Ada juga guru yang kreatif dan kok ya bisa punya ide seperti itu: memberi sanksi cukur gundul rambut muridnya kalau tak mau datang ke Maiyahan.
Ada juga guru yang kreatif dan kok ya bisa punya ide seperti itu: memberi sanksi cukur gundul rambut muridnya kalau tak mau datang ke Maiyahan.

Cara jamaah diperjalankan dengan atau menuju Maiyah pun bermacam-macam dan cukup unik. Ada yang berawal dari YouTube. Ada yang berawal dari melihat konflik perseteruan dari dua tokoh. Kemudian Mbah Nun menjadi penengah dari kasus tersebut. Berawal dari Mbah Nun yang menjadi penengah dan tidak berpihak tersebut, jamaah ini mulai tertarik dengan Mbah Nun dan semakin ingin mencari tahu tentang Mbah Nun. Hingga akhirnya ia dipertemukan dengan Maiyah.

Ada juga yang ikut Maiyah berawal dari disuruh gurunya. Kalau tidak ikut Maiyahan, ia akan digundul. “Karena saya tidak mau digundul, saya ikut Maiyahan.” Beberapa kalimat yang paling dia ingat dari Maiyahan adalah tentang sebuah pesan jangan pernah meremehkan apapun. Sekecil apapun itu. Juga tentang kalimat yang disampaikan Cak Fuad. Kalau kerasnya batu saja bisa terkalahkan oleh tetesan air, apalagi dengan kerasnya hati manusia yang bisa dibuka oleh sentuhan ilmu.

Apapun yang menjadi sebab perjalanan itu, yang jelas mereka telah disatukan oleh gelombang yang sama. “Kalau Njenengan tidak berada dalam gelombang yang sama, tidak mungkin bisa betah dan kerasan di sini,” begitu kurang lebih yang dituturkan Mas Saiful, salah satu penggiat Padhangmbulan.

Meminjam bahasa Mas Sabrang, orang-orang yang sefrekuensi pasti akan bertemu juga. Mereka akan dikumpulkan dalam gelombang yang sama.

Dipersatukan dalam Gelombang yang Sama