Energi Merdeka di Maiyah

Catatan Majelis Ilmu Mocopat Syafaat, Yogyakarta 17 Agustus 2017

17 Agustus 1945, dengan dibacakannya naskah teks proklamasi kemerdekaan oleh Bung Karno dan Bung Hatta, bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Setiap tahun di kemudian hari, masyarakat merayakan peristiwa itu dengan ragam kegembiraan, upacara bendera dan sejenisnya. Tidak jarang bentuk-bentuk perayaan ini malah mengadopsi cara-cara perayaan yang diturunkan dari tradisi bangsa yang dulu menjajah bangsa ini. Merdeka secara slogan dan bentuk memang tidak sesulit merdeka dari penjajahan cita rasa dan tolok ukur.

Jay F. Arms mempelajari gamelan dan meneliti komposisi gamelan baru melalui KiaiKanjeng.
Jay F. Arms mempelajari gamelan dan meneliti komposisi gamelan baru melalui KiaiKanjeng.

Namun 17 Agustus 2017, ragam manusia berkumpul di TKIT Alhamdulillah, Kasihan, Tamantirto, Bantul sebagaimana tanggal 17 tiap bulannya. Tidak dengan pekik jerit nasionalisme dan slogan-slogan kemerdekaan seperti kebanyakan di luar sana. Para JM yang berkumpul disini, adalah manusia-manusia merdeka yang tidak perlu lagi menunjuk-nunjukkan kemerdekaan mereka dengan slogan dan jargon.

Bahwa ini adalah hari kemerdekaan, namun acara justru dimulakan dengan pembacaan wirid Wabal yang dipandu oleh Mas Ramli. Kita semua sudah pula mengetahui makna kata-kata Wirid Wabal ini, namun membacakannya pada momentum seperti ini, kita mungkin boleh memiliki pemaknaan masing-masing.

Di Maiyah, rasa nasionalisme terasa sangat otentik, tidak sekadar slogan dan jargon. Bukan sekadar romantisme masa lalu dengan dalih pengorbanan beribu-ribu pejuang. Juga bukan berarti darah syahid para pejuang tidak dihargai. Tapi rasa nasionalisme dan kemerdekaan itu dikembalikan pada pemaknaan asalnya, tujuan sejati dari apa yang diperjuangkan oleh para pejuang baik sebelum era 45 maupun ketika menghadapi agresi militer. Dengan begitu nasionalisme dalam Maiyah bukan nasionalisme yang bisa ditunggangi kepentingan, bukan nasionalisme yang rela diadubenturkan dengan isme-isme lain. Nasionalisme Maiyah, merdeka dari rasa terancam dan mengancam, bahkan merdeka dari nafsu untuk ‘mem-perpu-kan’ yang dianggap berseberangan.

Cita-cita kemerdekaan di Maiyah, jauh mencakrawala, tidak sesepele jadi bangsa yang sekadar menyembah batu, semen dan pasir; jalan tol, gedung, infrastruktur, reklamasi, kota buatan dan berbagai berhala ilusi kemajuan.

Bahkan Maiyah tidak merasa terancam rasa nasionalismenya manakala membahas materi-materi misalnya, mengenai apakah saat proklamasi dibacakan bangsa kita sudah cukup otentik, sudah cukup ber-thaharah dari tolok ukur dan cita rasa kemerdekaan serta bentuk pergerakan bahkan bentuk negara yang dituju. Apakah sudah cukup suci mensucikan? Ataukah masih ada unsur musta’mal dan mutanajjis? Itu semua bahasan-bahasan yang tidak ditabukan di Maiyah, tanpa sedikit pun nasionaliame itu terancam hilang dan sirna. Nasionalisme merdeka di sini, dikhalifahi dalam semangat untuk membersamai, menjemput ridho Sang Pemberi Kemerdekaan Sejati.

Maka dengan itu, Maiyah sangat merdeka bahkan dalam cita rasa dan tolok ukur pun Maiyah sangat merdeka, dan malam ini kemerdekaan itu terasa sekali.

