapai tujuan pembinaan di dalam Lapas.

Dengan penuh perhatian, Mbah Nun menyaksikan pementasan yang “tak lazim” ini. Begitu usai, Mbah Nun dimohon maju untuk menyampaikan apresiasi. Mbah Nun mengapresiasi kualitas pertunjukan sendratari ini sekelas festival film internasional.

Mbah Nun kagum, bangga, dan bersyukur kepada Allah Swt karena pertunjukan sehebat ini dimainkan oleh para penghuni lembaga pemasyarakatan, dan yang berlatih hanya dalam waktu dua minggu.

Judul sendratari yang mereka mainkan yakni “Merangkai Asa” pun mendapat perhatian dari Mbah Nun. “Indonesia bukan hanya merangkai asa, tetapi Indonesialah yang bisa menawarkan asa kepada dunia. Hanya Indonesia yang bisa menyelesaikan masalah dunia,” tegas Mbah Nun.

Kemudian lebih lanjut Mbah Nun mengingatkan arti peristiwa yang barusan selesai bersama-sama disaksikan. “Ini adalah cermin kecil dari Indonesia yang besar. Bahkan yang ada di penjara bisa melakukan pergelaran hebat sepeti ini. Tidak ada penjara di dunia seperti di Indonesia, yang ternyata lebih mirip seperti pesantren. Orang Indonesia adalah pembawa gen manusia unggul dunia. Orang Indonesia bisa melakukan apa saja. Bergerak jadi tari, berbicara jadi lagu, melukis jadi semesta.  Orang Indonesia tidak mungkin stress, di mana pun mereka berada mereka akan menemukan keindahan.”

Ada yang barangkali kecil kemungkinannya warga binaan ini peroleh selama ini adalah tatkala Mbah Nun mengenai hidup abadi. Bahwa manusia tak bisa mengelak dari keabadian. Mati hanya jalan menuju tahap selanjutnya keabadian. Keabadian adalah masa depan. Ini tentunya merupakan ideologi yang amat kuat memijak sehingga mereka mendapatkan kekuatan kesadaran bahwa tak ada alasan bagi warga binaan Lapas ini untuk berputus asa dan tidak berbuat baik.

Para pemeran sendratari ini telah berlatih menjadi penghuni surga yang penuh harmoni
Foto: Gandhi.

Masih dalam kerangka keabadian, di luar dugaan mereka, Mbah Nun mengaitkan pementasan mereka dengan surga. “Neraka adalah kehidupan yang serba salah. Dan surga adalah kehidupan yang penuh harmoni. Para pemeran sendratari ini telah berlatih menjadi penghuni surga yang penuh harmoni.” (hm/gd)

Mbah Nun diundang karena dianggap sebagai sosok yang memiliki energi, dan energi itu sangat dibutuhkan oleh khususnya para penghuni Lapas.

Bagikan

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image