Mensyukuri 70 Tahun Cak Fuad

Cak Fuad: Kejernihan Mata Pandang terhadap Firman Allah

Kalau Cak Fuad (Ahmad Fuad Effendy) adalah sebuah panorama, alangkah luas, panjang, dan dalam panorama itu. Ada panorama Cak Fuad sebagai Kakak Sulung dari 14 Bersaudara; Cak Fuad sebagai Sesepuh Padhangmbulan; Cak Fuad yang dimerdekakan Allah dari pamrih, eksistensialisme, dan ambisi menapaki tangga karier; Cak Fuad yang “Sepanjang Usia Melestari Bahasa Arab”.

Alhamdulillah-nya adalah kita ditemani, disuguhi, diayomi, dicerahkan oleh ngaji tafsir Al-Quran di Padhangmbulan. Tafsir Cak Fuad mempilari dan menjaga martabat Padhangmbulan hingga Beliau berusia 70 tahun. Ini pun panorama tersendiri yang rabun mata saya belum cukup jernih memotretnya.

Bismillah, saya beranikan diri mendaftari beberapa poin tafsir tersebut. Tugas ini semakin tidak mudah mengingat Cak Fuad dan Cak Nun merupakan “satu-darah” yang tafsir Beliau berdua mengalir di setiap denyut kesadaran Padhangmbulan.

Postulat Maiyah

Pendapat saya benar, tapi mungkin ada salahnya. Pendapat dia salah, tapi mungkin ada benarnya. Demikian postulat yang disampaikan Imam Syafi’i. Tidak ada tafsir yang benar mutlak atau mutlak benar. Antara Imam Syafi’i dan Imam Hambali terjalin kemesraan sikap toleran karena keduanya tidak main mutlak-mutlakan.

Cak Fuad berulang kali menegaskan postulat tersebut. “Seperti itulah seharusnya Maiyah,” ujarnya. Tafsir Cak Fuad dilandasi kerendahan hati untuk tidak saling menyalahkan atau menjadi satu-satunya kebenaran. Tidak mandek dan tidak ngendeg. Tafsir tidak boleh statis, karena perjodohan Al-Qur`an dan akal terus bergerak, bergetar dan mengalir untuk merambah cakrawala kebenaran hingga Hari Akhir.

Maka, tafsir tekstual dan kontekstual adalah pijakan untuk berangkat—tidak lebih dari itu. Demikian pula penafsiran Al-Qur`an yang dikerjakan Cak Fuad tidak semata-mata berada dalam kurungan tafsir tekstual, sedangkan kenyataan faktual berada dalam kurungan yang lain. Dialektika antara realitas tekstual dan realitas faktual menyatu dalam pendaran-pendaran ilmu: melangit tapi tetap berpijak di bumi, membumi tapi dimuati kesadaran langit.

Disiplin tafsir tekstual tetap terjaga tanpa menafikan respons terhadap keadaan faktual di masyarakat. Dan tafsir kontekstual-faktual dimuati kesadaran langit, sembari tetap menjaga disiplin metodologi ilmiah ilmu tafsir.

Pergerakan ulang-aling, atas-bawah, luar-dalam, vertikal-horisontal, dunia-akhirat disuguhkan secara baik, benar, dan indah oleh Cak Fuad dan Cak Nun. Jamaah Maiyah menjadi tidak asing lagi dengan titik keseimbangan.

Tiga pakem jenis tafsir: tafsir bir-riwayah, tafsir bir-ra’yi, dan tafsir bil-isyarah digunakan pada pengajian Padhangmbulan untuk membaca atau merespons realitas yang tengah terjadi di masyarakat. Racikan dan adukan ketiga pakem tafsir tersebut disesuaikan konteks kebutuhan. Misalnya, tafsir bil-isyarah digunakan Cak Fuad untuk merespon Cak Nun yang menafsirkan kata “Rabb”. Cak Nun merasakan ada nuansa nggendong dan mlumah—tercermin melalui huruf “Ra” dan “Ba” serta titik di bawahnya. Tidak masalah, demikian Cak Fuad menanggapi, selama tidak bertentangan dengan makna hakiki kata tersebut.

