Wedang Uwuh (40)

Cantik Itu Tak Kelihatan

Kedaulatan Rakyat, 2 Agustus 2017

Sekarang saya yang tanya mengejar Pèncèng. “Persisnya bagaimana maksudmu kok kita tidak tahu apakah seseorang itu Muslim atau Budhis atau Kristiani. Juga tidak mungkin tahu orang berpuasa atau tidak”

Pèncèng tertawa. “Simbah ini bukan nanya, tapi ngetest

“Tidak. Tidak ngetest”, jawab saya, “Ini bukan Sekolah, tidak ada kurikulum dan tidak ada standar nilainya. Ini cuma silaturahmi, interaksi nilai. Supaya hidup ini tidak sekadar makan, kerja makin susah, listrik mati, pajak membingungkan, kepemimpinan masyarakat stagnan…Setiap orang perlu punya hitungan nilai, bekal filosofi dan tata manajemen, supaya tidak terlalu diombang-ambingkan oleh keadaan. Manusia itu makhluk berakal dan punya akses hidayah dari Tuhan…”

“Kok serius amat, Mbah”, kata Pèncèng, “memang saya dan teman-teman suka dolan ke Simbah supaya tidak jadi robot. Supaya tidak jadi boneka zaman dan pancikan ambisi para pemimpin”

“Jangan serem-serem tho Saudara Pèncèng…”, Beruk nyeletuk.

“Dijawab aja pertanyaan Simbah tadi”, Gendhon nyambung.

“Puasa itu tidak bisa diperlihatkan kepada orang lain. Seorang Bapak tidak bisa tahu persis anaknya puasa atau tidak. Dia hanya percaya anaknya puasa. Mungkin berpedoman pada gejala-gejala tertentu yang tampak pada perilaku anak itu untuk menyimpulkan dia puasa atau tidak. Tetapi kalau mau ilmiah dan empiris, Bapak harus mengawasi anaknya setiap detik dari Subuh sampai maghrib, baru sah data dan faktanya bahwa anaknya puasa”

“Masuk akal”, saya merespons, “Tapi kalau seseorang itu Muslim atau bukan mestinya tidak sukar memastikan. Asal tahu latar belakang keluarganya, kebiasaan sehari-harinya, apalagi ucapan-ucapannya yang mencerminkan Islam, atau kita tahu dia ke Masjid. Kan terbukti penduduk Indonesia ini mayoritas Muslim karena KTP-nya, jumlah Masjidnya, ramainya Shalat Ied atau Shalat Jumat. Ditambah tanda-tanda lain…”

“Itu tanda-tanda fisik. Itu yang saya sebut Manekin. Burung Beo juga bisa dilatih mengucapkan Syahadat bahkan Al-Fatihah. Bahkan handphone kita bisa qiroah, adzan, shalawatan, dan apa saja. Tapi yang saya maksud adalah Islam dalam arti nilai. Islam sebagai software. Islam sebagai sumber perilaku, akhlak, etika, cara bergaul, sampai yang besar-besar: sistem ekonomi, pola kepemimpinan, bangunan Peradaban…”

“Kalau di Jepang, Korea atau Jerman hukum tegak dan Pemerintah sangat santun kepada rakyatnya, sangat bertanggung jawab secara sosial ekonomi, padahal mereka bukan masyarakat Islam, apalagi Negara Islam, bagaimana memahaminya?”

“Itu pelaksanaan bagian mendasar dari nilai Islam. Islam sudah dikerjakan oleh orang yang belum tentu Islam. Sebaliknya yang Muslim mungkin malah mengerjakan nilai-nilai yang ditentang Islam. Makanya kalau bisa Kaum Muslimin mulai mengambil jarak terhadap materialisme”

“Maksudmu?”

“Mempertanyakan kembali kesimpulan-kesimpulan tentang Islam dan Ummat Islam yang didasarkan pada cara pandang materialistik, formalistik, hardware, casing, pakaian luar. Termasuk jangan mudah diperdaya oleh perilaku yang secara kasat mata seolah-olah mencerminkan atau mendukung Islam, padahal itu bagian dari strategi untuk mencelakakan”

“Wah makin gawat Pèncèng…”, Beruk menyela.

“Kaum Muslimin dan kita semua harus mulai belajar mengenali jarak antara pedas dengan Lombok. Antara peci surban dengan Islam. Bahwa gincu itu bukan bibir. Bahwa make-up itu pemalsuan. Jangan sampai kita disuguhi telethong sapi tapi dibentuk seperti roti terus kita makan karena menyangka itu roti beneran. Cantik itu tidak kelihatan, yang kelihatan itu wajah. Jangan percaya kepada wajah-wajah yang nampang di baliho-baliho dan iklan-iklan. Kita harus lebih berpedoman kepada yang tidak kelihatan. Kita harus mengandalkan kepribadian, bukan pencitraan. Mosok mau dikempongi terus setiap lima tahun…”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image