Wedang Uwuh (41)

Dat Nyeng dan Kenthir Ajeg

Kedaulatan Rakyat, 8 Agustus 2017

Saya bercerita kepada Gendhon, Pèncèng dan Beruk bahwa saya punya teman sejak 1997. Asli London, nikah dengan gadis Indonesia. Tinggal di Jakarta lebih 18 tahun. Kerja di perusahaan Konsultasi Keamanan. Kemudian dipindah oleh kantornya ke London. Sekarang dipindah lagi ke Bangkok. Sehingga lebih mudah berkunjung ke Indonesia, terutama ketika Simbah ngumpul dengan cucu-cucunya, untuk rembug rutin tentang masa kini, mensimulasi masa depan, dengan pedoman masa silam.

Pernah teman London itu ditanya kenapa kok krasan di Indonesia. Si London menjawab, “Kalau di Indonesia dia merasa aman di mana-mana. Di perumahan tempat tinggalnya, juga di jalanan, jam berapapun dia aman. Kalau ada yang mau mbegal atau njambret, seringkali tidak jadi, karena saya Bulé. Si pembegal atau penjambret punya pertimbangan khusus tentang orang Bulé”.

Menurut si London ini, kecuali perampok yang kelas khusus dan profesional, para penjahat di Indonesia tetap memiliki sopan santun dan tepo-seliro kepada para pendatang. Terutama orang yang menjambret atau membegal karena keterpepetan ekonomi. Mereka bukan penjahat. Mereka berbuat jahat karena tidak ada jalan lain untuk menghidupi keluarganya. Maka ketika njembret atau mbegal, mereka masih membawa pertimbangan-pertimbangan. Tidak ngawur atau kalap.

“Itu beda dengan di London. Terutama di bagian London agak barat selatan, tempat saya berdomisili”, kata si Bulé, “Di sana kita bisa dirampok bahkan dibunuh tidak karena perampoknya ingin merampok. Tidak karena pembunuhnya ingin membunuh. Mereka mengidap semacam sakit sakit jiwa. Mungkin namanya temporary insanity”…

“Itu istilah Bahasa Inggrisnya dan wacana Ilmu Psikologi Baratnya”, Beruk menyahut.

“Gila sesaat Bahasa umum Indonesianya”, tambah Pèncèng.

Ndeng-ndeng nak bahasa Jawa Timurnya”, Gendhon menyahut juga.

Dat Nyeng Bahasa Yogya dan Jawa Tengahnya. Atau Kenthir kumat-kumatan istilah sehari-harinya”, suara Pèncèng lagi.

Tetapi kesimpulan teman London itu dibantah oleh pengalaman dan penglihatan teman yang lain. Seorang Jerman yang nikah juga dengan wanita Indonesia, hidup hampir 40 tahun di sebuah kota Pulau Jawa. Wajah dan tubuhnya Bulè, tapi bicaranya Bahasa Suroboyoan deles alias nyekèk. Kalau dia bicara, tanpa kita melihat orangnya, tak kan kita sangka dia orang Bulé.

“Saya hidup tenang di Jawa hampir 40 tahun”, katanya pada suatu saat kepada saya, “manusia Jawa dan Indonesia pada umumnya luar biasa. Sangat nyedulur, sangat mudah menerima orang asing menjadi bagian dari hati mereka yang penuh kasih sayang…”

Tiba-tiba Pèncèng memotong. “Memang kalau kepada Bulé, Arab atau Cina, masyarakat kita lebih hormat dan menjunjung tinggi dibanding kepada sedulurnya sendiri sesama Jawa dan Indonesia…”

“Pèncèng!”, saya agak membentak, “bukan itu tema yang saya sedang ceritakan. Kemudian saya teruskan cerita saya.

Dia bertanya: “Tapi akhir-akhir ini saya semakin cemas melihat keadaan masyarakat. Kalau gèng anak-anak SMA bermusuhan dan tawur melawan gèng SMA lain, saya masih paham. Tapi kalau anak-anak seusia itu bawa pedang atau arit, dia ngganthol atau menebas leher anak atau orang yang lewat naik motor sampai terjatuh dan meninggal, tanpa sebab apa-apa, tanpa sentiman antar gèng, tanpa permusuhan antar kelompok, melainkan ngganthol begitu saja — demi Tuhan pikiran saya buntu untuk bisa memahaminya…”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image