Digitalisasi Talbis Informasi

Nanti tolong dijaga reaksi Sampeyan, jangan sembrono seperti tadi, kalau saya laporkan hasil penelitian saya tentang Revolusi Industri Keempat, Digital Technology, bainal IT wal OT, antara Information Tech dengan Operational Tech, pergeseran otomasi dari Kantor-kantor ke Pabrik-pabrik, revolusi pemudahan sekaligus radikalisasi pengambrukan, hari-hari dan malam-malam kehidupan manusia akan disibukkan oleh lalu lalang kejayaan dan kehancuran bersaling-silang, bahkan sudah tidak ada ikatan siang atau malam, ruang sudah diperas dan waktu sudah dilipat. Dan itu semua bukan terletak di masa depan. Bukan skala dekade. Apalagi kurun atau era. Ini sudah dan sedang berlangsung.

Daur 109 – Bainal IT wal OT, seperti menceritakan kisah nyata keadaan yang terjadi pada peradaban di bumi saat ini. Peradaban yang sangat bergantung pada digitalisasi informasi dan kecanggihan mesin. Interaksi sosial tanpa batas, dan keindahan-keindahan artifisial oleh pemiguraan media. Yang sayangnya tidak justru malah mendekatkan kita dengan pengetahuan untuk menemukan Tuhan, namun justru menyesatkan manusia pada kesibukan-kesibukan duniawi.

Teknologi telah mengakslerasi perkembangan peradaban sejak pertama kali ia difungsikan. Penemuan demi penemuan seolah menjadi bukti bahwa manusia mampu menemukan ujung dari batasan-batasan kemampuan yang oleh generasi sebelumnya belum pernah terpikirkan. Sejak pertama kalinya listrik berhasil dihantarkan, mesin-mesin industri, komputer canggih, teleskop yang mampu menjelajah galaksi, mikroskop penembus inti atom, telepon pintar, dan seterusnya, teknologi menjadi faktor vital dari perubahan kehidupan bermasyarakat.

Istilah Revolusi Industri Keempat disebut oleh pencetusnya sebagai transformasi manusia secara menyeluruh yang saat ini tengah kita hadapi telah mengubah pandangan hidup manusia, aktivitas bisnis atau pekerjaan, hingga hubungan interpersonal. Perubahan atau revolusi bisa terjadi tidak lagi dihitung dalam satuan rezim pemerintahan berkuasa, puluhan, atau ratusan tahun; namun bisa hanya hitungan hari bahkan dalam jam saja. Bukan hanya cepat, transformasi ini menjadi eksponen dari berbagai faktor, sehingga perubahan yang dihasilkan tidak hanya bersifat linier tetapi cakupannya berkali lipat. Termasuk memungkinkan terjadinya perombakan besar-besaran seluruh sistem suatu negara hingga ke tingkat individual masyarakatnya.

Ruang Sudah Diperas, Waktu Sudah Dilipat

Teknologi Informasi atau Information Technology (IT) hidup berdampingan bersama manusia modern sejak bangun tidur hingga terlelap. Keterlibatannya disejajarkan dengan kebutuhan utama seperti makan dan pakaian. Untuk mengetahui peristiwa, manusia hanya perlu memasukkan kata kunci dalam mesin pencari, beberapa detik kemudian layar telepon genggam akan menampilkan apapun yang dibutuhkan. Ensiklopedi menjadi sangat mudah diakses dalam kepal tangan, termasuk rangkuman kitab suci dan risalah-risalah nabi. Informasi bertebaran bebas dalam ruang maya, tidak lagi ada perantara yang menentukan kadar kepantasan dan kepatutan, media menjejalkan sangat banyak hal dengan syarat dan ketentuan: tidak ada tanggung jawab atas efek samping yang ditimbulkan pada pembaca atas konten yang disediakan. Peran IT sebagai perantara hubungan antar manusia yang sebelumnya terbatas ruang dan waktu saat ini memudahkan transfer komunikasi dan informasi. Tidak ada lagi jauh atau dekat. “Ruang sudah diperas, waktu sudah dilipat”.