Setelah pembacaan wirid Wabal, tampak bapak-bapak personel KiaiKanjeng mengisi panggung. Pak Jijid dan Pak SP Joko mengawali, dengan mengundang Jay F Arms yang rupanya seorang seniman muda yang sedang meneliti gamelan-gamelan baru di wilayah Jogja dan Solo.

Obrolan antaran Pak Jijid, Pak SP Joko dan Jay mengalir lancar. Soal awal mula ketertarikan Jay pada gamelan, sedangkan dia sendiri basis keilmuannya sebenarnya adalah pada gitar klasik. Jay F Arms ini juga seorang Associate Editor di Jurnal Balungan, terbitan American Gamelan Institute yang diasuh oleh Pak Jody Diamond. Pak Jijid dan Pak SP Joko mengutarakan bahwa Pak Jody Diamond  -yang kepadanya Jay juga menggali ilmu gamelan- sudah sangat konsentrasi dalam dunia gamelan sejak puluhan tahun dan sejak tahun 80-an sudah sering bersentuhan dengan KiaiKanjeng.

Kalian bukan generasi penerus. Kalian adalah generasi baru. Kalian adalah Indonesia baru.
Kalian bukan generasi penerus. Kalian adalah generasi baru. Kalian adalah Indonesia baru.

Salah satu alasan yang disebut Jay menjadi awal ketertarikannya dalam gamelan adalah karena gamelan mewadahinya untuk berkesenian sambil bersosial. Ini hal yang tidak ditemukannya dalam seni gitar klasik yang dia dalami sebelumnya. Memang, seni dalam budaya Jawa memiliki fungsi sosial dan bahkan bisa dibilang ini adalah fungsi utama seni tradisi kita. Karenanya kita tidak mengalami fase perdebatan dalam dunia seni seperti di Eropa, perdebatan mengenai seni sebagai aktualisasi diri pribadi atau penyampai pesan pada khalayak. Dua hal tersebut rupanya bukan hal utama dalam konsep kesenian kita.

Tak lupa Jay juga memberi gambaran bahwa dunia gamelan sedang berkembang dan memiliki segmen yang mulai merekah di mana-mana. Di US sendiri, di negeri asalnya, Jay menyebut terdapat sekitar 200 set gamelan dengan sekitar 170 komunitas gamelan yang aktif mempelajari dan mendalami gamelan.

Pak SP Joko dan Pak Jijid juga mengajak Pak Nevi untuk turut berinteraksi dan menjelaskan bagaimana sifat gamelan KiaiKanjeng yang sebenarnya adalah hasil gubahan dari bentuk gamelan Jawa. Ini membuat gamelan KiaiKanjeng mampu meng-khalifah-i baik nada pentatonis maupun diatonis. Pak Nevi menyampaikan bahwa awalnya membuat gamelan ini karena dulu butuh alat musik untuk mengiringi pembacaan puisi Mbah Nun. Awalnya menggunakan gamelan yang ada di desa Pak Nevi namun kemudian gamelan tersebut dijual oleh pemiliknya maka jadilah ijtihad kultural Pak Nevi untuk membuat gamelan sendiri.

Pembacaan puisi ini, ketika Mbah Nun telah di atas panggung sempat dipertunjukkan pula oleh Mbah Nun dengan membacakan “Kemana Anak-Anak Itu”. Jay berulang kali menyampaikan kekagumannya terhadap konsep-konsep bebunyian KiaiKanjeng, tampak lebih terkagum lagi ketika sesi pembacaan puisi tersebut.

Bersama dengan Mbah Nun, tampak pula Pak Tanto Mendut bersama Komunitas Lima Gunung yang diasuhnya. Akan ada persembahan pertunjukan malam itu. Komunitas Lima Gunung, kita tahu baru-baru ini sukses menggelar Festival Mari Goblok Bareng yang menuai apresiasi positif di kalangan pemerhati seni. Juga bergabung bersama malam itu, pelatih sepakbola timnas U-19 Pak Indra Sjafrie beserta tim pemain dan para official.

