Daur-II • 111

Eksplorasi Manfaat

Ternyata Markesot menjadi berkecil hati juga. Sejak itu ia agak banyak diam dan menulis catatan-catatan.

“Wahai Baginda Muhammad, karena aku ini orang kebanyakan, dan tergolong bukan orang khusus, bukan Ulama, melainkan sembarang orang – maka aku jadi merasa bersalah dan kotor untuk berdekatan dengan Al-Qur`an. Tolonglah aku, wahai Rasulullah, sebab hatiku tak kan tahan untuk berjauhan dengan Al-Qur`an. Sebab tanpa Al-Qur`an, tak ada di depanku jembatan cinta kepada Allah dan kepadamu.”

“Hatiku tak tahan. Mentalku rapuh. Dan jiwaku kosong jika tak ada Al-Qur`an padaku, pada setiap langkah, di siang dan malamku, di senang dan sedihku, di gembira dan deritaku. Bolehkah aku tetap berada sedekat mungkin dengan Al-Qur`an, untuk memelihara cintaku kepadanya serta takjubku kepada Maha Penciptanya.”

“Kalau memang syaratnya adalah pikiranku tidak boleh bekerja sembarangan, agar aku tidak tergelincir-gelincir untuk menafsirkan Al-Qur`an dengan pendapatku sendiri, baiklah kucoba untuk meredam kerja akalku. Asalkan aku boleh menyayangi Al-Qur`an, membaca-bacanya, melagukannya, mendendangkannya, merengeng-rengengkannya untuk memperkuat jiwaku dalam menjalani perjuangan hidup.”

“Tapi mana mungkin seseorang hanya membaca Al-Qur`an dengan bibirnya, tanpa hati dan pikirannya ikut terlibat. Sengaja atau tak sengaja, meniati atau tidak, hati langsung bergetar dan akal langsung bekerja. Umpamanya terbaca “Alif Lam Mim[1] (Al-Baqarah, Luqman, As-Sajdah), mungkinkah yang terjadi hanya telingaku mendengar suara mulutku? Tanpa perasaan dan pikiran tersentuh dan tergerak olehnya? Kalau atas setiap titik makna Al-Qur`an semua Ulama mengatakan “hanya Allah yang maha mengetahui arti dan maksudnya”: bolehkah aku mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan manfaat baiknya untuk hidupku? Meskipun takkan pernah kutahu apa makna tiga huruf itu sesungguhnya?

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra