Daur-II • 291

Dismanajemen Do

“Allah menciptakan mozaik bunyi, peta nada dan struktur irama. Manusia, yang dijadikan sebagian dari pelakunya, juga dianugerahi sumber dan pengolah suara. Kemudian manusia mengalaminya, menikmatinya dan secara sengaja atau tak sengaja merumuskannya”.

“Komposisi dan aransemen dari seluruh kemungkinan bunyi itu, tidak bisa dibatalkan atau diharamkan oleh siapapun termasuk manusia. Bahkan manusia mensyukurinya, mencoba memahaminya, memetakannya dan menyebutnya sebagai musik. Manusia menghayati musik alam, menirunya, kemudian mengkreatifinya, sehingga muncullah musik kebudayaan, yang sebagian darinya disebut musik kesenian atau seni musik.”

“Setiap anak balita belajar berjalan menapaki tangga nada, mendaki, menuruni, berbalik, meloncat, melompat, mengulang. Nanti di Taman Kanak-kanak mulai diperkenalkan bahwa bunyi yang mereka alami dirumuskan dengan rumus do-re-mi-fa-sol-la-si. Setelah menapaki SD, SMP atau SMA, sebagian mereka mengetahui bahwa 5`5`5` 4`3`2` 3`2`1`adalah notasi akhir lagu kebangsaan kita: Hiduplah Indonesia Raya”.

***

“Akan tetapi untuk kelak menjadi Sarjana, Sarjana Utama, Profesor Doktor, tidak ada persyaratan untuk harus tahu apa itu Do dan di mana letaknya di dalam mapping nilai kehidupan manusia. Untuk menjadi Intelektual atau Alim Ulama pada umumnya, menjadi tokoh-tokoh berbagai bidang, bahkan untuk menjadi Pejabat Negara sampai ke yang paling puncak — tidak ada syarat rukun ilmu dan pengetahuan tentang Do yang harus dipenuhi”.

“Untuk menjadi Doktor, diakui sebagai Profesor atau dijunjung sebagai Mursyid suatu Kelompok Thariqat, Maula dan Syekh suatu jamaah Salikin, menjadi pemimpin masyarakat atau pejabat Negara — tidak menjadi masalah meskipun mereka tidak tahu, tidak mengalami, menikmati atau apalagi menguraikan secara ilmu dunia do-re-mi-fa-sol-la-si-do, semesta ji-ro-pat-mo-nem-pi, apalagi planet-planet keindahan Bayati, Shoba, Nahawan, Hijaz, Rost, Sika dan Jiharkah, beserta detail anak-anak tangganya — yang bisa membuat pendengarnya serasa berada di dalam kuburan atau di hamparan langit”.

***

Mungkin karena gatal perasaannya selama mencatat itu semua, Seger menginterupsi: “Apa pasalnya kok Mbah Sot menyuruh kita belajar kembali dari Do?”

Tarmihim yang menjawab: “Mungkin karena kita ini menjadi Adam saja tak bisa-bisa, apalagi menjadi Khalifah. Kita ini menjadi manusia yang memanusiakan manusia saja belum bisa, bagaimana mungkin meningkat ke posisi hamba Tuhan? Kita ini membangun tata kemanusiaan saja belum mampu, apalagi peradaban penyembah Tuhan. Terlebih lagi betapa mungkin mendesain dan menerapkan Khilafah?”

Sundusin menambahkan: “Mbah Sot kan pernah menguraikan evolusi kreatif dan fungsional makhluk Tuhan dari level Insan atau Nas (manusia) menuju Abdullah (hamba Tuhan) sampai ke Khalifatullah (pemanggul Khilafah amanah Allah)”.

Dan Brakodin menyempurnakan: “Kalau para pemimpin dan kaum cerdik pandai masih terserimpet dismanagemen Do dalam pemahaman tentang manusia dan ilmu kehidupan, sehingga masih mempertentangkan Khilafah dengan Pancasila, Islam dengan Demokrasi, Baldah dengan Republik — maka wajar kalau rekomendasi Mbah Sot adalah belajar kembali dari Do”.

Kudus, 5 Desember 2017