Emha, Manusia Biasa

“Ibu, rasanya belum ada lelaki sejati dalam keluarga kita kecuali Ibu.” –sekelumit catatan harian Cak Nun dalam buku Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000)

Hanya untuk hari ini saja, saya ingin mempersilakan diri sendiri untuk mengatakan, “Emha, Manusia Biasa”. Jika tidak, kembang-kembang yang saya tulis ini akan terbaca sangat menyedihkan, terhinanya. Karena tidak ada bahasa harum lain untuknya kecuali Al-Fatihah.

Maka biarkanlah, Cak Nun adalah ‘Emha, Manusia Biasa’. Jika tidak, catatan-catatan harian dalam Ibu Tamparlah Mulut Anakmu, akan kehilangan kasih cintanya terhadap makna itu sendiri.

Hanya untuk hari ini saja, saya ingin menulis kalimat-kalimat yang mungkin menimbulkan dosa literatur baru. Bukan review pengajian Maiyah, Mocopat Syafaat, Kenduri Cinta, Bangbang Wetan, ataupun pengajian-pengajian budaya Cak Nun yang lain. Bukan juga resensi karya-karya Beliau yang menjadi penyelamat pembacanya dari kesesatan di alam delusi.

Maka biarkanlah, Cak Nun adalah ‘Emha, Manusia Biasa’. Jika tidak, semua yang telah beliau lakukan untuk sejarah akan menjadi cerita epic saja, dongeng masa lalu saja.

Hanya untuk hari ini saja, biarkan saya menulis tentang gendongan ibu kepada anak laki-lakinya yang sedang dalam perjalanan memohon maaf. Atas kenakalan yang sejatinya hanya konstruksi sosial, yang mestinya anak laki-laki itu bertugas menulis buku, menuangkan judul-judul seram. Biarkan saya menulis tentang belaian rambut ibu kepada anak laki-lakinya, yang sedang menjelaskan kepada ibu tentang kekecewaan yang mendalam atas dunia yang berlangung tidak logis, yang katanya realistis.

Maka biarkanlah, Cak Nun adalah ‘Emha, Manusia Biasa’. Jika tidak, hari ini akan menjadi sama dengan kemarin atau esok baginya. Penuh lelah untuk menuntun bangsa, membukakan pintu cakrawala kepada Negara ini, tak sudah-sudah membuat rekaan-rekaan intelektual.

Sungguh. Emha, Manusia Biasa, yang sedang rindu gendongan ibunya pada hari ini; hari kelahirannya.

Untuk hari ini, saya lantunkan Al-Fatihah melalui rangkaian huruf-huruf menjadi ayat Tujuh sebagai salam dan pengikat rindu yang ke 64 tahun.

Malang, 27 Mei 2017

“Ibu, rasanya belum ada lelaki sejati dalam keluarga kita kecuali Ibu.” –sekelumit catatan harian Cak Nun dalam buku Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000)…