Daur-II • 019

Cerminan Wajah Kotor

Giliran Brakodin yang sekarang tertawa. “Pakdemu Tarmihim ini melankolik, agak cengeng dan lebay. Ternyata sampai setua ini tidak kunjung sembuh”, katanya. Tarmihim jadi korban Iqra`nya Brakodin.

“Belum mengerti maksudnya, Pakde”, Seger bertanya.

“Dia bilang tidak mau dekat-dekat pada Islam dan Al-Qur`an. Alasannya bagus, seolah-olah ia tidak mau mengotori Islam, dan diam-diam ia merasa menjadi orang yang baik karena tidak mau mengotori Islam. Padahal sebenarnya itu strategi Pakdemu untuk menutupi dan memaafkan keawamannya yang abadi tentang Islam dan Al-Qur`an”

“Belum lengkap pemahaman saya, Pakde”, Jitul mengejar.

“Lho gimana sih. Islam itu suci, dan kesuciannya kekal abadi. Islam tidak bisa dikotori oleh manusia. Yang kotor adalah manusianya itu sendiri. Pakdemu tidak bisa mengotori Islam, karena yang ia kotori adalah dirinya sendiri. Islam dengan Al-Qur`an adalah alat pembersih manusia, penyelamat manusia di hadapan Maha Penciptanya. Lha Pakdemu itu malas membersihkan diri, terus alasannya tidak mau mengotori Islam”

Tarmihim kembali tertawa. “Sebenarnya yang dikatakan oleh Pakdemu Brakodin itu adalah dirinya sendiri. Sejak dulu, setiap kali mau berangkat Jumatan, dia selalu gelisah. Karena kawatir akan dimarah-marahi oleh Khotibnya. Khotib shalat Jumat pasti orang bersih, sehingga mungkin karena itu dia sering marah-marah karena dirasakannya banyak jamaah Jumat yang kotor hidupnya. Terutama Pakdemu Brakodin. Lantas ia cari-cari alasan dengan mengutip ayat ‘Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”. [1] (Ali ‘Imron: 159). Padahal dia sendiri yang menjauh, takut melihat wajahnya yang kotor di cerminan kata-kata Khotib yang suci….”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra