Contoh Waspada Sebagai Arti Takwa

Catatan Sinau Bareng “Kebangkitan Zakat”, Yogyakarta 5 Mei 2017 (bagian 2)

Satu kata kunci, di antara kata-kata kunci lain yang Mbah Nun sering sebut belakangan seperti gelembung, presisi, dan keseimbangan, adalah kata “waspada”. Mbah Nun merasa bahwa waspada adalah kata dalam bahasa Indonesia yang lebih mendekati makna kata takwa dibanding kata-kata bahasa Indonesia lainnya.

Kita mesti waspada lho, ada yang namanya akhirat. Kita mesti waspada lho, masih ada surga dan neraka. Begitu Mbah Nun mencontohkan praktik waspada. Sehingga dengan kewaspadaan itu, kita lebih hati-hati dalam melangkah, berbuat, atau mengambil keputusan. Itulah salah satu contoh kecil dari makna waspada yang Mbah Nun pernah contohkan. Jadi, waspada yang dimaksud bukan waspada atau curiga kepada orang lain, tetapi waspada kepada keadaan dan kecenderungan yang berlangsung di dalam hati dan pikiran kita sendiri.

Perbanyak memberi tanpa memfokuskan pandangan kepada balasannya
Perbanyak memberi tanpa memfokuskan pandangan kepada balasannya (Foto: Adin).

Contoh lain dari sikap waspada adalah kalau kita setiap saat setiap hari berdoa terus-menerus meminta apa saja kepada Allah ada kemungkinan kita sampai pada kondisi di mana kita seakan-akan tidak pernah bersyukur. Tentu saja, boleh memi karena Allah memang mempersilakan hamba-Nya meminta kepada-Nya. Allah menyatakan ud’unii astajib lakum (Mintalah kepada-Ku, nisacaya Aku akan merespons kalian).

Tetapi kalau kita tidak pernah berdoa, kita pun juga terpleset pada sikap angkuh dan sombong seolah-olah kita mampu memastikan terpenuhinya keinginan, hajat, dan kebutuhan kita sendiri tanpa merasa perlu menyadari peran Allah dalam memenuhi kebutuhan manusia itu.

Karenanya, berada di antara dua kutub seperti ini, yang terbaik adalah kita selalu memantau betul pergerakan hati kita, apakah terlalu miring ke salah satu kutub. Jika demikian, maka kita perlu bergerak ke arah kutub yang satu sehingga dapat berada pada titik tengah. Waspada, dengan demikian, adalah kesenantiasaan kita melihat pada detik ini kondisi hati kita bagaimana. Jika terlalu miring, perlu segera dibawa ke tengah.

Dua contoh di atas adalah salah satu penjelasan Mbah Nun mengenai makna Takwa sebagai sebagai sikap waspada tatkala menyampaikan pandangan dalam Sinau Bareng Kebangkitan Zakat yang diselenggarakan oleh Baznas kota Yogyakarta, khususnya pada saat merespons cerita Bu Tri Kirana Muslidatun sebagai duta Baznas yang bercerita pengalamannya dalam membayar zakat. Inti ceritanya, Bu Tri pernah mengalami fase terpuruk secara ekonomi, tetapi dengan kesadaran zakat yang tinggi, ia mengulurkan apa-apa yang ada padanya kepada orang lain. Hasilnya, kondisi ekonomi dan bisnisnya semakin membaik. Ini diceritakan sebagai contoh agar hadirin tergugah hatinya untuk melaksanakan perintah agama yakni zakat dan shadaqah.

Kendatipun memahami betul maksud baik dalam Bu Tri Kirana menuturkan pengalamannya itu, Mbah Nun tetap menyumbangkan perspektif yang lebih luas. Yaitu sikap waspada itu sendiri sebagaimana telah disinggung di atas. Benar bahwa Allah menjanjikan balasan berlipat bagi orang yang menafkahkan hartanya untuk orang lain, tetapi kalau fokus kita hanya tertuju kepada balasan Allah itu bukan tidak mungkin kita terperosok dalam membangun hubungan dengan Allah yang transaksional semata sifatnya layaknya orang berdagang.

Di sini, Mbah Nun mengajak kita semua untuk waspada. Terlebih lagi ada setidaknya dua ayat Allah yang relevan dengan hal ini: Wa la tamnun tastaktsir (jangan memberi dengan harapan akan pengembalian yang lebih besar) dan ittabi’u man la yas-alukum ajron wa hum muhtadun (Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu). Ringkasnya, ketika kita berzakat, berinfaq, dan bershadaqah, jangan hanya berpegang pada ayat yang menggambarkan balasan sekian kali lipat dari Allah, sebab pada ayat yang lain Allah mengingatkan juga agar di dalam memberi kita tak seyogyanya berharap hasil atau pengembalian yang lebih besar.

Foto: Adin.

Nah, bagaimana kita memosisikan diri di antara dua perintah atau informasi Allah yang terlihat “berbeda” itu? Bagi Mbah Nun jawabnya adalah kewaspadaan. Dengan kewaspadaan itu, kita akan terpandu untuk bisa berada di titik tengah. Lugasnya, kalau kita mau memberi, berikanlah saja, dan sesudah itu sepenuhnya kembalikan kepada Allah, jika perlu tidak ingat lagi dengan pemberian itu.

Itulah salah satu contoh waspada yang diuraikan Mbah Nun dalam hal membayar zakat, infaq, dan shadaqah. Seluruh jamaah yang hadir malam itu pun terlihat setuju dan memahami sekali inti pemikiran Mbah Nun ini.

Bahkan Mbah Nun memberikan bonus saat sedikit menjelaskan ayat ittabi’u man la yas-alukum ajron wa hum muhtadun (Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu). Ayat itu bagi Mbah Nun menyiratkan pengertian: jika kalian ingin mendapatkan hidayah Allah, perbanyaklah memberi kepada orang lain tapi tanpa terlalu memfokuskan pandangan kepada balasannya.

Perlu dicatat pula, sikap waspada ini berangkat dari pemahaman dan pangroso Mbah Nun ketika mencoba menyelami ilmu yang dikandung surat al-Hasyr ayat 18: Ya ayyuhal ladziina aamanuttaqullaha wal tandhur nafsun ma qoddamat lighat wattaqullah innallaha khobirun bima ta’malun (Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah berlalu untuk masa di depan, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha mengabarkan apa-apa yang kamu kerjakan).

Perintah menatap ke belakang atau masa lalu untuk bergerak ke masa depan, serta peringatan Allah bahwa Ia maha mengabarkan apa-apa yang kita lakukan dirasakan oleh Mbah Nun sebagai perintah agar kita senantiasa waspada. Waspada adalah tidak melihat pada satu hal saja, tetapi juga ingat kanan kiri atas bawah. Waspada adalah juga ingat bahwa yang kita lakukan saat ini suatu saat Allah dapat mewartakannya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Karena itu, orang bertakwa selalu mempertimbangkan niat, sikap, dan perbuatannya agar niat, sikap, dan perbuatannya tetap berada dalam ketepatan atau presisi. Termasuk dalam kita memberikan, membantu, menolong, atau mengulurkan apapu dari diri kita kepada orang lain. (Helmi Mustofa)

Kita mesti waspada lho, ada yang namanya akhirat. Kita mesti waspada lho, masih ada surga dan neraka.