Sekitar milenium kedua, kita kenal dan mulai sering mengakrabi medium komunikasi bernama Media Sosial. Berbagai jejaring berebut inovasi fitur untuk punya masyarakatnya sendiri. Di Indonesia jejaring online menjadi populer seiring kultur masyarakatnya yang senang mengobrol dan bersosialisasi. Inilah kemudian menempatkan Jakarta, Ibu Kota Indonesia, menjadi kota paling aktif menggunakan salah satu jejaring sosial yakni Twitter. Dengan kata lain, Indonesia menjadi negara menggiurkan oleh berbagai penyedia layanan jejaring sosial karena pasar dan perkembangannya yang cukup pesat. Dalam era yang serba digital, masyarakat sosial media sangat diperhitungkan. Besaran pasar online dan interaksi yang ditimbulkan menjadi komoditas dunia. Materi informasi tidak lagi disajikan hanya dalam bentuk fakta-fakta, melainkan dipermak sedemikian rupa sehingga layak untuk “dijual”.

“Data is The Oil of 21st Century”

“Data serupa minyak di abad 21”. Ungkapan matematikawan Clive Humby tersebut bukan terlalu hiperbolis, sebab saat ini data dan informasi media memiliki peranan penting dalam berbagai hal. Kumpulan data-data setiap individu menjadi landasan penting dalam riset pasar untuk kepentingan bisnis, keperluan pemetaan suara dalam pemilihan umum, perubahan kebijakan pemerintahan, pembentukan opini publik dan sebagainya. Perubahan besar yang terjadi bahkan tidak jarang dimulai dari word-of-mouth dunia maya. Persebaran informasi masif yang dilakukan oleh media tidak terbendung batas etika pers konvensional, kurasi dan akurasinya tidak jelas. Pemilik akses informasi atau pemegang regulasi media sangat berpengaruh atas apa saja yang ditampilkan kepada masyarakat. Maka jika di tangan yang tepat, konten dan mediumnya menjadi angin segar bagi perbaikan kualitas informasi edukatif yang disebar ke publik. Sebaliknya, komoditas informasi justru akan menambah kebingungan dan menguntungkan beberapa pihak saja.

Pada kesempatan Bangbang Wetan bulan Oktober 2016 yang lalu ketika mengkonfirmasi keramaian bertema pilkada Jakarta yang terjadi, Mas Sabrang sempat mengungkapkan bahwa masyarakat kita masih dalam kategori ‘Masyarakat Remaja’. Karakter masyarakat ‘pacaran’ yang sampai sekarang melekat di lingkungan kita menguntungkan sebagian pihak untuk menggiring opini dalam memilih calon pemimpin dengan janji dan hal-hal yang sifatnya psikologis. Menawarkan bualan melalui kata-kata cukup membuai bak rayuan antara dua orang yang sedang berpacaran. Sedang hanya sedikit Masyarakat Dewasa – Masyarakat ‘Kawin’, yang mengedepankan logika berpikir, merespon informasi dengan berbagai sudut pandang dan sangat realistis. Tidak mudah dibohongi hanya oleh apa yang ditampilkan di media.

Sebagai komoditas, konten informasi yang disebar melalui media sosial dimodifikasi sedemikian rupa sehingga sangat mengundang klik dari pemirsanya. Karena orientasinya adalah jumlah kunjungan terhadap situs tersebut, maka pemilik situs mengusahakan agar netizen penasaran dengan isi berita. Tidak jarang pemilik situs mengubah, memelintir fakta, dan memotong bagian-bagian tertentu dengan tujuan sensasionalnya berita yang diangkat. Inilah yang saat ini menjadi penyakit baru di kalangan masyarakat online: Hoax. Yang lebih menyedihkan lagi, para penikmat rumor teryata belum menyadari bahwa dari respon mereka-lah media hoax mendapatkan keuntungan melalui iklan yang telah terpasang. Ribuan dolar pendapatan dari iklan per-bulan dengan mudahnya bisa dihasilkan oleh mereka, hanya, dengan menyebar sampah-sampah informasi.

Maiyah Sebagai Filter Talbis Informasi

Penyikapan atas sampah informasi menjadi sangat mengkhawatirkan sebab tidak jarang dari rumor dunia maya itu mewujud sikap di masyarakat saat bersosialisasi satu dengan yang lain. Aksi bela membela, tentang menentang, dan berbagai aksi lain kadang berujung pada kegaduhan yang menimbulkan lebih banyak keresahan. Masyarakat jadi sangat mudah dikotakkan persepsinya, dan menjadi sangat menghakimi manusia lain hanya dari segi tampilan luar.

