Daur-II • 218

Detauhidisasi

Itulah yang disebut bencana kedua oleh Pemuda Wali Kubro. Pertama kehancuran Kerajaan besar oleh metabolisme alam. Kedua datangnya para perompak dari benua lain, yang tujuannya tidak sekadar menjambret harta benda kekayaan alam Nusantara. Tetapi juga menjajah manusianya, menguasai politiknya, mengebiri keperwiraan prajuritnya, mengikis harga diri kebangsaannya. Sehingga tersedia segala persyaratan untuk memutus hubungan langit-bumi yang sudah berabad-abad menjadi karakter utama peradaban Nusantara.

Semua proses kolonisasi dan imperialisasi yang dirintis sejak abad 14 itu adalah mobilisasi de-Tauhid-isasi. Maka yang harus dipenggal dari sejarah dunia tidak hanya Kitab-kitab Suci dan Agama yang dibawa, dijunjung dan disebarkan ke seantero Nusantara oleh Pemuda Wali Kubro sejak para Sesepuh yang ia berguru kepada mereka. Seluruh sistem kepercayaan ummat manusia di belahan bumi timur sejak jauh sebelum masehi, dilunturkan, digerogoti, dikikis, dikubur dan dilenyapkan.

Pemuda Wali Kubro menyadari sejak dini bahwa masyarakat yang diasuhnya menanggung tiga macam beban, menghadapi tiga macam tantangan penghancuran. Ialah masyarakatnya sebagai penempuh Tauhid, masyarakatnya sebagai warga Nusantara yang kaya raya, serta masyarakatnya sebagai manusia Jawa. Sejarah global dunia menyembunyikan kebesaran peradaban Nusantara dan kemesraan bumi-langit manusia Jawa. Mereka tidak diakui oleh dunia, dan kelak, atau sekarang ini: bahkan terseret untuk juga tidak mengakui dan tidak mempercayai dirinya sendiri.

Pemuda Wali Kubro gemetar badannya. Jangan-jangan telah tiba yang Allah firmankan bagi bangsanya: “Dan Kami tiada membinasakan sesuatu negeripun, melainkan ada baginya ketentuan masa yang telah ditetapkan”. [1] (Al-Hijr: 4). Rasanya ia membutuhkan hidup sepuluh kali lipat dari rangsum usianya untuk menahan laju penghancuran itu. Tetapi itu membuatnya lebih bergolak jiwanya.