Cerita Moral di Maiyah untuk Murid-muridku

Sejak nyemplung di dunia pendidikan, mau tidak mau saya pun dituntut melek tentang segala hal yang berbau pendidikan. Dan mulai tahun ajaran 2017/2018, sekolah tempat saya mengajar resmi beralih dari sistem KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) 2006 berganti menggunakan kurikulum tahun 2013 (K-13). Hal ini berdasarkan SK Mendikbud M. Nuh kala itu.

Mohammad Nuh menegaskan bahwa KTSP 2006 itu tidak sesuai dengan UU 20/2003 tentang Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional). Karena itu pihaknya merumuskan Kurikulum 2013. UU Sisdiknas mengamanatkan tiga kompetensi pendidikan. Yakni pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Dan tiga kompetensi itu tidak ada dalam KTSP. Maka dari itu diperlukan rancangan kurikulum yang baru. Masih menurut sang mantan Mendikbud, tiga kompetensi dan sistem tematik integratif yang diterapkan dalam Kurikulum 2013 itu sudah sesuai dengan UU Sisdiknas. Kompetensi kurikulum 2013 diharapkan menjadi sarana pendidikan pembentukan karakter bagi anak.

Kurikulum 2013 tidak berpusat pada buku atau guru. Kurikulum 2013 juga bukan hafalan tapi mendorong siswa berpikir kreatif. Kurikulum 2013 mengalihkan kurikulum yang berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa.

Tak ayal memang setiap muncul kebijakan baru pasti selalu menimbulkan pro dan kontra. Ada dampak positif dan negatifnya. Pun dengan kasus pergantian KTSP 2006 menjadi K-13. Kalau untuk saya pribadi, penggunaan sistem K-13 tidak terlalu menjadi masalah. Saya cukup baik menyambutnya. Bahwa siswa sekolah dasar sangatlah penting untuk dibekali pengetahuan, sikap/karakter dan ketrampilan. Kalau diprosentasekan dalam angka, mungkin siswa diajarkan pengetahuan sebesar 20 persen, sikap/karakter 50 persen, dan keterampilan 30 persen. Artinya guru tidak perlu panjang lebar mencekoki murid dengan teori. Adapun teori secukupnya saja kemudian mereka diajak langsung untuk praktek kerja nyata. Melakukan hipotesis dan berbagai macam simulasi. Bisa dimulai dari hal terkecil atau sederhana. Hal tersebut akan jauh lebih membekas, ngena dan nyantol dalam ingatan anak-anak.

Semisal 10 tahun mendatang saya atau anda bertanya kepada salah satu murid kita dulu, ”Apa yang paling melekat dalam benakmu pada waktu sekolah SD dulu?” Jawabannya mungkin bukan: “Saya paling ingat ketika diajari guru saya tentang sila-sila Pancasila.” Tetapi mungkin yang paling melekat dalam benak adalah “ketika SD dulu saya tidak hapal menyebut sila Pancasila, lantas saya diberi hukuman untuk membuat layang-layang berbentuk burung Garuda. Lalu dengan segenap kemampuan, saya coba membuat layangan Garuda. Dan sang guru yang menghukum itu terkejut melihat hasilnya. Karena dianggap bagus dan artistik, layangan Garuda tersebut dipigura, kemudian dipajang di ruang kantor guru. Dan hebatnya layangan hukuman itu masih terpajang sampai sekarang.”

Luar biasa dan itu akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Seperti itulah pikiran dan jiwa anak-anak. Terutama anak kelas bawah (1, 2, 3 SD). Mereka akan jauh lebih terangsang dan kelingan di saat bersentuhan dengan pengalaman atau praktek langsung ketimbang teori semata. Begitulah anak-anak pada umumnya. Ibarat kata, anak TK-SD kelas bawah bagaikan selembar kertas putih. Masih polos dan bersih. Dan di situlah tugas seorang guru/pendidik untuk dapat memoles, melukis dan mewarnai kertas putih tersebut dengan coretan tinta kebaikan.