Malam itu benar-benar malam yang merdeka. Pak Indra Sjafrie beserta jajarannya yang datang untuk memohon doa restu dari Mbah Nun mendapatkan bonus, pertunjukan dari Komunitas Lima Gunung. Pertunjukan dari Komunitas Lima Gunung, seperti seringkali disampaikan Pak Tanto Mendut adalah pertunjukan yang tidak perlu didefinisikan, apakah dia teater, komposisi gerak, musik, puisi atau apapun. Sebuah kesenian yang dilandasi spirit kemerdekaan dan kemandirian manusia-manusia gunung terutama para petani.

Memulakan pertunjukan, seorang wanita menghempas bebungaan ke berbagai arah. Kemudian membacakan surat dari almarhum WS Rendra kepada Mbah Nun “Emha Yang Saya Kenal” dilanjutkan dengan definisi kata Goblok, yang bisa kita artikan sebagai pagar dari konsep Goblok Bareng. Kemudian pembacaan puisi yang dipenuhi istilah-sitilah dan perhitungan matematika oleh seorang penyair yang pernah dijuluki oleh almarhum WS Rendra sebagai penyair matematika. Kemudian dilanjutkan pembacaan makalah ilmiah oleh seorang personel Lima gunung yang memang seorang peneliti sosial. Campur aduk, memang, seperti bagaimana para petani memanfaatkan apa saja yang ada disekitarnya sebagai cara untuk bertahan hidup. Murni, tidak artifisial, dan indah dengan sendirinya.

“Aa…” terdengar seruan dari barisan penonton, yang mendapat sambutan “Oo…” dari barisan sisi lain di Jamaah. Ini adalah pertunjukan “O A O” yang juga dipentaskan oleh Komunitas Lima Gunung, diwakili oleh Duo Sendal Jepit bersama pemuda-pemudi Ds Gejayan. Seruan “Aa..!” dan “Ooo…!” yang awalnya perlahan, mulai dipercepat temponya, ujud manusia-manusianya pun mulai tampak, menyeruak dari berbagai sudut di tengah Jamaah. Konsep pelibatan penonton, pembongkaran performer dan penonton, adalah khas Lima Gunung yang sesungguhnya juga adalah nyawa sejati seni tradisi Nusantara.

Seiring seru-seruan yang makin seru itu, para pemain sembari berjalan dengan gerak-gerak jenaka menuju ke depan panggung. Tempo dan irama dieksplor, Setya pada merdeka dan merdeka itu tempo dan irama dan gerak dan cantik seruling dan payung digotong dan tawa serta celoteh Jamaah. Saya memperhatikan energi ke-Setya-an pada rasa mandiri, kemerdekaan dan kedaulatan. Duo Sendal Jepit menjadi titik fokus ketika berada di depan panggung, adegan jenaka menjadi perdebatan sengit antara “A…! dan “O…!” sambil sesekali diselingi “Goblok!!!” atau “Goblikkkk” tiba-tiba semua pertunjukan yang pada mula tadi terasa tidak berhubungan menemukan konteks dan titik temu. Puncaknya adalah ketika Duo Sendal Jepit berebut masuk kedalam sebuah kaos oblong bertuliskan Goblok sambil masih menyerukan “Aaa…!!!” dan “Ooooo…!!!”

Komunitas Lima Gunung sedang menyindir habis kesenangan manusia modern dan pasca-modern akan perdebatan-perdebatan tiada guna. Argumen-argumen kosong yang menyeruak di ruang hampa bernama social media.

Kali ini Pak Tanto Mendut ajak anak asuhnya “Centini Gunung” dan “Sendal Jepit” hadir mempersembahkan sajian di Mocopat Syafaat.
Pak Tanto Mendut ajak anak asuhnya “Centini Gunung” dan “Sendal Jepit” hadir mempersembahkan sajian di Mocopat Syafaat.

