Dipaksa Ndlosor

Semenjak pertengahan SMK, saya sudah mengenal Maiyah. Sampai sekarang setelah lulus kuliah pun, alhamdulillah saya juga masih istiqomah mengais jutaan liter ilmu-ilmu yang terkandung dalam “Sumur Maiyah”. Kalau ditanya bagaimana ceritanya kok bisa saya bersinggungan dengan Maiyah,  Saya sendiri bingung menjawabnya. Yang saya ingat waktu itu kakak saya sering memutar beberapa lagu yang dari segi musik dan liriknya saya pandang sangat unik dan juga easy listening (belakangan saya baru tahu ternyata lagu-lagu yang diputar dulu adalah dari grup Gamelan KiaiKanjeng). Semakin seringnya kakak saya memutar lagu-lagu KiaiKanjeng, diam-diam saya hafal beberapa bait liriknya.

Pada akhirnya saya pun penasaran dengan siapa yang membawakan lagu-lagu yang sering diputar tersebut. Singkat cerita saya mendapatkan informasi dari kakak saya bahwa lagu tersebut adalah dari Cak Nun dan KiaiKanjeng. Cak Nun? Kiai Kanjeng? Memang siapa mereka? Kakak saya pun menjelaskan bahwa Cak Nun adalah ayahanda dari vokalis grup band Letto, Noe. Dari situ saya langsung googling mengenai Noe Letto dan Cak Nun, karena kebetulan (“kebenaran”) Letto adalah band favorit saya semenjak awal SMP.

Karena waktu itu saya masih berstatus pelajar di salah satu sekolah kejuruan di Surabaya, pada akhir tahun 2011 saya diharuskan untuk melakukan Kerja Praktek Industri (magang) di salah satu institusi pemerintahan di kota Jakarta. Singkat cerita karena saya sedang melakukan magang di Jakarta, otomatis saya menjadi sering mendapat wejangan melalui handphone dari orang tua serta kakak saya.

Salah satu wejangan yang sangat “ajaib” bagi saya, adalah tiba-tiba kakak saya bertanya apakah tempat kost saya dekat dengan Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Kakak saya meminta, kalau jaraknya tidak terlalu jauh ada baiknya saya main-main ke sana pada hari Jumat malam karena ada Cak Nun di sana. Tetapi sayangnya karena jarak tempat kost saya dengan Taman Ismail Marzuki jauh, saya urung untuk kesana. Alhasil dari situ, saya semakin penasaran dengan sosok Cak Nun.

Akhirnya, bermodalkan koneksi internet kantor yang sangat kencang, saya mencari di Google dan YouTube mengenai Cak Nun, Noe Letto serta KiaiKanjeng. Dalam proses mencari, tiba-tiba saya diperjalankan dalam sebuah video dokumentasi Mocopat Syafaat yang sedang membahas sebuah drama yang pernah dibawakan oleh Cak Nun, KiaiKanjeng serta Letto. Ada salah satu dialog drama yang sangat menancap di otak saya sampai sekarang.

Saat itu Pak Joko Kamto menirukan salah satu petikan dialog yang kurang lebihnya berbunyi, “Mati-matian orang mencari yang pasti dalam hidup, padahal yang pasti dalam hidup adalah mati”. JLEB!!. Wasyuuuuuuu. Kira-kira seperti itu respons pertama saya mendengar kalimat tersebut. Berulang-ulang kalimat itu saya putar kembali untuk mendalami maksudnya dan semakin saya penasaran untuk mencari video-video Maiyahan lainnya. Kira-kira dari situlah ceritanya bagaimana saya mengenal Maiyah

Tikungan Maiyah

Menginjak kuliah membuat saya semakin sering menghadiri acara-acara Maiyahan Bangbang Wetan serta acara-acara maiyahan lainnya yang diselenggarakan di Jawa Timur. Dalam perjalanan menggali ilmu-ilmu Maiyah semakin membuat saya resah terhadap diri saya sendiri. Resah karena semakin saya mentadabburi Islam melalui Maiyah, banyak sisi keputusan serta perencanaan hidup saya ternyata tidak dibangun dengan fondasi dan kontruksi yang jelas. Banyak sekali jarak pandang, cara pandang, sisi pandang, serta resolusi pandang yang kurang tepat dalam setiap keputusan kehidupan dalam lingkup individu, keluarga, serta masyarakat.

Dengan bermodalkan beberapa ilmu yang saya dapatkan dari oase Maiyah, membuat saya nekat melakukan rekonstruksi terhadap keputusan serta perencanaan hidup saya. Salah satu nilai yang saya tadabburi dari Islam melalui Maiyah dan Mbah Nun adalah “Jangan hanya menjadi follower (pengikut), jadilah produsen”. Dari situ saya tarik garis nilai terhadap keputusan rencana hidup saya. Di awal perkuliahan saya menargetkan setelah lulus kuliah akan pergi ke Jakarta untuk bekerja di salah satu media televisi. Namun pada saat lulus kuliah, semua niat itu saya urungkan. Dan saya ganti dengan memulai usaha sendiri di bidang Multimedia Services.