Bukan perkara mudah menghadapi lompatan dan “keliaran” tafsir model Cak Nun. Terlepas Beliau berdua adalah saudara kandung, Cak Fuad merasa tidak direpoti oleh “keliaran” tafsir Cak Nun. Cak Fuad cukup telaten dan sabar menjadi huruf “Ba” yang menampung jamaah Padhangmbulan yang heterogen, lengkap dengan persoalan, problematika, karakter, dan kultur mereka.

Hal itu tidak membuat Cak Fuad oleng. Beliau tegak istiqomah. Tafsir ayat-ayat Al-Qur`an dari Cak Fuad tetap jernih, transformatif serta visioner, ungkap Pak Toto Rahardjo. Apa pasal? Masih menurut Pak Toto, saat berhadapan dengan teks diperlukan kejujuran yang mutlak dan tidak ada kepentingan memasukkan aspirasi pribadi. Cak Fuad membebaskan dirinya dari suka atau tidak suka terhadap apa yang diinginkannya.

Dari Tafsir, Sinau Bareng, Hingga Tadabbur

Tafsir ayat-ayat Al-Qur`an yang disampaikan Cak Fuad menghadirkan nuansa pembebasan. Ayat-ayat kebesaran Allah dalam Al-Qur`an (tekstual), alam semesta (fil afaqi) dan kenyataan diri (fii anfusikum) berdialektika secara utuh. Kata-kata dilacak secara serius akar etimologi dan terminologinya untuk ditemukan muatan substantif-denotatifnya.

Nuansa pembebasan itu dijumpai misalnya ketika Cak Fuad menyampaikan tafsir ayat “media sosial”. Ada ayat Al-Qur`an menyinggung medsos? Tidak secara tekstual, melainkan secara substantif maknawi yang diberangkatkan dari etimologi dan terminologi kata. Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan Barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. (Q.S. An-Nisa’ 114)

“Ini tafsir kontekstual. Kalimat najwaahum yang biasanya diartikan bisikan-bisikan mereka, nyaris kita temukan juga dalam perilaku orang bermedia sosial. Jadi najwaahum bisa dikaitkan dengan media sosial,” tutur Cak Fuad.

Semakin jelas—tafsir ayat yang disampaikan Cak Fuad berdialektika dengan kenyataan faktual yang tengah berlangsung di masyarakat. Terkadang Beliau menukik dengan pertanyaan yang tajam: apakah kita sekadar jadi orang muslim ataukah sudah menjadi orang mukmin? Pertanyaan ini disampaikan pada acara Sinau Bareng Pondok Modern As Salam Mojokerto belum lama ini. Pertanyaan yang sungguh tidak lazim di tengah masyarakat yang gandrung “pengajian infotainment”.

Metodologi berpikir pun diberangkatkan dari ayat Al-Qur`an. Cak Fuad menyitir surat Al-Hujurat 14: “Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi Katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Tidak mudah mengajak jamaah berpikir, menatap kenyataan diri sendiri, bermuhasabah untuk menakar kembali kesadaran iman dan islam. Tapi, bagi jamaah Maiyah latihan playon cara berpikir yang linier sekaligus melingkar—citra berpikir spiral—bukan barang baru. Mereka sudah nyego-jangan.

Padhangmbulan dan Majelis Ilmu Maiyah bukan sekadar pengajian tafsir—tanpa harus mengurangi relevansi metodologi ilmu tafsir. Sinau Bareng adalah term kesadaran yang cukup akurat untuk mengkomunikasikan upaya meng-aji-kan diri. Sinau Bareng adalah ngaji itu sendiri. Belajar dari ayat-ayat Allah yang tertulis secara tekstual dalam Al-Qur`an, alam semesta dan kenyataan diri.

Maka, ayat-ayat Al-Qur`an selain ditafsiri juga ditadabburi. Tafsir ayat Al-Qur`an menggunakan disiplin metodologi kajian ilmiah. Tadabbur beraksentuasi pada tahapan-tahapan sesudahnya, bukan berkutat pada satu hal (input) saja. Dengan mentadabburi Al-Qur`an, jamaah diajak berpikir: setelah memahami tafsir sebuah ayat, apa yang hendak dilakukan. Output tadabbur adalah semakin dekat dengan Allah, semakin cinta kepada Rasulullah, semakin ngajeni sesama manusia.