***

Alhamdulillah, selama bermaiyah banyak sekali ilmu kebaikan, sikap bijak, kisah teladan, dan cerita-cerita moral yang berhasil saya dapatkan. Menariknya, pengalaman dan kisah-kisah bijak tersebut sangat relevan untuk digunakan sebagai penunjang sistem pengajaran K-13 di sekolah. Sangat membantu dalam rangka pembentukan karakter dalam diri siswa. Satu contohnya adalah, saya memberikan soal cerita kepada siswa-siswi kelas tiga. Cerita moral yang kerap dikisahkan Mbah Nun di forum Maiyahan.

Saya mendikte soal ceritanya dan anak-anak menulisnya dalam buku tugas.

“Ketika kalian hendak sholat Jumat ke Masjid. Lalu tiba-tiba di jalan ada orang yang jatuh dari motor. Kepalanya berdarah, kakinya lecet, motornya rusak. Orang tersebut mengerang kesakitan dan teriak minta tolong. Kira-kira apa tindakan yang akan kalian lakukan?”

Selesai menulis cerita tersebut, anak-anak saya minta untuk merespons dan memberi jawaban sesuai dengan hati nurani mereka masing-masing. Saya tekankan ke mereka, bahwa di sini tidak ada jawaban salah atau benar. Tetapi ini tentang kebijaksanaan. Tentang rasa empati, sikap peduli dan jiwa sosial. Dari 24-an siswa, muncul berbagai respons dan tanggapan yang berbeda-beda. Ada jawaban yang serius, ada yang bijak, ada pula yang detail menulis mekanisme ketika menolong si korban tersebut. Ada juga jawaban yang cuek bebek, menggelitik, konyol, namun ada beberapa jawaban yang membuat netes airmata ketika membacanya.

“Saya akan pergi ke Masjid, sebab perintah agama lebih penting dari kegiatan apapun.” – jawaban ini terkesan egois.

“Saya segera menolong orang yang jatuh itu. Karena kalau tidak cepat ditolong maka ia akan modar (kata modar kemudian dicoret diganti mati)” – saya tertawa membacanya namun tetap mengapresiasinya.

“Saya memilih pergi ke Masjid lalu berdoa agar orang yang jatuh tersebut tidak mati. Saya yakin doa di hari jumat pasti dikabulkan oleh Allah. Dan biar Allah mengutus malaikat untuk menyelamatkan orang itu.” – jawaban yang ringan dan teoritis.

“Saya memilih menolong orang tersebut, lalu membawanya ke rumah sakit. Setelah itu mencari masjid terdekat untuk menunaikan sholat jumat. Jadi saya bisa melakukan dua kebaikan sekaligus.” – jawaban yang jenius.

Dari hipotesis sederhana di atas, kita bisa mendeteksi awal, meraba dan juga membaca tentang karakter/watak masing-masing anak. Ada yang memiliki watak egois, biasa saja, cuek, masa bodoh, peka dan ada pula yang berhati mulia.

Setelah menyimak semua tanggapan dari para siswa, perlahan saya ajak mereka untuk diskusi bersama.

“Sholat itu wajib tidak?”

“Wajiiiiibbb.”

“Sholat itu kepentingan pribadi atau kepentingan sosial?”

“Sosiaaal, eh pribadi.”

“Kalau menolong orang itu kepentingan pribadi atau sosial?”

“Sosial.” (kompak menjawab)

“Kira-kira atau baiknya, kita lebih utamakan kepentingan sosial atau kepentingan pribadi?”

“Sosiaaaallll…….”

“Kenapa?”

“Karena manusia adalah makhluk sosial.”

“Maksudnya?”

“Manusia tidak bisa hidup sendiri. Manusia butuh orang lain, jadi harus hidup rukun dan saling tolong menolong.”

Mendengar jawaban terakhir dari mereka saya lega. Bahagia rasanya. Dan kembali saya tegaskan ke mereka: “Intinya, kalau suatu saat kalian dihadapkan dengan peristiwa demikian. Cobalah untuk berbijaksana. Ampun egois. Jangan memikirkan kepentingan diri sendiri. Bergegaslah untuk menolong atau membantu sebisa kalian jika dihadapanmu ada orang yang sedang butuh pertolongan.”[]

Sejak nyemplung di dunia pendidikan, mau tidak mau saya pun dituntut melek tentang segala hal yang berbau pendidikan. Dan mulai tahun ajaran 2017/2018…