Buddhisme, Evolusi Sejarah, dan Pancasila yang Bertauhid

Catatan Majelis Ilmu Padhangmbulan, Jombang 9 Juni 2017, Bagian 2

Malam berganti hari. Jam setengah satu dinihari. Mbah Nun uluk salam kepada jamaah. Suaranya terdengar agak berat, seperti mengajak kita untuk mengendap sejenak. Benar saja, sebuah pesan cukup penting dan mendasar disampaikan beliau.

“Kalau Anda ikhlas, nanti sampai rumah, buka surat Al-Mukminun [23] ayat 115-118, syukur dihafalkan,” pesan Mbah Nun. “Baca surat Al-Fatihah tujuh kali, shalawat tujuh kali, surat Al-Mukminun tujuh kali, lalu mateg aji — dirimu hilang, tinggal kalbumu, yang menyatu dengan Kalbu Allah. Tiga level Kalbu Allah adalah qadla, iradah, amr.”

Seandainya akan perang, kita harus memiliki segala pengetahuan tentang peperangan.
Seandainya akan perang, kita harus memiliki segala pengetahuan tentang peperangan. Foto: Hariyadi

Istiqomah membaca surat Al-Mukminun ini supaya kita tidak digawe dulinan. Siapa saja yang mempermainkan kita, baik urusan yang kecil atau besar, persoalan pribadi atau keluarga, permasalahan di kampung atau negara, Allah akan tidak rela atas perlakuan itu.

Seandainya akan perang, kita harus memiliki segala pengetahuan tentang peperangan. Mulai dari pengetahuan peluru kendali (rudal), bom yang jenisnya bermacam-macam, granat dan lain-lain. Mengapa Mbah Nun menyinggung soal perang dan segala perangkat pengetahuan yang dibutuhkan? Supaya kita mengetahui letak semua persoalan itu. “Kalau Anda tidak mengerti posisi, berarti Anda tidak punya orientasi. Kalau Anda tidak punya orientasi, berarti Anda tidak mengerti arah. Semua kelengkapan itu dibutuhkan supaya hidup kita jangkep,” ujar Mbah Nun.

Jangkep — bahasa Jawa yang dibahasa-Indonesiakan menjadi lengkap atau genap. Simulasinya, 1 adalah angka ganjil, 2 adalah genap. Tapi, yang paling genap dari genap, kelak, adalah yang ganjil. Kegenapan Allah adalah pada ganjilnya. Ini bukan soal pengertian ganjil-genap yang bisa menjadi tipuan, melainkan terkait dengan tauhid. Allah memerintah kita bertauhid karena asal-usul sifat Allah adalah Ahad, yang bersifat ganjil. Lalu ada penyatuan kembali melalui proses tauhid. Terkait proses penyatuan ini, ada tahap di mana Allah itu Wahid.

Mbah Nun kemudian mengelaborasi proses tersebut — meminjam bahasa Pancasila — menjadi proses persatuan, penyatuan dan kesatuan. Tiga idiom kata ini: persatuan, penyatuan dan kesatuan tidak pernah diurus dan dilacak makna pengertiannya secara serius. Penyatuan adalah proses perjuangan yang menghasilkan kesatuan. Persatuan adalah sifat dari kesatuan. Nah, penyatuan ini dalam Islam dikenal sebagai tauhid.

Terapung-apung di antara Langit dan Bumi

Berangkat dari asosiasi tahapan penyatuan, Mbah Nun menawarkan cara pandang bahwa kita sedang terapung-apung di antara langit dan bumi. Kaki tidak menginjak di bumi, karena tanah di bumi bukan milik kita lagi. Tanah air bukan tanah air kita lagi. Sementara tidak sedikit manusia yang terapung-apung di angkasa. Tiada langit baginya. Sedangkan Maiyah masih punya langit-langit surat Al-Mukminun, yang secara tegas menyatakan Allah menciptakan manusia tidak untuk main-main. Kepada siapa mereka akan dikembalikan selain kepada Allah?

Maka, atas segala persoalan yang menimpa bangsa Indonesia kita harus menemukan presisi koordinat persoalan itu. Dalam konteks hidup bernegara, kita tengah dipermainkan oleh hanya beberapa orang saja, demikian ungkap Mbah Nun. Kita tengah diadu agar mempertentangkan segala hal yang sebenarnya tidak ada persoalan apapun sebelumnya. Yang paling aktual adalah “Saya Pancasila”. Ini ungkapan ambigu sekaligus menegasikan yang selain Saya bukan Pancasila. Yang Pancasila hanya Saya!

