Daur-II • 248

Dongeng Setan

Tidak ada apapun dalam kehidupan ini yang tidak berada dalam lingkup Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh, dan Haram. Dari urusan sebutir beras hingga memilih pemimpin Negara. Dari setetes oli motor hingga tambang emas. Dari pagi-pagi potong kuku kaki hingga Undang-undang Dasar sebuah Negara.

Maka dengan perintah Allah yang awal “Iqra`” sesungguhnya telah dibukakan seluruh pintu pengetahuan jagat raya sampai makrifat langit yang entah berada di mana sebenarnya menurut 14 abad Iqra` Kaum Muslimin selama ini. Sampai hari ini aplikasi dan eksplorasi Iqra` di kalangan Ummat Islam tentu menghasilkan banyak kenikmatan, keberkahan, kemudahan dan kenyamanan hidup.

“Tetapi jangan lupa”, kata Mbah Sot menurut cerita Pakda Brakodin, yang dicatat oleh Seger, “produk yang tak kalah besar dan menimbulkan keributan di antara Kaum Muslimin sendiri adalah lahirnya perbedaan faham yang tak bisa dikelola dalam silaturahmi sosial. Aliran-aliran pemikiran. Madzhab-madzhab. Golongan-golongan. Aku-aku bersebarangan dengan kau-kau dan dia-dia. Kami-kami yang tidak mau shalat berjamaah dengan mereka-mereka”

Jitul memotong: “Dan kita Kaum Muslimin hari ini tidak menjadi lebih dewasa. Tidak berkembang rasa syukur untuk menikmati ragam-ragam pandangan. Tidak menjadi bergembira oleh variasi dan mozaik”

“Allah menciptakan berbagai-bagai makhluk”, Junit menambahkan, “masing-masing golongan di antara Kaum Muslimin mau sebaliknya. Penghuni bumi ini diusahakan satu jenis saja, yakni yang seperti suatu golongan”.

Dulu Mbah Sot mengingatkan sesuatu yang tampaknya sangat bersajaha. Yakni sebuah firman: “Apabila kamu membaca Al-Qur`an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk”. [1] (An-Nahl: 98). “Sampai lebih dari sepuluh abad kita ber-Iqra`”, kata Mbah Sot, “diam-diam sebenarnya kita masih beranggapan bahwa Setan adalah dongeng di luar diri kita”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra