Daur-II • 135

Di Sorga Melimpah Kekayaan Dunia

Karena takdir hakiki manusia bukan untuk menyembah berhala, maka kebiasaan menyembah berhala membuat apa saja menjadi penyakit. Kebenaran membuat bertengkar. Kebaikan melahirkan kesombongan. Keindahan tidak terbimbing untuk mencapai puncak kelembutannya.

Agama pun mereka peluk erat dan dijalankan syariatnya. Hanya saja itu dilakukan dengan pengharapan akan memperoleh keuntungan pribadi, mendapatkan laba dalam pengertian dunia dan materi. Sorga pun dirindukan karena diyakini ia adalah tempat “kekayaan dunia” yang melimpah ruah.

Penyakit pikiran, penyakit hati, penyakit mental, dan penyakit spiritual, dengan berbagai cabang dan variasinya menjadi muatan utama dari peradaban. Peradaban para penyembah berhala sangat mewah, gemerlap, dan gegap gempita. Para pelakunya meyakini itulah yang disebut kemajuan, pembangunan, dan keberhasilan. Tetapi pada saat yang sama muatan hati dan pikiran mereka justru adalah keluh kesah tentang dunia.

Bahkan di dalam rentang sejarah yang panjang sejak zaman awal-awal Kenabian sesudah Adam: sukses peradaban duniawi itu bukan hanya dibarengi dengan keluhan-keluhan dan perebutan harta benda dan kekuasaan — tetapi juga pasti berakhir dengan kehancuran. Hampir tak ada peradaban yang menunggu akhirat dulu baru mengalami kehancuran.

Padahal sebenarnya Allah membuka pintu lebar-lebar: “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan”. [1] (Hud: 15). Tetapi, selalu, peradaban keduniawian yang dibangun oleh manusia tidak mampu mempertahankan ketidak-hancurannya, padahal Allah belum menghancurkannya.