Wedang Uwuh (22)

Di Sisi Singgasana

Kedaulatan Rakyat, 14 Maret 2017

“Begini saja, Ruk”, saya coba menengahi, “daripada teman-temanmu ribut, saya akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan saja, supaya alur informasinya lebih tertata”

“Siap, Mbah”, kata Beruk.

“Untuk maksud apa si Direktur itu menyerahkan gumpalan emas itu ke Ndoromu?”

“Untuk tanda kesaksian atas pernyataannya, bahwa ia hanya disuruh, tapi tidak turut campur terhadap urusan kenapa uang itu diberikan”

“Kalau menurut rumusanmu, sebenarnya apa tema pokok yang kamu ceritakan ini yang menyangkut Yogya?”

“Semuanya pokok, Mbah. Masalah yang membelit masyarakat kita sekarang bersifat komprehensif, saling kait mengkait, mengalir cepat sebagai sebab dan akibat. Akibat karena sebab, kemudian akibat menjadi sebab berikutnya. Sementara masyarakat sudah sangat kelelahan merunut sebab-akibat dari masa silam hingga simulasinya ke masa depan. Yang skalanya hari atau mingguan saja sudah ruwet dan kusut untuk diurai, apalagi skala besar dan panjang. Manusia sudah tenggelam dan kintir oleh muatan ruang dan waktu, sehingga semakin kecil kesanggupannya untuk mengelola isi ruang dan waktu. Makin rendah kemampuannya untuk mengkhalifahi, mameneg, angon kahanan yang mengguncang-guncang mereka”

Saya tertawa. “Jangankan angon kahanan, sedangkan meletakkan kalimat-kalimatmu di dalam peta pemahaman otak saya saja setengah mati.…”

“Itu sebabnya saya bersama Gendhon dan Pèncèng perlu sering bertemu dan mengobrol dengan Simbah.…”, kata Beruk.

“Hubungannya apa dengan saya?”

“Supaya kami berlatih melihat segala sesuatu dengan keseimbangan berpikir dan ketenangan hati”

Pèncèng menambah, “Kata Simbah dulu, hati kalau bisa selalu bersamadi, duduk bersila di hadapan Tuhan, tidak terseret atau dikacaukan oleh riuh rendah isi dunia.…”

Gendhon juga. “Sementara kata Simbah, pikiran yang harus pro-aktif. Boleh mengembara sampai keluar cakrawala, menembus segala yang di balik awan, yang tak pernah diperhatikan atau diingat oleh kebanyakan orang”

Beruk tak mau kalah menagih saya. “Aktivitas kalbu adalah bertapa. Aktivitas akal adalah terbang, mengembara, tanfudhu min aqtharis samawati wal-ardl kata Tuhan, mengeksplorasi semua kemungkinan kreatif, ber-ijtihad dan memperbanyak bid’ah yang disenangi oleh Tuhan. Sebab Tuhan sendiri adalah Maha Menciptakan segala sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Al-Badi’….”

“Hebat amat kalian ini….”, saya merespons, “tapi kita balik dari langit ke bumi. Kita menyempit dari alam semesta ke dunia. Dari dunia ke Indonesia. Dari Indonesia ke Yogya. Dari Yogya ke segumpal emas yang dibawa Beruk”

“Secara teknis bisa begitu, Mbah”, sahut Beruk, “tapi secara nilai tidak bisa. Di dalam Yogya ada pertempuran dunia. Di sebuah komplek bangunan di pusat Yogya ada peran Iblis, padahal kita tidak pernah tahu persis di mana sebenarnya alamat Iblis. Juga tidak mengerti identitas aslinya. Yang pasti ia juga sangat berperan di Yogya. Bahkan berperan di dalam diri setiap manusia. Berfungsi dominan di setiap perilaku orang, yang duduk di pasar, di kantor-kantor, maupun yang di sisi Singgasana.…”

“Waduh, singgasana apa, Ruk?”

“Bisa Singgasana Kasih Sayang dan Keadilan, Mbah, tapi bisa juga Singgasana Nafsu, Ambisi, Penggerogotan dan Penghancuran”.

“Begini saja, Ruk”, saya coba menengahi, “daripada teman-temanmu ribut, saya akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan saja, supaya alur informasinya lebih…