Saat itu saya sendiri heran dan berpikir bahwa keputusan yang saya ambil sangat radikal dan revolusioner. Bagaimana tidak, jika dilihat dari cara berpikir linier-kognitif, saya tidak mempunyai kecakapan untuk memulai sebuah usaha. Semua faktor penting dalam “modal” usaha tidak satu pun yang terpenuhi. Modal uang, saya tak punya. Modal relasi, sangat jauh dari kata cukup. Modal ilmu bisnis pun nul puthul. Tetapi saat itu satu-satunya modal yang saya miliki adalah keyakinan atas Allah.

Fi-Sabilillah

Dua minggu setelah wisuda, saya langsung menghubungi salah seorang teman, yang memang dari awal perkuliahan saya mengenal dia, yang memang memiliki bakat dan juga cita-cita mendirikan sebuah usaha. Sebut saja teman saya dengan nama si Fulan. Bersama si Fulan, saya berkomitmen untuk mendirikan usaha berdua. Singkat cerita selama tiga minggu, kami sudah memiliki empat buah konsep bisnis di bidang jasa Multimedia Services  yang siap untuk dijalankan.

Dengan bermodalkan kata khas arek Surboyo yaitu “nekat”, kami berdua langsung mencoba memasarkan empat produk jasa kami kepada masyarakat. Kami menggunakan cara pemasaran door to door yang sangat melelahkan selama enam bulan pertama. Dalam perjalanan selama enam bulan itu, bahan bakar utama saya saat itu adalah salah satu kalimat dari Mbah Nun yang kira-kira seperti ini bunyinya “Allah tidak akan menciptakan cacing, tanpa terlebih dahulu menyiapkan tanah. Tak mungkin melahirkan ikan tanpa meng-ada-kan air”.

Dan lagi-lagi saya mengalami ayat Allah yang disampaikan oleh Mbah Nun melalui acara Maiyah. Ayat Allah tentang jalan rezeki min haitsu la yahtasib memang benar adanya. Secara “ajaib”, pada bulan keenam Allah mengirimkan tiga orang malaikat yang tiba-tiba diperjalankan dan bersedia untuk menjadi investor utama pada tiga dari empat produk jasa multimedia kami. Masing-masing investor bahkan bersedia untuk support dana yang nilainya sangat di luar dugaaan kami sebelumnya. “Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?”.

“Dunia adalah getaran yang mengalir, serta aliran yang bergetar”. Begitulah salah satu kalimat yang lagi-lagi saya tadabburi dari Mbah Nun. Di luar dugaan dua orang pemuda yang berhasil menggaet para investor hanya dalam kurun waktu kurang lebih enam bulan, ternyata harus mengalami hukum dunia yang bergetar dalam aliran serta aliran yang bergetar. Pada bulan kesepuluh dalam perjalanan bisnis kami, di tengah penggodokan dan finalisasi kerjasama dengan para investor, tiba-tiba kami dikagetkan dengan mundurnya satu per satu para investor dikarenakan banyak faktor.

Di momen tersebut saya menjadi ndlosor, tersungkur, terjerembab dalam kesadaran nilai yang saya peroleh dari Allah lewat Islam, Maiyah, Mbah Nun. Kesadaran nilai bahwa sebenarnya manusia tidak bisa apa-apa. Tak punya kuasa, kedaulatan dan kekuasaan atas dirinya sendiri. Bagaimana saya bisa bangga terhadap datangnya investor secara tiba-tiba, wong untuk bisa memastikan investor jadi mengucuran dana atau tidak saja ku tak bisa.

Bagaimana bisa saya bangga atas momentum tercapainya investor selama enam bulan, lha wong sesungguhnya momentum ruang dan waktu sendiri saja ternyata milik-Nya. Bagaimana bisa saya bangga atas prestasi di dunia, wong ternyata saya dan dunia sendiri merupakan milik bahkan mungkin Engkau sendiri Yaa Allah. La ilaha illallah.

Ya Allah. Ampuuuuuuun. Engkau Satu tetapi sesungguhnya “tidak benar-benar Satu”. Engkau Satu tetapi ada di mana-mana, mengepungku.

Semenjak pertengahan SMK, saya sudah mengenal Maiyah. Sampai sekarang setelah lulus kuliah pun, alhamdulillah saya juga masih istiqomah mengais jutaan liter ilmu-ilmu yang terkandung dalam “Sumur Maiyah”. Kalau ditanya bagaimana ceritanya kok bisa saya bersinggungan dengan Maiyah,  Saya sendiri…