Daur-II • 145

Bukan Ulama Adalah tapi Adalah Ulama

Kemungkinan ketiga kelembutan menurut Cak Sot adalah bagaimana mengarungi samudera Al-Qur`an seperti kekasih mengembarai cinta. Ada unsur pembelajaran seperti murid Sekolah di dalam membaca Al-Qur`an, tetapi ia tidak bisa berdiri sendiri. Ia hanya salah satu mekanisme.

Harus ada harmoni dan kemenyatuan antara fungsi-fungsi seluruh anasir kejiwaan kita. Ada memahami, ada merasakan, ada memandang, ada mendalami, ada melihat, ada tergetar, ada mendengar, ada penasaran. Dan bermacam-macam kemungkinan kejiwaan pada kita sebagai manusia.

“Al-Qur`an bukan milik kaum terpelajar sehingga mereka merasa berhak mengklaim dan memonopoli”, kata Cak Sot, “Al-Qur`an untuk semua hamba Allah, dan parameternya adalah kadar ketaqwaan. Dan kadar ketaqwaan hanya diketahui secara Maha Lembut oleh Allah sendiri. Jangan ada manusia yang menggantikan posisi Allah”

Dan di ujung pembicaraan tentang huruf-huruf muqatha’ah itu Cak Sot dengan nada agak khusus dan pelan-pelan mengemukakan contoh: “Tema ini jangan terlalu keras diomongkan. Dan kalau bisa tak usah dibawa-bawa keluar dari rumah Patangpuluhan. Biarkan ini menjadi bahan tahu sama tahu di antara kita saja”

Semua bertanya-tanya apa yang dimaksudkan oleh Cak Sot.

“Misalnya, Allah berfirman “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. [1] (Fathir: 28). Apakah itu berarti sudah ada kesepakatan masyarakat bahwa Ulama adalah yang ini yang itu, kemudian Allah menuding mereka sebagai golongan yang takut kepada Allah. Ataukah setiap orang digiring untuk takut kepada Allah untuk memungkinkan kita adalah Ulama?”.