Cak Nun, Duduk Iftirosy dan Kesehatan

Menarik membaca artikel yang ditulis Donny Kurniawan berjudul Cak Nun dan Telapak Kaki Birunya. Izinkan saya mengutip kembali sebagian uraian artikel yang ia tulis itu.

Donny mengatakan: “Saya termasuk orang yang beruntung bisa duduk bersila di belakang Cak Nun di acara Kenduri Cinta. Sewaktu Cak Nun duduk (iftirosy) seperti duduk di antara dua sujud ada satu kondisi yang menarik mata saya. Yaitu telapak kaki beliau yang memiliki spot biru di tengah-tengah telapak kakinya. Spot itu ada di telapak kaki kanan dan kirinya. Sekarang kenapa (tanda biru) itu ada di telapak kaki Cak Nun? Setiap Cak Nun duduk berbicara dalam forum-forum Maiyah di manapun, beliau selalu duduk seperti duduk di antara dua sujud dan dalam jangka waktu berjam-jam. Metode duduk seperti itu sangat menguras tenaga kaki daripada duduk bersila. Saya tidak tahu detail kenapa beliau duduk seperti itu. Beliau pernah mengatakan duduk seperti itu membuat tulang punggung kita lurus, dan apabila tulang punggung kita lurus, maka syaraf-syaraf yang bekerja di tulang punggung akan ikut lurus dan bekerja dengan baik, dan mengakibatkan seluruh anggota tubuh yang diatur oleh syaraf-syaraf tersebut akan bekerja dengan maksimal. Hanya sejauh itu informasi dari beliau.

Donny lalu menguraikan pertanyaannya dan eksplorasinya: “Berapa lama ahli sujud bersujud untuk “mendapatkan” warna biru di keningnya? Berapa lama telapak kaki bisa membiru akibat dari duduk diantara dua sujud? Saya hanya bisa menyimpulkan, bahwa biru itu adalah bukti nyata kesetiaan Cak Nun dalam menghadiri rakyat dari segala strata, di manapun berada. Hanya beliau yang saya ketahui memiliki tanda itu. Saya tidak pernah melihat dari orang lain. Sekarang saya hanya bisa membayangkan berapa lama warna biru itu bisa terbentuk di kaki beliau? Berapa banyak Maiyah yang beliau hadiri? Berapa sering beliau duduk seperti itu? Berapa nilai kesetiaan beliau? Berapa besar kecintaan beliau kepada rakyat? Saya pernah melihat jadwal beliau yang ada lebih dari 15 kali dalam 1 bulan di berbagai daerah. Berarti mudahnya setiap 2 hari beliau berpindah daerah untuk Maiyahan. Setiap 1 kali Maiyahan acaranya berjam-jam terkadang sampai subuh? Beliau umur 64 tahun, dan tetap kuat dan setia dengan rakyat. Hanya dengan warna di telapak kaki beliau, saya bisa berfikir luas, mengenai makna kerja keras, kedisiplinan, kesetiaan, cinta, dan rahmat. Mungkin saya salah melihat, biarkanlah itu menjadi ilmu buat saya sendiri. Jika saya benar, maka hanya orang dengan kedisiplinan dan kesetiaan dan rahmat dari Allah yang bisa memiliki itu. Insya Allah.

Saya setuju dengan sebagian besar yang diuraikan Donny, posisi duduk iftirosy jauh lebih “tidak nyaman” dan sulit ketimbang misalnya dibandingkan dengan posisi duduk bersila. Selama membawa materi pengajiannya di acara-acara Maiyahan, Cak Nun tampil dengan model duduk iftirosy berjam-jam (atau seperti duduk sinden versi Jawa atau seiza versi Jepang).

