Wedang Uwuh (19)

Empat Obat Galau

Kedaulatan Rakyat, 21 Februari 2017

“Jangan remehkan seni kuliner”, Pèncèng merajalela pembicaraannya tentang makanan dan minuman, “Dalam skala dunia, tukang cicipnya saja termasuk wong agung yang memiliki keunikan, kemuliaan dan keberuntungan tersendiri, hanya dengan berbekal “ilat” atau lidahnya”

Saya mentertawakannya. “Ah, soal masak-memasak makanan saja kok sampai ke wong agung segala.…”

Pèncèng meronta. “Mbah ada seorang tukang cicip es krim yang gajinya hampir 800 juta rupiah setahun. Kelihatannya itu pekerjaan sepele dan ringan. Tapi sebenarnya membutuhkan kemampuan seorang ilmuwan atas makanan yang dicicipinya. Ia seorang flavourologist. Karena hasil cicipannya dipakai untuk menjadi landasan pengambilan keputusan sebelum memasarkan es krim itu sampai ke tingkat omset yang miliaran bahkan triliunan rupiah”

“Mbok bawa ke sini saya cicipi”, saya mentertawakannya lagi.

“Boleh Mbah. Asal tanggung risiko, kalau sesudah Mbah memutuskan bahwa ini yang enak dan paling disukai konsumen, apabila kemudian ternyata tidak laku: Njenengan bayar ganti ongkos produksi dan operasionalnya”

Rupanya serius anak ini.

“Mbah pikir urusan yang besar itu hanya filsafat, politik, peradaban dan rohani. Soalnya Mbah ini gaul-lidahnya cuma tempa-tempe toha-tahu sombal-sambel saja. Lha wong menata makanan, meletakkan suatu jenis makanan di wadah yang seperti apa, kemudian meletakkannya di meja harus bagaimana, warna makanannya matching atau tidak dengan warna wadahnya, mejanya serta semua lingkungan suguhannya – itu sangat menentukan kekuatan pemasaran. Seorang penata makanan bisa digaji hampir 600 juta setahun, Mbah”

Pèncèng kemudian “mempermalukan” saya dengan menyebut betapa ilmuwan dan kolumnis nasional Bondan Winarno secara sangat ketat dan fundamental tidak berani disebut seorang Chefs. “Saya hanya tukang cicip”, katanya. Itu pun bukan untuk keputusan produksi, melainkan sekadar untuk rekomendasi kepada konsumen, makanan di warung ini dan itu mak nyuus atau tidak.

Ada yang agak janggal dalam pikiran saya, sehingga saya tak tahan untuk tidak langsung menanyakan kepada Pèncèng. “Cèng, sejak puluhan tahun yang lalu saya tahu, mengenal dan sangat menikmati tulisan-tulisan Pak Bondan itu di sebuah Majalah terkemuka Indonesia. Beliau kolumnis utama di Negeri ini. Kemudian lama beliau menghilang, tiba-tiba muncul di televisi nasional mengekspos perjalanan kuliner. Kok bisa, ilmuwan, kolumnis kelas atas, ngurusi makanan?”

Ternyata tiba-tiba Gendon yang menjawab. “Mbah dulu pernah mengemukakan satu istilah Bahasa Jerman yang saya lupa bunyinya. Tapi intinya, kalau orang sedang pusing, tidak bisa menyelesaikan masalah-masalah, merasa gugup dan panik, akhirnya yang ia lakukan adalah makan banyak-banyak”

Beruk menyambung. “Maksud Gendon, itu suatu analisis, bahwa bangkitnya industri kuliner di Yogya khususnya dan Indonesia pada umumnya, disebabkan oleh situasi kegugupan massal, suatu kebingungan dan kepanikan bahwa semakin banyak masalah-masalah kemasyarakatan dan kenegaraan yang tak bisa diatasi. Akibatnya yang laris adalah makanan.…”

“Saya tidak punya hipotesis sosial seperti itu”, Pèncèng merespons, “tapi kalau pas hati galau, yang enak memang hanya empat: tidur atau makan banyak-banyak, nyanyi keras-keras, atau nggerundel dan misuh….”.

Maksud Gendon itu suatu analisis, bahwa bangkitnya industri kuliner di Yogya khususnya dan Indonesia pada umumnya disebabkan oleh situasi kegugupan massal.