Dunia Hanya Rest Area

Manusia perlu sadar bahwa mereka akan mudik ke kampung halaman sejatinya yaitu surga. Dunia ini hanyalah rest area, tempat istirahat sejenak.
Manusia perlu sadar bahwa mereka akan mudik ke kampung halaman sejatinya yaitu surga. Dunia ini hanyalah rest area, tempat istirahat sejenak.

Ya, malam ini adalah satu di antara rangkaian panjang jadwal Cak Nun dan KiaiKanjeng pada bulan Agustus ini sebagaimana juga pada bulan-bulan sebelumnya. Setelah kemarin Sinau Bareng di RS Rumkital Surabaya, malam ini Cak Nun dan KiaiKanjeng bergeser jauh ke barat tepatnya di Kabupaten Karanganyar ini.

Audiens sendiri sudah sejak lepas Magrib mulai memenuhi tanah sawah ini. Setiap pihak yang terlibat dan hadir rasanya memang membawa semangat masing-masing. Termasuk untuk penyelenggaraan acara ini. Selain pemilik sawah yang merelakan sawahnya buat jadi lokasi acara, para warga lain pun merelakan kamar mandi masing-masing untuk menjadi toilet umum.

Pasukan Banser NU pun demikian. Mereka menyambut kedatangan Cak Nun dan mengawalnya menuju panggung bersama narasumber lainnya. Sementara itu para petugas acara telah menjalankan tugas masing-masing:  petugas yang memimpin lagu Indonesia Raya, para pemuda yang melantunkan rangkaian shalwat, dan kemudian sambutan-sambutan.

Kini Cak Nun dan KiaiKanjeng sudah berada di panggung. Cak Nun didampingi Pak Bupati, Pak Manteb Sudarsono, dan jajaran Polres maupun Kodim, serta Mas Silok. Dan tak butuh waktu lama sejak Cak Nun tiba di panggung dengan segera menyapa jamaah hingga mereka memancarkan wajah gembira serta banyak tertawa karena kalimat-kalimat Cak Nun yang mengundang tawa lepas tapi sekaligus menyegarkan dan menghidupkan jiwa mereka.

Komunikasi yang hidup itu pun kemudian mengalirkan pesan-pesan yang membuka ruang-ruang pemikiran. “Hidup itu kotak-kotak atau bunder? Setiap titik adalah sudut. Bulatnya bumi engkau tunjuk manapun itu adalah punjer atau pusatnya. Namanya juga bulat.” Lalu diterangkan pula oleh Cak Nun tentang matriks lima hukum Islam (Wajib, Sunnah, Makruh, Haram, dan Mubah) yang itu bukan hanya untuk pelaksanaan badah Mahdloh dan Muamalah saja, melainkan pedoman dalam hal apa saja. Dalam hidup ini kita mesti punya prioritas Wajib hingga Mubah itu.

Hal lain yang juga diajakkan oleh Cak Nun kepada seluruh jamaah adalah menyadari kembali bahwa kita akan mudik ke kampung halaman sejati kita yaitu surga. Dunia ini adalah tempat transit, tempat peristirahatan sejenak, atau rest area. Sesudah sejenak berada di situ, manusia akan meneruskan perjalanannya.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image