Posisi duduk seperti fitur duduk di antara dua sujud dalam sholat itu, dilakukan dengan kedua kaki terlipat dalam lekukan rapat sempurna sudut lutut. Cak Nun tahan menjalani acara dengan posisi itu dalam rentang 7-8 jam. Tentu kita bisa berasumsi beliau lalui pula tanpa ada sensasi gringgingan (rasa kesemutan). Sementara saat beliau berposisi duduk demikian, pembaca dapat memperhatikan pada rekaman-rekaman acara di YouTube, di sebelah kanan kiri beliau, para narasumber lainnya dan para audiens semuanya lebih banyak (untuk tidak menyebutkan nyaris semuanya) berposisi duduk bersila.

Saya pribadi, kini mencoba membiasakan melatih diri duduk iftirosy terutama ketika momen mendengarkan khutbah jum’at (di samping latihan, posisi duduk seperti ini “afwan ya ikhwan”, manjur untuk mengusir “hantu somnolenia” alias kantuk bila khatib kurang gress dalam menyampaikan kotbahnya). Sesekali saya memperhatikan di sekeliling saya nyaris tidak ada jamaah jum’at yang melakukan posisi duduk iftirosy ini. Dalam kesempatan pertemuan dengan Cak Nun, beliau menjelaskan pada saya maksud posisi duduk iftirosy yang ia lakoni setiap acara Maiyah — tapi bukan dalam konteks penjelasan kesehatan, yakni sebagai posisi on “dalam bersiap menyambut ilmu”.

Seorang dokter senior di Jepang, ahli hematologi dan peminat kajian longevity (tentang usia panjang) Dr. Yuumi Ishihara mengatakan: “kekuatan tungkai bawah, sejak dari paha hingga telapak kaki sangat prinsip bagi kesehatan”. Ishihara mengumpamakan, segmen bawah manusia (pangkal paha hingga telapak kaki) seumpama akar bagi sebuah pohon, yang bila akarnya mengalami gangguan maka secara perlahan tapi pasti di atasnya (batang dan semua ranting serta dedaunannya) juga akan segera rusak. Tungkai bawah yang sehat adalah pra-syarat penunjang bagi kesehatan bagian atasnya alias penopang penting bagi sistem kesehatan. Seorang yang terkena gangguan penyakit degeneratif seperti lumpuh separuh badan akibat stroke, atau patah tulang paha akibat osteoporosis secara perlahan akan melemahkan semua sistem kesehatan yang ada di atasnya.

Bagaimana atau apa peran posisi duduk iftirosy dalam kesehatan? Dalam ibadah sholat, ada ada dua tipe duduk yaitu iftirosy (tahiyyat awal) dan tawarruk (tahiyyat akhir) yang perbedaan mendasarnya pada posisi telapak kaki. Gambaran duduk iftirosy sebagaimana dideskripsikan dalam hadits bahwa “Nabi duduk dengan tuma’ninah sehingga ruas tulang belakangnya mapan”.

Kelengkungan tulang belakang secara anatomis di daerah leher (Vertebrae cervikal) yang wujudnya cekung kemudian mencembung di daerah dada dan perut (Thorakoabdominal) kemudian cekung kembali menuju tulang ekor. Banyak riwayat mewartakan, Nabi jika tengah duduk maka posisi punggungnya tegak tanpa bersandar. Duduk iftirosy ini mirip dengan posisi ketika gerakan rukuk, di mana terjadi “pelurusan lengkungan itu”. Ini yang dijelaskan Donny: “duduk seperti itu membuat tulang punggung kita jadi lurus, dan apabila tulang punggung kita lurus, maka syaraf-syaraf yang bekerja di tulang punggung akan ikut lurus dan bekerja dengan baik, dan mengakibatkan seluruh anggota tubuh yang diatur oleh syaraf-syaraf tersebut akan bekerja dengan maksimal“. Dalam posisi demikian pembiasaan duduk ala iftirosy ini akan memperkuat otot punggung, hingga beban tulang belakang menjadi lebih ringan, dan akan melancarkan aliran otak di sumsum tulang belakang (liquor cerebrospinalis). Posisi duduk iftirosy terlihat anatomis karena tidak melipat perut.

