Dialektika Tak Kentara

(Secuil pengalaman bersama Cak Nun)

Entah bagaimana mengawali cerita ini. Bagi seorang anak yang mencari dirinya sendiri dan Tuhannya serta tak sengaja bersinggungan dengan sebuah nama. Muhammad Ainun Nadjib.

Anak itu berumur 10 tahun ketika ia menjadi lebih sering bercermin sambil mencubiti badannya sendiri seraya bertanya, “Siapakah aku?”. Baginya, kebingungan membedakan antara dirinya yang sedang bermain sepak bola di siang hari dan “aku” yang lain yang selalu menginterupsi pikiran dan berbicara di hatinya, adalah semacam secangkir cokelat hangat pengantar tidur. Hingga sampai pada ketika di mana ia menemukan kaset-kaset yang dibeli ayahnya. Emha Ainun Nadjib dan KiaiKanjeng. Entah siapa dan lagu apa, ia belum pernah tahu. Tapi diam-diam ia sering mendengarkan alunan musik, wirid, suluk, shalawat, dan syair-syair dalam kaset itu. Dan entah apa yang merasuk di anak itu, jika tiba-tiba dia membacakan puisi-puisi karangan Emha Ainun Nadjib di depan kelas saat kelas 5 SD. Puisi yang tentu asing bagi bahkan gurunya saat itu.

Waktu berjalan, si anak tetap juga berjalan mencari Tuhan dan dirinya. Diselaminya kitab weda dan injil sedari saat ia belum sunat. Didatanginya kajian-kajian ilmiah dan dibukanya kitab-kitab di ma’had untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang sungguh kadang amat menggelikannya, dan terkadang amat menghimpitnya. Jujur diketahui, bahwa hidup yang diwarnai pertanyaan yang sama dari SD hingga SMA, sungguh kadang menjadikan diri tak tenang. Tapi apalah daya. Pertanyaan tetap membatu dan tak pernah menguap. Hingga akhirnya perjalanannya ditemukan pada serat-serat Jawa, yang awalnya juga dibacanya diam-diam dari lemari buku ayahnya. Ada sedikit titik terang dalam hidupnya. Dalam kungkungan pertanyaan-pertanyaannya.

Satu hal yang menarik dari proses tersebut. Ada dialektika yang tak disengajakan ada. Dari kecil, saat ia mulai tergugah untuk berkenalan dengan puisi dan budaya menulis dari keterpukauan puisi yang ditulis adik kakeknya di dinding rumahnya, ia mulai berkenalan dengan buku-buku kumpulan syair dan sajak dari para penyair ternama. Sebutlah W.S. Rendra, Sutardji Colzum Bahri, Chairil Anwar, Sitor Situmorang, serta lain semisalnya. Tentu juga buku dari Emha Ainun Nadjib. Khusus yang terakhir disebutkan, disinilah dialektika dimulai.

Membaca tulisan-tulisan Emha (Mbah Nun) bagi anak itu adalah serupa “metani”, mengurai satu per satu helai rambut, diambil kutunya, dan maka berkuranglah gatal di kepalanya. Dialektika yang berawal dari tulisan-tulisan itu, entah puisi atau esai, akhirnya menjelma jadi dialektika dalam hidupnya.

Ketika anak itu dirundung masalah, dan menuliskannya dalam sajak, esai, atau bahkan menuliskannya dalam batin, tetiba ada saja tulisan dari Mbah Nun, yang entah datang dari masa lalu atau masa sekarang yang seolah memberi titik terang dan sudut pandang lain dalam proses berpikirnya. Tentu anak itu tak punya kemampuan bahkan untuk sekedar GR bahwa memang tulisan itu ditujukan padanya. Pria yang disapa Mbah Nun oleh anak cucu dari segenap penjuru itu tentu sangat mencintai anak cucunya. Mencintai sebagai sikap sosial yang boleh muncul bahkan tanpa rasa eksklusivisme.