Diakui Mbah Nun rakyat Indonesia sedang dicacah menjadi kepingan-kepingan. Kita disuruh berperang, dan bahkan diciptakan atmosfer agar berdebat tentang hal-hal yang sebelumnya tidak pernah jadi masalah. Akibatnya, peristiwa cinta, peristiwa toleransi biasa, peristiwa bebrayan sosial diolah sedemikian rupa menjadi bahan pertengkaran.

Foto: Hariyadi

“Memang ada apa dengan Pancasila?” tanya Mbah Nun. “Apa kalau sudah Islam tidak Pancasila?” Kita bisa mendaftari beberapa kata dan pengertian. Misalnya, Tuhan Maha Esa dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa — itu ide dari mana? Sejak awal Pancasila memang tidak ada masalah, sebab ide sifat Maha Esa kulakan dari Islam. Jadi, dari sudut ide dan eksplorasi makna tidak ada wacana lain kecuali diambil dari wacana Islam.

Sila-sila berikutnya adalah aplikasi dari sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Kalau kita bertauhid, meyakini Allah Maha Esa, perilaku kita adalah perilaku yang adil dan beradab. Nah, dari mana asal kata adil? Dari bahasa Indonesia ataukah bahasa Jawa? Dari mana lagi kalau tidak dari Al-Quran, karena bahasa Indonesia dan bahasa Jawa tidak mengenal diksi “adil”.

Sampai di sila kedua, Mbah Nun berbelok untuk menambah bobot pemahaman, meluaskan cakrawala pandangan, mengeksplorasi makna pengertian. Jamaah diajak melihat peta kenyataan faktual bahwa peradaban manusia abad ke-21 masih berkutat pada kemanusiaan manusia. Jek belajar dadi menungso. Ini benar-benar cara berpikir ulang-alik khas Maiyah — mendalam dan meluas, ke depan dan ke belakang, maju dan mundur. Semuanya mengutuh. Bagaimana hal ini dijelaskan?

Peradaban Abad Ke-21 yang Baru Belajar Menjadi Manusia

Mbah Nun memakai analogi sederhana untuk menjelaskan tahap penciptaan manusia. Dimulai dari batu atau materi, lalu batu yang di atasnya cukul sesuatu yang tumbuh dan berkembang. Jadilah ia tanaman. Lalu tanaman yang tumbuh dan berkembang, memiliki darah daging. Jadilah ia hewan. Lalu materi yang tumbuh dan berkembang (tanaman), berdarah daging (hewan), dan memiliki akal. Jadilah ia manusia.

Idealnya, pada tahap sila kedua, kita sudah beres sebagai materi, tanaman dan hewan. Tahap berikutnya, setelah lulus menjadi materi, tanaman dan hewan, adalah belajar menjadi manusia yang adil dan beradab. Ditegaskan Mbah Nun, abad ke-21 adalah abad kemanusiaan, yang pencapaiannya baru pada tahap itu. Dunia baru mencapai tingkat kualitas kemanusiaan manusia. Kesadarannya baru sebatas belajar menata hubungan dengan sesama manusia dan alam lingkungan. Tidak apa-apa, dan harap dimaklumi, karena baru pada tingkatan itu maqam pencapaian abad ke-21.

“Kalau menggunakan pemahaman Pancasila,” ungkap Mbah Nun, “Manusia tidak berdiri sendiri. Ia ada asal-usulnya, ada sebab akibatnya. Manusia ada karena di-ada-kan oleh Allah Swt. Jadi, manusia tidak boleh berhenti sebatas menjadi manusia. Dia harus tahu posisinya sebagai Hamba Allah.”

Namun, manusia modern kehilangan orbitasinya sebagai hamba Tuhan. Definisi tentang Tuhan adalah hak mutlak Tuhan untuk merumuskan Dirinya. Tapi, manusia modern merumuskan definisi tentang Tuhan dan Dia harus mematuhi defenisi itu. Bagaimana menjalin hubungan dengan alam, manusia modern menggunakan rumus dan cara mereka sendiri, yang ternyata berseberangan dengan cara yang ditetapkan Tuhan. Alam dieksploitasi. Hutan digunduli. Tambang dikuras habis.

