Wedang Uwuh (46)

Bungkus Kado dan Kebo Nyusu Gudèl

Kedaulatan Rakyat, 12 September 2017

Demi Tuhan saya tidak kuat membaca paparan anak-anakku Gendhon, Beruk, dan Pèncèng. Kalau ada teman atau siapa-siapa menanyakan soal itu, tak kan mungkin saya menjawabnya. Kecuali saya reduksi. Saya sederhanakan. Saya samarkan melalui sanepan-sanepan.

Saya, dan mungkin kebanyakan orang, bukan sekadar kawulo apes. Kita harus menanggung kenyataan-kenyataan yang hampir sama sekali bertentangan dengan nilai-nilai yang sejak kanak-kanak diajarkan oleh orangtua kita. Hidup ini seperti jatuh terjungkal karena tiba-tiba ada lubang menganga di depan. Seperti meluncur ke jurang tanpa bisa menahannya. Seperti dijungkrakké memasuki Gua Raksasa yang gelap gulita, tanpa cahaya, tanpa ilmu dan pengetahuan.

Gusti Pengeran kawulo nyadhong peparing sabar ugi tawakkal. Potret berbagai keadaan. Manusia-manusianya. Perilakunya yang saya tak pernah membayangkannya bisa dilakukan oleh manusia. Budayanya, yang mungkin Malaikat dan Iblis sendiri pun tak pernah mensimulasinya. Keharusan-keharusan yang tak dilakukannya. Ketidaklayakan yang justru ditradisikannya. Nafsu maniaknya terhadap dunia, kekuasaan, pemilikan pangkat jabatan dan harta benda.

Mudah-mudahan ada cukup banyak mahasiswa S3 yang menyiapkan tenaga, kerelaan hidup dan ketabahan hati untuk meneliti, merancang disertasi tentang ini semua. Potensi kenyataannya bisa diteliti dan ditulis menjadi beratus-ratus disertasi. Satu disertasi misalnya “Transformasi Ilmu dari Putih ke Hitam karena Hubbun-dunya”. “Ambisi Kuasa dan Harta sebagai Potensi Primer manusia”. “Peradaban Minadh-dhulumat Ila Adhlamidh-dhulumat”. Ah, ratusan judul. Ribuan detail. Jutaan partikel perusakan kemanusiaan. Tak terhingga hawa bunuh diri kemanusiaan pada kehidupan manusia.

“Kok kalian nulisnya muter-muter begitu?”, saya tanya kepada anak-anak.

“Lha Mbah juga ngomongnya muter-muter”, Pèncèng yang menjawab duluan.

“Kenapa tidak tegas saja menunjuk titik persoalannya”

Beruk tertawa. “Mbah juga malah menyamar-nyamarkan masalah yang sebenarnya”

Gendhon yang biasanya lebih pendiam, malah tertawa terpingkal-pingkal. “Mana mungkin Mbah saya menuliskan semua itu”, katanya, “mungkin 90 persen kebenaran harus kita sembunyikan. Sebab kalau bocor 1-2 persen saja, bisa menambah masalah baru, dan keadaan akan menjadi semakin runyam. Simbah sendiri yang mengajarkan: jangan terlalu mengandalkan kebenaran. Kebenaran itu bekal di dalam diri kita untuk mengolah sikap. Mbah sering sekali bilang bahwa kepada orang lain, yang kita sampaikan adalah kebijaksanaan”

“Tapi kan orang perlu mengerti kejelasan suatu hal”, saya menawar.

“Mbah, kalau kita kasih kado ke orang lain kan harus dibungkus”, jawab Gendhon, “bahkan bungkusnya bisa berlapis-lapis. Sesudah isinya dibuka, dipegang di tangan dan tampak oleh mata, sebenarnya masih ada bungkus-bungkus berikutnya yang berlapis-lapis. Ialah bungkus makna, kemungkinan konteks-konteks, ribuan nuansa, ribuan tafsir…”

Beruk menambahkan, “Kalau penafsirannya mendekati kebenaran pun masih ada bungkusnya lagi. Yakni bungkus asli yang disimpan di pikiran hati pemberi kado. Tidak mungkin bebrayan dilaksanakan dengan saling bertelanjang bulat…”

“Kalau telanjang bulat pun tidak berarti semua sudah transparan”, Pèncèng tidak mau kalah, “kan ususnya tetap di dalam perut. Darahnya tetap di dalam tubuh. Tulangnya masih terbungkus daging. Padahal transparansi kan komunikasi terang benderang sampai ke tulang sungsum dan isi sel-sel darah. Transparansi itu mustahil. Itu sekadar batas maksimal dari keperluan komunikasi manusia. Tapi tidak pernah benar-benar transparan”

Tapi saya pastilah tidak mau kalah melawan cucu-cucu saya. “Kan paparan kalian hanya untuk Simbah. Sebenarnya kalian bisa lebih berterus terang, meskipun Simbah juga mengerti semua yang kalian bungkus dan tutup-tutupi. Simbah belajar Ilmu Katon kan dulu sebelum remaja. Sesudah itu sampai tuwèk èlèk begini ini yang Simbah pelajari justri wadining urip, fakta-fakta kehidupan manusia yang dirahasiakan karena hakikinya memang harus dirahasiakan. Atau kasunyatan yang disembunyikan karena kepentingan-kepentingan keduniaan”

“Ah, Simbah berlagak pekok”, Pèncèng mentertawakan saya.

“Gini saja”, kata saya akhirnya, “dalam seluruh persoalan yang kita semua tidak tega untuk mengemukakannya ini, saya ingin ketegasan: kalian membela yang mana?”

“Memang ada yang butuh pembelaan saya, Mbah?”, Pèncèng balik tanya.

“Saya tidak berposisi untuk bisa berguna atau berpengaruh kalau saya membela”, Beruk menambahkan.

Gendhon juga menjawab. “Pertanyaan Simbah itu aneh. Simbah kan sudah tahu persis prinsip nilai hidup saya, kompatibilitas hati saya dan dialektika berpikir saya. Simbah pasti sudah tahu jawaban yang Simbah tanyakan”

“Saya mau kali ini agak terang-terangan”, saya mendesak.

Mereka berpandangan satu sama lain.

“Saya berpihak pada yang dianiaya”, kata Pèncèng.

“Bagaimana kalau semua pihak merasa dianiaya?”, saya mengejar, “sehingga siapapun yang membela manapun mengemukakan alasan yang sama: kami berpihak pada yang dianiaya”

“Kalau begitu ini kompetisi keteraniayaan”, Beruk menyahut sambil tertawa.

“Siapa Wasitnya?”, saya terus mengejar.

Gendhon menjawab serius: “Mestinya Wasitnya ya Mahkamah Konstitusi Langit. Kalau yang terjadi kan Kebo Nyusu Gudèl. Itupun Gudèlnya anak Kebo. Cucu kok diminta menghakimi kebenaran sejarah Kakèknya”. []

Demi Tuhan saya tidak kuat membaca paparan anak-anakku Gendhon, Beruk, dan Pèncèng. Kalau ada teman atau siapa-siapa menanyakan soal itu, tak kan mungkin…