Daripada Mempertengkarkan Pendapat

Begitu sangat menarik tulisan-tulisan Mbah Nun pada Daur II, serta seri lainnya yang sangat berperan positif dalam kehidupan. Saya sering “terkejut” ketika membaca tulisan-tulisan beliau. Beliau menuliskan beberapa ayat Al-Qur`an yang berkorelasi dari zaman ke zaman yang menurut saya itu akan lebih memacu keyakinan serta optimisme di kalangan masyarakat, generasi muda, dan kaum muslim pada umumnya, bahwa ayat-ayat Al-Qur`an selalu relevan dari waktu ke waktu di banyak bidang.

Beragamnya perbedaan tafsir ayat-ayat Al-Qur`an hingga munculnya pertentangan, kebencian, saling hujat, yang tak jarang hal itu malah membuat perpecahan di kalangan masyarakat, apalagi saya yang bisa dikatakan awam terhadap pengetahuan ilmu Al-Qur`an merasa kebingungan dengan polemik tersebut.

Juga saya kira perbedaan hingga pertentangan tersebut tidak hanya muncul di tengah perbedaan tafsir. Misalkan ketika berpendapat tentang suatu kebenaran pun, jika pendapat tersebut dipaksakan terhadap orang lain dengan kecenderungan: orang lain harus mengakui bahwa yang benar adalah kita, saya rasa hal itu akan berpotensi menjadi salah satu sebab perpecahan hubungan antar individu, bahkan kelompok.

Kemudian pada saat beda-beda tafsir itu mau tidak mau harus diaplikasikan ke berbagai lapangan sosial, kebudayaan, bahkan politik, dengan mau tak mau harus menyertakan risiko maintenance, keuangan, gedung, organisasi, keberpihakan terhadap satuan-satuan yang lebih luas misalnya pada urusan-urusan Kerajaan atau Negara–maka tidak bisa dihindarkan kemungkinan permusuhan di antara golongan-golongan itu.” –Daur II-234Komplikasi Ekstrem “Ashlihu”

Saya sangat bersyukur, di tengah banyaknya pertentangan pendapat tentang kebenaran, kita masih dengan mudah mengakses ilmu di Maiyah. Yang juga tak kurang-kurangnya Mbah Nun sering menyampaikannya di berbagai forum Maiyahan yaitu Ilmu Taddabur. Suatu proses dengan dimensi moral, spiritual, bahkan lebih dari intelektual yang syarat kesudahannya lebih dekat dengan Allah; bertambah imannya, lebih baik perilakunya.

Banyak hal yang bisa kita pelajari dan maknai dengan banyaknya pendapat dari berbagai sudut pandang. Selain untuk menambah wawasan, jika kita mau memfilter serta mengolah, mungkin hal itu akan melengkapi lingkar pandang, merperkuat kuda-kuda keseimbangan, yang nantinya suatu pendapat tentang kebenaran bisa ditransformasikan menjadi kebijaksanaan.

Tentang kebenaran objektif, saya ingat beberapa poin yang disampaikan Syekh Nursamad Kamba pada forum Ngaji Bareng yang berada di UIN Sunan Gunung Djati, Bandung 19 November 2016. Beliau menyampaikan bahwa untuk mencapai kebenaran yang objektif, kita harus meniadakan kepentingan pribadi.

Mengingat pesan beliau, sepertinya sangat sedikit kemungkinan jika seseorang akan mendapat kebenaran objektif ketika di dalam dirinya masih terdapat ego.

Sangat mungkin lagi misalkan di dalam diri menyimpan perasaan dengki terhadap seseorang yang menyampaikan suatu pendapat, walau sebenar apapun pendapat itu diungkapkan, kemungkinan kecil seseorang akan percaya dan mengakui kebenaran tersebut.

Saya merasa eman jika hanya karena perbedaan pendapat antar individu-kelompok-golongan harus bertengkar satu sama lain, mandèg pada suatu pertengkaran dengan semangat mengkafirkan orang lain, menuduh sesat, radikal yang kemungkinan hal itu akan mengikis kebersamaan.

Tidak ada suatu keadaan yang tidak memberi ilmu atau kesadaran baru. Di tengah pertengkaran pendapat, pernahkah di antara saudara-saudara kita yang bertengkar mencari, kenapa pendapat tentang kebenaran kok bisa menjadi kegaduhan. Padahal Tuhan sendiri menyatakan Afala tadzakkarun: Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran?

Dengan segala keterbatasan dalam diri saya, saya sedikit memahami Mbah Nun sendiri banyak menuliskan dan menyampaikan sebab atau benih solusi tentang pertengkaran pendapat kebenaran. Beberapa di antara lain: Tak Bisa Benar Tanpa Menyalahkan, Ancaman Batuk dan Wahing, Cak Nun Merespon Keadaan Zaman – Part 1 dan Part 2.

Setahu saya Seger sudah lama mencatati itu semua secara bertahap, berdasarkan penelitian, pencerapan dan diskusi yang kami lakukan”, Jitul menambahkan, “Misalnya Tuhan meletakkan manusia sebagai pembawa berita gembira. Kabar tentang apa? Apakah hanya tentang sorga? Ataukah juga tentang nikmatnya buah-buahan, kesuburan tanah, pergantian musim, serta apa saja yang menjadi lingkungan kehidupan manusia di bumi?” –Daur II-204Satu pada Semua dan Semua di Satu

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak”. (An-Nisa: 100).

Kata Allah, bumi adalah tempat hijrah yang luas dengan rezeki yang melimpah, tetapi hati dan pikiran mereka berhijrah dari bumi dan tak kembali. Memang dunia bukan tempat tujuan. Memang sorgalah sejatinya kampung halaman. Tetapi selama masih dipersemayamkan oleh Allah di bumi, setiap dan semua manusia wajib mengelolanya, dengan dinamika dan kreativitas hijrah”. –Daur II-205Berhijrah dan Tak Kembali

Pada forum Maiyah Mocopat Syafaat 17 Juli 2017, Mbah Nun menyampaikan beberapa anjuran, di antaranya agar Jamaah Maiyah memperjelas kehidupan masing-masing, memastikan penghidupan dan kuda-kuda ekonomi dirinya dan keluarganya.

Dan bagi yang sudah beres relatif stabil, boleh berpikir lebih meningkat yaitu mencoba menciptakan sambungan-sambungan di antara saudara sesama Maiyah. Bentuknya pun tidak dipandu dan harus ketemu secara alamiah sesuai dengan “habitatnya” masing-masing.

Sangat banyak benih-benih ilmu yang ada di Maiyah.

Saya rasa konsep anjuran beliau sangat bermanfaat, lebih-lebih pada kalangan individu, kelompok, golongan, di luar Maiyah ikut mengaplikasikannya. Toh selama ini Maiyah tidak pernah menjadi atau meresmikan diri sebagai organisasi suatu kelompok atau golongan tertentu.

Cikarang, Bekasi, 02 Oktober 2017

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image