Ditegaskan Mbah Nun, posisi kita yang sebenarnya adalah hamba. Allah adalah Sang Maha Juragan. Apa yang dikerjakan hamba harus sesuai dengan apa yang diperintahkan Juragan. Menyinggung soal apa yang harus dikerjakan seorang hamba, Mbah Nun meloncat ke irama dan ketukan jarak antar shalat lima waktu, mulai shubuh hingga kembali ke shubuh.

Konsep hamba hanya ditemukan dalam Islam. Hamba adalah posisi manusia di depan Tuhan. Sedangkan tugas seorang hamba adalah menjadi khalifah. Apabila kacamata kesadaran ini dipakai untuk melihat peradaban zaman sekarang, maka abad ke-21 baru sebatas kesadaran manusia — belum kesadaran hamba, apalagi kesadaran khalifah. Konsep manusia sebagai khalifah akan pasti ditolak oleh kesadaran abad ke-21. Mereka tidak sekadar belum mengalami kesadaran khalifah — mereka bahkan tidak mengerti konsepsi kekhalifahan itu sendiri.

Foto: Jamal

Demikian luas dan dalam Mbah Nun mengeksplorasi makna pengertian sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Lengkap bersama konstelasi pencapaian peradaban abad ke-21 dengan gemebyar lampu-lampunya menyilaukan mata, melenakan hampir setiap orang yang terkurung di sana, membuatnya ngiler dan terpana menatap dunia — tapi, ternyata, baru mencapai maqam belajar menjadi manusia. Tahap pasca-binatang. Peta silang sengkarut pertengkaran antar manusia dan kerakusan nafsu murak sumber daya alam, di majelis ilmu Padhangmbulan, benar-benar gamblang.

Buddhimse, Evolusi Sejarah, dan Tadabbur Surat At-Tin

Jamaah Padhangmbulan menyimak setiap lompatan pemaparan dengan akal dan hati yang waspada. Hal itu terlihat dari bening sorot mata jamaah yang berbinar dan bersinar. Mbah Nun pun menuntaskan pemaparan bagaimana Pancasila kulakan pada Islam. Kita daftari saja beberapa kata yang dipakai oleh sila keempat. Konsep dan kata “rakyat” pada kerakyatan, berasal dari “roiyah”. Kullukum rooin wa kullukum masulun ‘an ro’iyyathi. Ada sejumlah kata yang lain dari Islam, misalnya masyarakat, umat, hikmah, musyawarah yang sering dipakai oleh para pejabat, tetapi mereka tidak mengerti asal-usul kata tersebut. Mengapa? Karena pendidikan kita tidak pernah mengajarkan sebab-akibat.

Ditegaskan kembali oleh Mbah Nun, tidak tahu diri kalau kita mempertentangkan Pancasila dengan Islam, atau menganggap Pancasila bertentangan dengan Islam. Sedangkan konsep dan pengertian yang digunakan ngangsu dari Islam.

Melengkapi uraian evolusi kesadaran kematerian, kesadaran tetumbuhan, kesadaran kehewanan, kesadaran kemanusiaan dan kesadaran kehambaan — di mana peradaban masa kini baru pada tahap kesadaran kemanusiaan, belum kehambaan, belum kekhalifahan — maka yang kita tawarkan adalah kesadaran silmu. Berpikir kualitatif dan menemukan inti makna Islam. Sehingga skala dan bentuk perjuangan kita memiliki ketepatan dan sesuai dengan konteks kahanan ruang dan waktu.

Selaras dengan evolusi kemanusiaan, orang Barat akan lari mendekat ke Budha, karena mereka baru belajar menjadi manusia menuju hamba. Karakter evolusi itu tidak terlepas dari fakta sejarah bahwa Budha Gautama adalah orang yang merasa sia-sia hidupnya dalam kekuasaan dan kekayaan yang melimpah. Dia meninggalkan semua kemegahan dunia untuk mencari dan menemukan dirinya, hingga tiba pada kesadaran bahwa ia adalah hamba Tuhan.