Matursembah Nuwun, Cak Fuad

Melalui tafsir, sinau bareng dan tadabburan di depan kita terhampar cakrawala ilmu yang berpendar-pendar. Vibrasi ayat-ayat Al-Qur`an menelusupi sel-sel kesadaran. Beberapa pendaran tafsir itu di antaranya:

  • Alif Laam Raa. (ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrahim: 1)

Mencermati kalimat litukhrija (fi’il mudlori’: kata kerja yang menunjukkan waktu sedang terjadi dan akan terus berlangsung), proses mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya tengah terjadi hari ini dan terus berlangsung hingga waktu yang akan datang. Cahaya itu dipancarkan melalui perilaku yang berakhlak mulia.

  • Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkan dan berlapang dadalah, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. Al-Baqarah: 109)

Fa’fuu washfahuu–maafkan dan berlapang dadalah. Sikap kunci untuk meredam amarah yang kerap membuahkan benturan dan perilaku saling serang, bahkan sesama kaum muslim sendiri.

  • “Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. (Q.S. Al Hujarat: 9)

Al-‘adlu terkait dengan keadilan yang bersifat kontekstual, dan al-qisthu keadilan yang pasti dan akurat. Keduanya, al-‘adlu dan al-qisthu, penyelengaraannya diemban oleh seorang hakim.

  • “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu sedang kamu mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 42)

Fenomena talbis yang paling awal ditemukan pada peristiwa Iblis membujuk Adam dan Siti Hawa. Inilah tugas iblis yang kurang diwaspadai manusia. Iblis bertugas mengacaukan cara berpikir, pola berpikir, dan struktur berpikir supaya yang benar jadi tampak salah dan yang salah jadi tampak benar. Kekacauan berpikir ini dimulai pada bujuk rayu Iblis kepada Siti Hawa dan Nabi Adam. Buah Khuldi adalah nama pemberian Iblis untuk “pohon larangan” yang harus dimakan oleh Siti Hawa dan Nabi Adam agar kekal di surga.

Tentang talbis atau pencampuradukan hak dan batil, Cak Fuad menguraikan satu titik di mana jebakan-jebakan talbis itu berlangsung. Yaitu perbedaan kepemimpinan suku dengan logika demokrasi. Selama ini demokrasi diasumsikan lebih baik dari sistem suku. Pemimpin suku tidak selalu turun-temurun melainkan dipilih dari sosok yang pemberani dan kuat agar bisa melindungi kaumnya. Sementara dalam demokrasi, siapa yang kaya dia bisa jadi pemimpin. Pola kepemimpinan suku tidak selalu lebih buruk dari demokrasi.

  • “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam silmi keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. Al-Baqarah: 208)

Menurut Cak Fuad, ayat ini mempunyai beberapa arti. Kata silmi dalam ayat itu bisa diartikan sebagai kedamaian, ketaatan, dan juga Islam. Masuklah kalian dalam perdamaian, ketaatan, dan Islam secara menyeluruh. Adapun makna Islam dari silmi di sini lebih cenderung kepada isi, atau substansinya. Bukan sekadar kulitnya atau strukturnya saja.

Adapun silmi adalah definisi subtansial. Cak Fuad menukil hadits Rasulullah dari Abdullah bin Amr: “Muslim adalah orang menyelamatkan kaum muslim lainnya dari lisan dan tangannya. Muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan hal-hal yang terlarang untuk dilakukannya. Mukmin (orang yang beriman) adalah orang yang memberikan keamanan bagi orang lain atas darah dan harta mereka.”

Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i itu menjelaskan kandungan nilai Islam—yang tak lain adalah silmu itu sendiri. Jadi, Islam adalah sistem struktural formal. Silmu adalah sistem struktural substansial.

  • Dan cukup panjang, beragam dan dalam panorama tafsir Cak Fuad. Keterbatasan ruang tidak memungkinkan pendaran-pendaran ilmu itu disusun di sini.

Pendaran yang bersahaja adalah laku hidup Cak Fuad itu sendiri—laku hidup yang sederhana, sabar, rendah hati dan toleran. Di tengah kesibukan dan jadwal yang padat Beliau masih sempat mengirim jawaban beberapa pertanyaan terkait ayat atau hadits yang terlewat saya catat di Padhangmbulan.

Apa yang pernah disampaikan Cak Nun memang benar adanya. Bagi Cak Fuad, 7 saja sudah cukup. Dan bagi kita, 7 adalah luberan-luberan kejernihan dan kedalaman mata pandang terhadap firman-firman Allah.

Matursembah nuwun, Cak Fuad. []

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image