***

Senior saya, dokter ahli Bedah dan penulis buku, Dr. dr. Sagiran Sp.B M.Kes pernah melakukan penelitian sederhana tentang efek medis yang ditimbulkan dari posisi duduk iftirosy ini. Ia menyimpulkan bahwa saat duduk iftirosy, sistem kolateral menjadi supply utama untuk memberikan oksigen dan nutrisi. Karena saat posisi duduk iftirosy, aliran darah utama di tungkai “terhenti” karena lipatan paha yang ekstrem. Kondisi itu menambah debit aliran darah ke otak dan organ dalam lainnya. Pada waktu yang sama untuk mengkompensasi kebutuhan tungkai bawah yang kekurangan oksigen. Rasa kekurangan oksigen itu yang kita rasakan sebagai sensasi kesemutan, di mana seluruh tungkai bawah seperti disetrum atau seolah ada rombongan serangga semut yang berjalan di dalamnya. Akibat kondisi kekurangan oksigen (hipoksia), tubuh melakukan mekanisme kompensasi yakni mengembangkan sirkulasi melalui jalur pembuluh kolateral di kaki (pembuluh-pembuluh darah dari percabangan-cabangan yang berdiameter halus yang menyuplai di sepanjang wilayah dengkul ke bawah).

Pada buku yang ditulisnya, ”Mukjizat Gerakan Sholat”, Sagiran melakukan observasi pada tiga subjek dengan body mass index yang berbeda, dengan mengamati perubahan saturasi (kejenuhan) oksigen darah, dan perubahan denyut nadi di tungkai pada saat melakukan gerakan duduk iftirosy. Pada saat berdiri, saturasi oksigen bisa mencapai 97-100 persen, dengan denyut nadi normal. Saat gerakan duduk mencapai tekukan sudut lutut sekitar 60 derajat, saturasi menurun sampai 93 persen dan akhirnya denyut nadi hilang, saturasi tidak terdeteksi lagi. Saya telah mencoba sendiri kegiatan ini dengan menghubungkan pulse oksimetry dijari kaki saat berposisi duduk iftirosy dan memang benar saturasi oksigen yang terukur dimonitor perlahan menghilang hingga angka nol (0).

Pada saat aliran darah utama berhenti total, maka debit darah ke otak dan organ penting bertambah, secara simultan pada tungkai kaki akan mengembang sistem sirkulasi kolateral (cabang pembuluh darah) yang sangat efektif, sehingga pembuluh darah menjadi lebih elastis. Bahkan dapat mencegah sumbatan arteri, vena, dan komplikasi penyakit diabetes berupa pembusukan kaki akibat gangguan pembuluh darah. ”Kalau seseorang tidak pernah berlatih melakukan duduk pembakaran (istilah lain Sagiran untuk duduk iftirosy), pada saat ia menderita penyakit seperti diabetes mellitus dan jalur utamanya tersumbat, akan busuk kakinya (gangren), terbentuknya jalur kolateral yang baik akan mencegahnya mengalami kondisi itu. Sagiran juga melakukan observasi yang sama untuk gerakan duduk bersila, namun efek yang menakjubkan seperti pada waktu duduk iftirosy tidak terjadi.

Duduk iftirosy juga menjaga kesehatan persendian dengan mengaktifkan kelenjar keringat pada lipat paha. Bertemunya lipatan paha dan betis meningkatkan produksi keringat sehingga meningkatkan kelancaran sekresi kelenjar keringat yang akan mengeluarkan mineral dan garam-garam dilipatan paha tersebut.

Bagaimana sekarang, apakah anda mau mencoba membiasakan duduk iftirosy? Dan meninggalkan jejak telapak kaki biru sebagaimana yang dimiliki oleh Cak Nun, sebagai salah satu tanda “min atsaris sujud”?

Sangatta, 2 September 2017