Orang Barat tengah berada pada tahap Budha yang mencari Tuhan, dengan segala konteks problematika khas dunia modern yang menyerimpung hidup mereka. Jenuh dengan materialisme. Muak dengan kehampaan hati. Stres dengan irama kerja yang padat. Mereka lantas belajar menjadi manusia yang baik, mencari asal-usul manusia, lalu memilih Budha sebagai jalan yang membawa mereka pada evolusi berikutnya, yakni kesadaran pasca-manusia, yang tidak lagi menomorsatukan kekuasaan, kekayaan, citra diri yang palsu.

Beririsan dengan Buddhisme yang sedang ngetrend di dunia Barat, Mbah Nun membawa jamaah menuju tadabbur surat At-Tin [95]. Pertanyaannya adalah mengapa Allah bersumpah dengan menggunakan empat kata: demi (buah) Tin, demi (buah) Zaitun, demi bukit Thur Sinai, demi Negeri yang Aman (Mekkah)? Untuk keperluan apakah Allah bersumpah dengan menyebut empat kata itu? Sumpah ini digunakan untuk memberi pernyataan yang sangat serius dan sungguh-sungguh bahwa manusia diciptakan dalam kualitas yang ahsanu taqwim.

Keseriusan Allah menciptakan manusia yang ahsanu taqwim, selain ditilik dari empat rangkaian sumpah, juga bisa dicermati dari penggunaan lam ta’kid dan kata qad pada lafadz laqad khalaqna. Fungsi lam ta’kid dan qad yang gandeng dengan fiil madli adalah menegaskan bobot yang amat-sangat-sangat serius dan sungguh-sungguh dalam penciptaan manusia. Seserius itu pula Allah memperingatkan agar manusia tidak terjerumus ke dalam ayat berikutnya: menjadi manusia yang berada di tempat paling rendah (asfala saafilin).

Beririsan dengan Buddhisme yang sedang ngetrend di dunia Barat, Mbah Nun membawa jamaah menuju tadabbur surat At-Tin [95]
Selain mentadabburi penggunaan empat sumpah itu, Mbah Nun juga melihat ada evolusi sejarah dalam rangkaian empat kata itu. Baladil amin identik dengan peradaban yang telah dicapai Kanjeng Nabi Muhammad. Ibaratnya desa mawa cara, negara mawa tata, gemah ripah loh jinawi. Ibarat buah, baladil amin adalah kelapa. Sinin adalah degan. Thursinai adalah Nabi Musa. Zaitun adalah Nabi Isa. Pada abad itu pohon Tin tumbuh dimana Budha pernah hidup di sana. Budha menjadi salah satu tahap pencarian teologi yang melahirkan Brahmana dan selaras dengan Ibrahim.

Pancasila dan Totalitas Bertauhid

Mengapa Mbah Nun menguraikan tahapan evolusi sejarah yang ditadabburi dari surat At-Tin? Supaya kita mengerti tahap dan konteks, seperti bagaimana kita memahami Pancasila. Apakah Pancasila itu urutan hikmah yang baik, ataukah eskalasi dari tahap-tahap manusia, ataukah sebuah sistem nilai? Tahap dan konteks tersebut perlu dimengerti agar kita tahu gol Pancasila adalah sila kelima. Sila keempat adalah produsen sila kelima. Sila keempat adalah produk dari sila ketiga. Sila ketiga merupakan hasil kerja sila kedua. Sila kedua adalah produk sila pertama.

Pada konteks kegagalan sila ketiga misalnya, hal itu disebabkan oleh kegagalan mengamalkan sila kedua — hasil pendidikan itu manusia yang adil dan beradab. “Kalau pendidikannya tidak bener, jangan diharapkan sila ketiga akan beres,” ujar Mbah Nun. Kita bisa melanjutkan sendiri simulasi produk kegagalan itu sejak pengamalan sila pertama yang tidak bener. Kegagalan sila pertama akan memproduk kegagalan pada sila berikutnya, hingga sila kelima pun akan gagal mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kalau pendidikan diselenggarakan secara tidak jujur, berarti ada problem dengan pengamalan sila pertama: berani tidak jujur pada Allah Swt. Jadi permasalahannya tidak hanya terletak pada pendidikan atau sila kedua, bukan pada partai politik atau sila ketiga, bukan pada pemerintahan (sila keempat), tetapi terletak pada kesungguhan kita bertauhid pada Allah Swt. (Achmad Saifullah Syahid)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image