Bila sedikit diteorikan maka seni ala Komunitas Lima Gunung memang lebih dekat kepada sifat Dyonisian daripada Appolonian. Definisi tentu tidak menangkap keseluruhan maksud dan esensi, pembagian klasifikasi Dyonisian dan Appolonian juga belum tentu mampu menangkap kemerdekaan Komunitas Lima Gunung.

Lepas dari pertunjukkan yang sulit dinalar tersebut, Mbah Nun secara spontan mengambil komando. Personel Lima Gunung yang diwakili Duo Sendal Jepit dan Pemuda-Pemudi Ds Gejayan diminta Mbah Nun untuk membentuk barisan. Satu orang diminta berdiri di hadapan barisan, kemudian masing-masing diminta memonyongkan muka, membentuk ekspresi-ekspresi meledek yang lucu. Lantas KiaiKanjeng mengiringi, membahana dengan lagu Gundul-Gundul Pacul. Tiba-tiba semua dibebaskan mengekesplorasi gerak. Jadilah kemeriahan dan kemerdekaan meletup, meledak. Semua yang di panggung lantas bergerak sesukanya, semau-maunya, semalu-malunya. Bahkan jajaran Pelatih Indra Sjafrie beserta pemain timnas U-19 binaannya ikut bergerak, berjoged. Mbah Nun secara spontan tampaknya menyampaikan cara yang tidak kalah brilian, bagaimana seni chaos; Dyonisian juga bisa dibalut dengan keteraturan; Appolonian. Dipasangkan, diperjodohkan, di-manage dan dikhalifahi dengan kreativitas yang merdeka.

Mas Jay F. Arms, timnas U-19, Lima Gunung serta seluruh jamaah larut dalam gelak tawa, serta kemeriahan kegembiraan yang penuh khikmah.

Tidak hanya Lima Gunung. Setelah itu ada pula Pak Gareng yang tampil membawakan pertunjukan komposisi gerak bertajuk “Sketsa Negri Sakit”. Siapapun yang mengenal Pak Gareng secara pribadi, tentu tahu betapa ramainya beliau ini. Setiap berbicara selalu meledak-ledak. Kali ini, beliau tampil dengan hanya mengandalkan gerak. Kain merah menutupi seluruh tubuh, sebelum kemudian tampak wajah menyeruak. Sosok Pak Gareng dalam komposisi gerak terebut menyiratkan beliau adalah seekor burung, baru saja burung itu lepas dari kungkungan merah menyala mengancam. Wajah sang burung itu penuh harapan memandang langit, kebebasan menghampar di depan mata. Dicobanya merentangkan  sayap dan… terbang! Tapi sayang, setiap sang burung itu mencoba terbang dia selalu gagal. Tertatih. Jatuh. Tersakiti. Dengan musik yang megah, pertunjukan ini justru sukses menyampaikan rasa sakit dan kecewanya burung itu. Garuda?

Saya tidak betul-betul mengerti sepak bola dan kurang punya ketertarikan terhadap hal ini. Saya juga tidak terlalu merasakan nasionalisme yang membuncah-buncah manakala tim olahraga apapun bertanding mewakili negara menghadapi negara lain. Tapi saya bisa merasakan spirit yang mengalir kepada para pemain timnas U-19 ketika Mbah Nun dengan lantang berkata “Anak-anakku, kalian bukan generasi penerus! Kalian adalah generasi baru! Karena yang sebelum kalian tidak bisa diteruskan!” juga bagaimana semangat itu membakar ketika Letto membawakan lagu Hati Garuda. Tampak para pemain U-19 benar-benar tergugah gelora dan energinya.

Saya kurang mengerti mereka akan menghadapi pertandingan apa, tapi saya percaya selepas dari Mocopat Syafaat malam itu mereka tentu akan bertanding dengan sepenuh-penuh segala daya. Begitu pun para JM, yang pasti memiliki arena pertarungan sendiri di bidang masing-masing dalam kehidupannya. Tentu, dalam kehidupan yang riil pertandingan tidak melulu soal kalah-menang, tapi bagaimana menaklukkan diri dan tetap perkasa berdaulat di hadapan dunia. (Muhammad Zuriat Fadil)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image