Wedang Uwuh (50)

Dua Sapi Betina

Kedaulatan Rakyat, 10 Oktober 2017

Pèncèng yang paling penasaran apa maksud simbah KR digelari “Panembahan Mangkunegoro”. Masalahnya Simbah sedang berada di sebuah dusun pelosok, mengunjungi cucunya yang berulang tahun tanggal 7 Oktober kemarin. Ditelepon nggak bisa, komunikasi pakai gadget Simbahnya gaptek. Namanya juga generasi jadul.

Tapi atas bantuan cucunya itu akhirnya Pèncèng bisa komunikasi, chatting grathul-grathul karena sinyalnya byar-pet di dusun itu. Meskipun serba singkat padat, bisa berlangsung juga tanya jawab antara Pèncèng dengan Simbah.

“Kok Panembahan Mangkunegoro maksud Simbah gimana?”

“Karena Yogya itu sesepuhnya Negara Indonesia. Khususnya Kedaulatan Rakyat, dia sabar mengasuh semua jenis pemerintahan, rezim, penguasa dan kepemimpinan model apapun sejak 1946 hingga sekarang”

“Mengasuh gimana, Mbah?”

“Memangku. Menggendong. Sangat sabar mengawal semua jenis perilaku Negara ini. Tidak pernah marah. Kalau menegur caranya sangat halus. Di dalam sistem budaya kepengasuhan, tidak ada budaya oposisi, antagonisme atau apalagi pemberontakan”

“Itu yang membuat KR awet dan lestari ya Mbah?”

“Ya. Tapi bukan tidak ada risikonya. Negara yang diasuh oleh Panembahan Mangkunegoro ini mengalami perkembangan modernitas yang liberal, membuka pintu lebar-lebar bagi masuknya globalisasi. Pengaruhnya sampai pada berubahnya pandangan dan tujuan hidup. Dalam situasi liberal itu KR dituding sebagai koran kolaborator, kompromis bahkan dituduh pembebek Pemerintah”

“Lantas bagaimana KR menanggapi tudingan-tudingan itu?”

“Ya dengan patrap Panembahan Mangkunegoro. Tidak reaktif. Sabar dan arif. Semua di Negara ini adalah anak asuhnya”

Pèncèng memperdetail pertanyaannya: “Yang diasuh oleh KR itu Negara Indonesia saja atau termasuk Yogya? Baik sebagai Daerah Istimewa maupun Kraton Ngayogyakarta?”

Simbah menjawab, “Sebenarnya KR secara kultural bekerjasama dengan Yogya mengasuh Indonésia. Tapi kebetulan Yogya sendiri sedang punya kesibukan panjang dengan sejumlah persoalan internalnya”

“Jadi gimana kalau begitu Mbah?”

“Jadinya Panembahan Mangkunegoro juga harus sambi mengasuh Yogya. Makanya Simbah bersyukur ulang tahun Yogya sama dengan ulang tahun cucu Simbah. Apalagi pas angka istimewa: 7102017. Pas ulang tahun Yogya Simbah pas tidak di Yogya”

“Seneng karena pas ulang tahun Yogya Simbah tidak di Yogya? Atau gimana maksud Simbah?”

“Semacam itu. Simbah kan kadang-kadang dianggap Dukun. Nanti pasti banyak yang nanya apa makna 7 Oktober 2017, hari istimewa 7102017…”

“Lho memang spesial tho Mbah. Pasti ada maknanya”

“Memang pasti bermakna. Tidak ada sesuatu yang tidak bermakna dalam kehidupan. Apalagi angka-angka spesial seperti itu”

“Apa maknanya menurut Simbah?”

“Setiap orang berhak dan bisa memaknai. Tetapi kebenaran pemaknaan yang dilakukan oleh siapapun tidak bisa dipertandingkan benar salahnya. Manusia hidup dalam relativitas. Tidak bisa lahir darinya kepastian yang tahan waktu dan keabadian…”

“Saya tahu itu Mbah. Saya cuma pengin dengar pemaknaan Simbah. Tidak berarti saya akan mempercayainya seperti mengimani ayat-ayat suci”

Simbah menjelaskan serius, meskipun chat-nya terpotong-potong.

“Semua hal bisa dikaitkan, terkait atau dikait-kaitkan dengan semua hal yang lain. Orang Jawa sudah lama punya tradisi othak-athik gathuk. Karena Tuhan itu satu, maka semua ciptaan hanya punya satu kemungkinan, yakni menyatu. Men-satu. Nyawiji. Manunggal. Ambil apa saja, pasti ada gathukan-nya dengan apa saja lainnya. Misalnya angka 2 berada di tengah dan merupakan poros 7102017. Poros jagat hidup bagi orang Jawa adalah Manunggaling kawula lan Gusti. Dua menyatu. Makna itu bisa dipakai untuk lelaku batin pribadi, tapi bisa juga untuk prinsip kepemimpinan Negara”

“Waduh gimana itu Mbah?”

“Bagi setiap pemimpin, di level manapun dan dalam bentuk apapun, Raja atau Presiden atau Direktur: di dalam dadanya berlangsung penyatuan antara Gusti dengan rakyatnya. Kalau si pemimpin menyakiti rakyatnya, Gusti Allah marah. Kalau si pemimpin mengkhianati Gustinya, rakyat bergolak”

“Jadi Manunggaling kawula lan Gusti itu bukan menyatunya jiwa seorang hamba dengan Tuhan?”

“Begitu juga boleh. Kita tidak perlu mempertengkarkan pemaknaan, tafsir atau interpretasi. Yang utama mencari kebaikan bersama di antara sesama hamba Tuhan. Poros 2 di 7102017 juga bisa saja diartikan sebagai petunjuk tentang dua sapi betina…”

“Lho…”, Pèncèng tidak mengerti.

“Indonesia maupun Yogya sama-sama disibukkan oleh persoalan-persoalan yang porosnya adalah dua sapi betina itu. Ada sapi betina di Jakarta, ada sapi betina di Yogya…”

“Tapi dari 7102017 bagian mana sapi betina itu diambil, Mbah?”

“Coba dari 7102017 ambil 710, 7102, atau eksplorasi ke 721, 217, 720, 717”

“Maksudnya gimana Mbah?”

“Buka Al-Qur`an. Ada sapi betina untuk disembelih sebagai cara yang ditawarkan oleh Allah siapa yang mencuri. Ada yang menyalakan api, kemudian Allah memadamkan cahayanya. Ada yang tidak bersyukur atas sumber penghidupan di tanahnya. Ada yang fasiq karena melanggar janji. Ada syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya…”

Pèncèng memotong, “Wah Mbah, penafsiran yang ini bisa menimbulkan bias dan kontroversi serius”

Simbah menjawab, “Lho jangan tergesa-gesa. Karakter Gunung Merapi kita kan juga sapi. Lambang kesuburan…”

“Lho kata Simbah dulu wajah Merapi itu campuran antara sapi dengan macan…”

“Makanya Sapi dengan Macan harus manunggal. Jangan ada salah satu yang meninggalkan, menyakiti dan mengkhianati…”.

Pèncèng yang paling penasaran apa maksud simbah KR digelari “Panembahan Mangkunegoro”. Masalahnya Simbah sedang berada di sebuah dusun pelosok, mengunjungi cucunya yang berulang tahun tanggal 7 Oktober kemarin. Ditelepon nggak bisa, komunikasi pakai gadget Simbahnya gaptek. Namanya juga generasi…