Bunyi-Bunyi Sunyi

Mengenal kata ‘etnomusikologi’ bagi saya seperti sebuah anugerah sekaligus kutukan. Kutukan karena pada saat mendaftar di ISI (Institut Seni Indonesia) Surakarta yang dulu bernama STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia), saya tidak paham betul mengenai seluk beluk dunia kampus seni. Kampus seni adalah pilihan kesekian karena pada dasarnya saya tidak suka ‘bersekolah’ sejak kecil. Bukan kata ‘etnomusikologi’ yang saya dapatkan pertama kali. Melainkan kata ‘teknomusikologi’. Saya tidak sedang bergurau. Ini kenyataan konyol yang harus saya terima sebagai pengantar untuk mengenal lebih jauh bunyi demi bunyi yang saya temui melalui tulisan ini.

“Kamu mau kuliah di seni?” tanya kakak perempuan saya yang kebetulan kuliah di UNS.

“Iya. Daripada nggak kuliah. Nuruti ibu. Sing penting kuliah.” Jawab saya.

“Itu ada jurusan ‘teknomusikologi’ di ISI. Mau?”

“Boleh.” Jawab saya datar.

Alhasil dari Pati saya melenggang ke Solo. Sampai di kampus ISI, tidak saya temukan kata ‘teknomusikologi’. Saya pikir apa kakak saya salah sebut? Kok tidak ada jurusan itu?

Saya lihat-lihat lagi dengan seksama ternyata nyempil kata ‘etnomusikologi’ yang saat itu berada satu atap dengan jurusan Karawitan. Apa ini ya?

Tanpa pikir panjang, saya mendaftar dan mengikuti tes ujian masuk. Saya memasuki lorong gelap tanpa tahu sama sekali apa itu ‘etnomusikologi’. Salah informasi? Bisa jadi.

Ujian setahap demi setahap saya lakoni. Ternyata pada saat sesi wawancara, ada hal menarik yang ditanyakan. Salah satunya tentang bagaimana kita melakukan pendekatan terhadap objek penelitian yang tergolong ‘keramat’ atau ‘dikeramatkan’.

“Saya percaya Tuhan Pak.” Jawab saya polos. Daripada tidak menjawab sama sekali.

Entah karena wangsit dari mana kampus itu menerima saya. Mungkin kampus itu mengalami salah informasi juga terhadap saya. Kemampuan yang saya jaga selama ini hanyalah ketahanan untuk mendengarkan. Mendengarkan jenis musik apa saja. Mendengarkan cerita dari siapa saja. Mendengarkan informasi entah itu yang benar atau yang salah kaprah sedemikian rupa. Ketahanan mendengarkan itu semakin terlatih ketika kuliah di Etnomusikologi. Karena banyak sekali bunyi-bunyian yang diramu dengan berbagai latar budaya, konsep kematangan berkarya, penyajian musik yang ‘tidak biasa’, saya dengarkan dari para seniman. Dari dalam dan luar negeri.

Gong diseret. Penjual putu diajak bermusik. Truk proyek ‘molen’ dibawa ke panggung. Tong-tong sampah dipukuli. Gergaji dimainkan seperti gitar. Kejadian-kejadian dalam pertunjukan ‘aneh’ itu sering saya temui.

Secara teknis analisis dan praktik bermusik, saya masih jauh di bawah garis kewajaran. Karena itu saya masih berada dalam tahap awal mendengarkan. Mendengarkan dan terus bertahan mendengarkan tanpa buru-buru berkomentar.

Bunyi yang diramu menjadi musik, bisa berdiri sendiri sebagai suatu organisme mandiri, bisa juga berbaur dengan organisme lain yang disebut ‘lirik’. Contoh sebagai organisme mandiri adalah pada saat pertunjukan orkestra. Dan musik yang membaur dengan kata/lirik dapat kita temui dalam musik sebagaimana yang dipahami selama ini. Musik dan lirik lebih dikenal dengan sebutan lagu. Terlepas dari kajian teori-teori musik yang selama ini beredar. Terlepas dari frame tradisional-modern, musik barat-timur, musik beradab-biadab.

Salah satu fenomena musik yang saya temui adalah kelompok KiaiKanjeng. Karena sudah ‘terbiasa’ menemui komposisi musik kontemporer, awalnya saya tidak begitu heran dengan komposisi musik yang ada di KiaiKanjeng. Alat-alat musik yang ada melebur menjadi satu sampai tidak ada sekat-sekat yang membatas terbukanya kemungkinan demi kemungkinan. Ada saron, bonang, kendhang, yang berasal dari kebudayaan Jawa, melebur dengan keyboard, gitar, bass, biola, seruling bambu, drum.