Sungguh dahsyat bahwa makhluk manusia yang sangat diandalkan oleh Tuhan sebagai ahsanu taqwim ini, justru berada paling terbelakang di dalam memelihara kesadaran tentang nilai-nilai. Kalau ada di antara mereka mengemukakan nilai, lainnya menyebut ‘sok filosofis’. Kalau menuturkan hal-hal-hal rohani, mereka merespons sinis dengan kata ‘sok suci’. Kalau diomongin tentang perlunya perbaikan tata kelola antar manusia, dibilang ‘sok moralis’. Dan kalau dibilangi tentang contoh-contoh kehancuran, mereka menghardik ‘sok pinter…

Di berbagai kesempatan Maiyahan, kekacauan berpikir menjadi salah satu fokus utama yang diformulasikan bersama penanggulangannya. “Kiai Muzammil menyebut satu terminologi yaitu “kekacauan berpikir” dan kosakata Arab yang dipakai untuk ini adalah talbis. Talbis biasanya diartikan mencampuradukkan antara yang benar (haq) dengan yang salah (batil). Tentang kekacauan berpikir ini, Al-Quran menyatakan: Wa laa talbisul haqqa bil baathili wa taktumul haqqa wa antum ta’lamun. Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui”. Hoax atau rumor berisi hal negatif barangkali salah satu bentuk lain dari talbis berupa pengaburan informasi atau sop buntut yang disebar dari media ke media.

Cak Nun pada forum Padhang mBulan bulan Januari 2017 yang lalu sempat pula menyatakan bahwa kesalahan berpikir yang terjadi saat ini disebabkan karena terbolak-baliknya konsep tujuan dan sarana. Yang seharusnya tujuan dijadikan sarana, yang sarana dijadikan tujuan. Seperti halnya penggunaan media sebagai sarana penyebaran informasi yang harusnya mencerahkan tetapi dijadikan dengan tujuan mendulang keuntungan, tidak memperdulikan citra dan nilai yang diciderai. Dari media pula peran para penyampai kebaikan-kebaikan didandani sehingga justru dihakimi dengan terbuka dan tidak beretika. Tadabbur Cak Nun atas surat Ar-Rahman dalam kesempatan yang sama sekaligus mengingatkan kembali betapa Allah menempatkan fungsi sifatNya yakni Ar-Rahman (Maha Pengasih) untuk mengajarkan Al-Qur`an (‘allamal qur`an) pada manusia. Landasan sifat Pengasih harus disertakan kepada setiap penyampai pengetahuan dengan berbagai perhitungan teliti agar menghasilkan pemahaman yang utuh terhadap satu hal.

Sikap berhati-hati dan penuh kesadaran tersebut perlu kita asah dalam dunia yang penuh ketidak-pastian. Setidaknya Maiyah menjadi madrasah yang memenuhkan diri dengan filter-filter dari permasalahan dunia. Sehingga setiap jamaah maiyah berperan pula sebagai Jannatul Maiyah: menjadi preview surga bagi sekitarnya. Epilog Daur 109 pada tiga paragraf akhir secara satir menjelaskan betapa komodifikasi Tuhan semakin marak dalam kehidupan. Mindset kita perlahan dikaburkan melalui keterpisahan antara Tuhan dengan urusan duniawi, sementara penyatuan keduanya berarti Tuhan atau Agama harus jadi bagian dari dunia bukan sebaliknya. Ketidak sesuaian berpikir yang terus menerus dijejalkan media secara perlahan membuat kita semakin terputus koneksi sebagai ciptaanNya. Padahal manusia-lah pewaris alam semesta yang rentang hidupnya bukan tentang habis-menghabisi sumber daya, namun tentang waris-mewariskan kebaikan. Semoga nilai-nilai kebaikan selalu abadi menemani kita hingga anak cucu Maiyah sepanjang zaman.

Yang lebih menyedihkan lagi, para penikmat rumor teryata belum menyadari bahwa dari respon mereka-lah media hoax mendapatkan keuntungan melalui iklan yang…