Daur dan Othak Athik Gathuk

Daur itu mungkin ibarat Al-Qur`an. Tulisan-tulisan dan perkataan-perkataan Mbah Nun selain di Daur itu ibarat Hadits. Namun pernyataan tersebut bukan berarti menyamakan Daur dengan Al-Qur`an, bukan pula berarti menyamakan Hadits dengan tulisan serta perkataan Mbah Nun yang lain, juga bukan berarti menyamakan mbah Nun dengan Nabi Muhammad. Saya yakin Jamaah Maiyah yang juga Jannatul Maiyah mempunyai kedewasaan dan akurasi pemaknaan terhadap pernyataan tersebut.

Kalau kita mau lebih jeli, seringkali kita bisa menemukan penjelasan tentang tulisan di Daur melalui yang disampaikan Mbah Nun dalam acara-acara Maiyahan, Ngaji Bareng, Sinau Bareng, Tadabburan, tulisan-tulisan beliau di Ibu Informasi JM (caknun.com) atau bahkan sejarah hidup beliau. Misalnya saja, pada Daur 42 – Mr. VVVVVIP, Muhammad SAW:

Khatam sudah 41 Tulisan dibacakan. Cocoknya sekarang khataman.

Tapi Sebentar. Kok 41 tho ?

Pada tulisan tersebut dibahas mengapa 41. Padahal lebih popular 33. Angka 33 seringkali dijadikan jumlah paten dalam wirid.

Angka 41 mengingatkan saya akan penjelasan beliau tentang Pancasila. Pancasila memang berjumlah 5. Tetapi seperti yang pernah dijelaskan beliau, bahwa 5 tersebut salah satu polanya adalah 4+1. Sila pertama sampai keempat adalah jalan. Sila kelima adalah tujuan. Pemaknaan tersebut juga bisa dipersempit ke wilayah Islam. Di Islam ada Rukun Islam yang berjumlah 5. Kalau kita mentadabburinya, maka kita juga akan menemukan pola 4+1. Rukun Islam pertama sampai keempat adalah jalan. Rukun Islam kelima adalah tujuan. Entah suatu kebetulan atau memang disengaja oleh beliau, pemahaman pola 4+1 sebenarnya dipermudah dengan judul Mr. VVVVVIP, Muhammad SAW. Jumlah VVVVV-nya lima. Jumlah lima tersebut bisa mengingatkan kita kepada Pancasila, juga Rukun Islam.

Kemudian, dalam beberapa Daur kita akan menemui beliau sering memberikan analogi hutan dan rimba. Apakah itu melalui judul, seperti Di Daur 26 – Di Tengah Hutan Belantara Indonesia dan Dunia, Daur 36 – Rimba Gelap di Depanmu Loncat Masuk!.

Atau dalam cerita, Markesot yang mencari Kyai Sudrun dengan cara berjalan masuk ke hutan. Di hutan tersebut beliau bertemu dengan Saimon yang seringkali menjahilinya, mengganggunya tetapi terkadang menjadi sparring partner diskusi.

Hutan dan rimba mengingatkan saya tentang sejarah hidup beliau yang begitu berkelok-kelok jalannya dan mungkin ekstrem bagi kita. Seperti, menggelandang di Belanda tiga tahun dan seringkali tidak mempunyai uang sepeserpun. Pada masa ORBA dikejar-kejar tentara. Pernah dikirim uranium yang membuat tubuhnya lebam. Seakan-akan Mbah Nun itu masuk ke dalam hutan rimba dan siap menerima segala cobaan dan melawan segala rintangan yang ia temui di hutan tersebut. Saimon adalah simbol godaan. Godaan bisa bernilai gangguan, bisa juga bernilai sparring partner diskusi. Tergantung bagaimana penyikapan kita terhadap godaan.

Di Maiyah kita belajar tentang pola melingkar, bulat. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un sifatnya polanya melingkar karena artinya berasal dari Allah menuju Allah, bukan dari Allah kembali ke Allah. Waktu itu berjalan maju sehingga lebih tepat menuju. Kembali artinya mundur.

Pola melingkar itu bisa kita kombinasikan dengan metode othak-athik-gathuk angka. Coba kita pahami jumlah daur dengan cara melingkar. Dari 1 – 309 jika dipahami secara melingkar 1 bertemu 309, 309 bertemu 1. Jika dijumlahkan 1 + 309 = 310. Jika hasilnya dijumlahkan lagi 3 + 1 + 0 kita akan mendapati jumlahnya 4. Jumlah empat tersebut mengingatkan saya pada rubrik Lubuk yang salah satunya berjudul Malaikat Sahabat Empat. Akan sangat mungkin banyak keterkaitannya jika kita mau mentadabburinya.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image