Kurang lebih sembilan tahun yang lalu saya mengenal KiaiKanjeng. Bagi saya memang tidak ada yang istimewa saat itu. Seperti lazimnya kelompok musik, mereka juga intens melakukan latihan. Termasuk membuat karya-karya musik baru. Sampai tahap ini saya masih belum begitu ‘ngeh’. Hingga suatu ketika saya tahu bahwa para personel KiaiKanjeng tidak semuanya berasal dari dunia kampus seni khususnya musik.

Lho?

Saya pernah mencoba mendengarkan musik KiaiKanjeng dengan mata terpejam di salah satu momen Mocopat Syafaat. Terpejam tapi bukan tertidur. Di sini saya mengerahkan kemampuan mendengarkan saya dengan sangat maksimal. Saya menyimak detail bunyi-bunyian yang dimainkan. Termasuk pilihan karakter sound yang terbangun. Imajinasi saya melayang. Saya bayangkan para pemainnya adalah anak-anak muda berusia dua puluh sampai dua puluh lima tahun.

Salah satu lagu yang nyantol di telinga saya adalah Rampak Osing. Coba sekali-sekali dengarkan dengan detail lagu itu. Saya bilang, secara teknis itu rumit. Permainan saron dan bonang dengan teknik imbal–semacam teknik permainan dengan saling mengisi keterkosongan dan dimainkan secara bergantian tidak bersamaan, musik-musik Bali lebih sering menggunakan teknik ini–dikemas dengan pendekatan budaya musik orang Banyuwangi. Ditambah sentuhan seruling bambu di beberapa titik. Saya tidak akan membahas lebih jauh untuk susunan nada yang ada pada saron dan bonang yang dipakai KiaiKanjeng. Kalau saya tidak keliru komposisinya bukan seperti saron dan bonang yang lumrah.

Atau coba dengarkan nomer Gundhul-Gundhul Pacul. Kalau menurut saya komposisi itu cukup disulit dimainkan tanpa melihat partitur notasinya. Kalau sekedar dihafal mungkin banyak lupanya.

Oke. Sampai di sini analisis teknis saya bisa anda tambahi sendiri dengan memperhatikan betul detail-detail bunyi yang dihasilkan oleh kelompok KiaiKanjeng. Harap diingat, saya tidak sedang memuji, tapi coba pasang telinga anda baik-baik. Saya baru membahas teknis musikal. Itu pun masih dalam tataran permukaan. Saya belum sampai mengusik lirik-lirik lagu mereka.

Kalau yang lagi hits sekarang ini adalah komposisi cover lagu One More Night-nya Maroon 5. Dengarkan komposisi lagu itu secara khusyuk. Lagu itu digubah sedemikian rupa oleh KiaiKanjeng. Komposisi yang ketika saya mendengar untuk pertama kalinya langsung berucap,

Eh lha jancuk iki. Lha kok tekan kene? Penak iki e timbang sing asli.”

Teman saya pernah melakukan penelitian terhadap fenomena musik KiaiKanjeng ini. Dia mendapati bahwa ternyata musik KiaiKanjeng selain memiliki tingkat teknis yang cukup rumit, juga berfungsi sebagai media komunikasi sosial. Apa meneh iki?

Musik yang diramu KiaiKanjeng seolah memberikan pelayanan kepada manusia. Pelayanannya super eksklusif. KiaiKanjeng membaca zaman. KiaiKanjeng melakukan penyesuaian-penyesuaian. Salah satunya seperti kemunculan komposisi cover lagu One More Night Maron 5 tadi. Kiaikanjeng punya karya-karya sendiri. Tapi begitu diminta jamaah membawakan lagu dangdut, seolah KiaiKanjeng lenyap begitu saja dan menjelma kelompok orkes melayu.

KiaiKanjeng membawakan langgam. KiaiKanjeng berproses dalam pementasan Jazz Tujuh Langit dan Indonesian Jass Festival. KiaiKanjeng ikut menyemarakkan festival gamelan. KiaiKanjeng ditemukan dalam pementasan teater. KiaiKanjeng bermusikalisai puisi bersama Cak Nun. Atau tiba-tiba KiaiKanjeng menemani para jamaah melantunkan wirid.

Tapi, KiaiKanjeng juga tidak dikenal media massa. Bunyi-bunyian yang beragam dan begitu detail begitu rumit tidak terdengar oleh mereka. Mungkin bunyi-bunyian yang dihasilkan KiaiKanjeng adalah bunyi-bunyi sunyi.

Sampai tahap ini, saya bertanya,

Lho? Mereka kan bukan anak usia 20-25?

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image