Dialektika anak itu berlanjut hingga sekarang. Bahkan hingga sampai ia bermimpi yang membingungkan ia. Seolah dalam mimpi, ia berada di belakang punggung pria itu, dan dibawa menaiki setapak punden berundak dan berada mengelilingi meja batu. Anak itu, yang tetap bersembunyi di belakang tubuh dan ‘gondelan’ baju Mbah Nun, melihat sekeliling meja itu ada wajah-wajah bercahaya yang tak bisa ia lihat dan saling bercakap. Pun juga bercakap dengan Mbah Nun seraya menyerahkan bungkusan yang anak itu sendiri tidak tahu kepada Mbah Nun.

Dialektika yang ada namun tak disengaja ada itu pun juga membuatnya lebih tegar hati menyadari masa silamnya dan menentukan jalan hijrahnya sendiri. Tentu ia juga lebih-lebih tak bisa GR menyatakan bahwa jalan pilihannya itu yang paling diberkahi Tuhan. Bisa jadi itu juga jalan yang di-‘lulu’ Gusti Allah. Namun paling tidak ada kesadaran anak itu mengambil jalannya sekarang, dan paling minimal kesombongannya terhadap ilmu tak lagi meledak-ledak seperti dulu.

Demikian mesranya, meskipun hanya dialektika antar sesama makhluk. Tak bisa kubayangkan bagaimana jika kita bisa senantiasa meng-upgrade software untuk sekadar menyadari dialektika yang selalu ada antara kita dengan Yang Amakaryo Jagad. Tentu pula dilengkapi dialektika dengan kekasih-Nya. Dialektika tak kentara itu bisa muncul saat mungkin engkau terserimpung kakimu dan mendadak tertinggal kereta yang seharusnya bisa engkau kejar, atau mendadak engkau sakit, engkau kebingungan, engkau merasa hilang dan sendiri, atau bahkan saat ada selembar daun kering yang tetiba jatuh di pipimu. Dialektika itu bisa berupa kenikmatanmu mempelajari rumus-rumus di bangku sekolah, keletihanmu bekerja mencari nafkah, atau keintimanmu dengan pasangan.

Dialektika yang tak kentara membawamu memasuki alam bawah sadar dan diam-diam menyehatkan hatimu, menyetel default ketenangan batinmu. Atau dia tiba-tiba seperti minyak zaitun yang menyala-nyala tanpa terlihat sesuatu apa yang menyulutnya. Entahlah. Aku dan mungkin seperti anak itu hanya sekadar meraba untuk memahami wahyu pertama. Iqra`. Bacalah. Bacalah. Sekelas mahkluk paling mulia di jagat raya, Muhammad ‘alaihi sholatu wa salam pun kebingungan terhadap apa yang harus ia baca. Ya. Kebingungan terhadap apa yang harus ia baca. Namun begitu, beliau mengajarkan kita hal yang penting. Bahwa yang terpenting haruslah membaca. Tak peduli lewat indera mana gelombang bacaan itu akan ditangkap masuk ke dalam tubuhmu. Setengah mati tentunya jika ada kewajiban mengerti arti per kata dari Al-Qur`an yang harus kamu baca. Tetapi bacalah. Ia adalah muatan yang tak kentara. Atau bacalah apapun yang terhampar sebagai ayat-ayatnya. Dan nikmatilah dialektikanya.

Jangan lupa. Cerita anak itu tak bilang bahwa ia senantiasa selalu bahagia dengan dialektikanya. Bisa jadi kesengsaraan selama berdialektika itulah keindahan dan kemesraannya. Hanya saja satu yang aku tangkap dari pesan itu. Ia berharap tak mau berhenti membaca dan berdialektika. Semoga lah ia dan kita sampai pada rumah kesejatian dari jiwa-jiwa kita yang selalu berkelana. Dan semoga keberkahan kepada makhluk Allah yang diperkenankan menemani anak itu berdialektika. Muhammad Ainun Nadjib.

Entah bagaimana mengawali cerita ini. Bagi seorang anak yang mencari dirinya sendiri dan Tuhannya serta tak sengaja bersinggungan dengan sebuah nama.