Daur-II • 224

Bukan Ditidurkan oleh Allah

Jitul berpendapat melalui pertanyaan: “Apakah kita semua Kaum Muslimin Nusantara, alias para Ahlul Gua Sirna sekalian, yang kalau shalat Jumat berjamaah selalu disebut oleh Khotibnya sebagai Kaum Muslimin yang berbahagia dan dirahmati Allah ini – sejak abad 14 dibikin ngantuk oleh Allah, kemudian secara bertahap menjadi tertidur pada abad-abad berikutnya, lantas mengigau pada 1945 sampai sekarang – ataukah itu ngantuk-ngantuk kita sendiri, kelalaian kita sendiri, ketidakwaspadaan kita sendiri, ketidak-berpijakan sejarah kita sendiri?”

Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran“. [1] (Al-Kahfi: 14).

Jitul tertawa. “Betapa jauh bedanya”, katanya, “Ashabul Kahfi diteguhkan hatinya oleh Allah, Ashabul Gua Sirna roboh ambruk hatinya oleh badai sejarah, terutama. Yang satu ‘Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi. Lainnya ‘Tuhan kami adalah Tuhannya orang Islam, Tuhannya Madzhab, Tuhannya aliran dan Ormas. Yang satu Islamnya adalah syariat seluruh sistem jagat raya. Lainnya Islamnya adalah jumlah Rukun Iman dan Rukun Islam…”

“Waduh Jitul dapat makanan empuk…”, celetuk Junit.

Jitul terus nyerocos dengan senyum-senyum. “Yang satu tidak menyeru Tuhan selain Allah. Lainnya menyeru tuhan uang, tuhan Pemerintah, tuhan Presiden, tuhan Kapitalisme, Globalisasi, hedonisme, harta benda, jabatan dan pangkat sosial…”

“Bahkan bukan sekadar menyeru”, Toling memotong, “tapi juga melet-melet, menjulur-julurkan lidah, ndusel-ndusel ke penguasa, mengemis, merajuk-rajuk…”

“Aduh kasar kamu Ling”, kata Junit.

“Mending kasar tapi nyata, dari pada pengemis berpakaian priyayi, preman berpakaian Ulama…”, Toling menjawab.