Budaya Adalah Iguh Manusia

Catatan Sinau Bareng Parade Budaya Imogiri, Yogyakarta 20 Mei 2017

Belum selesai KiaiKanjeng menghadirkan lagu-lagu yang mengiringi para jamaah bersalaman dengan Mbah Nun, Kiai Abdul Muhaimin, dan para pemuka masyarakat lainnya usai acara ditutup dengan doa ketika saya bergegas melangkah ke tempat parkir kendaraan untuk segera pulang lebih awal karena pagi-pagi sekali selepas Subuh telah ada janji yang menanti.

Foto: Adin (Dok. Progress)

Hawa lumayan dingin menyelimuti perjalanan pulang dari Imogiri. Warung-warung Sate Klatak yang terkenal di sepanjang jalan Imogiri ini, juga warung-warung bakmi Jawa, sudah pada banyak yang tutup seakan mengatakan kepada perut bukan saat yang pas berkuliner pada jam segini.

Gas terus dipacu berbarengan jamaah juga sudah mulai membaur ke jalan pulang menuju tempat masing-masing. Saya sendiri tiba-tiba merasa perjalanan saya masih jauh untuk segera sampai ke rumah. Perasaan yang tak berkelas tentunya. Sebab, masih banyak teman-teman yang saya lihat datang dari luar kota, yang jaraknya lebih jauh. Tetapi, alhamdulillah rentangan jarak itu itu segera memberi saya ruang-waktu untuk coba mengingat dan menyusun kembali butir-butir (ilmu, rasa, suasana, dan apa saja) di Sinau Bareng bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng dalam acara Parade Budaya Imogiri yang diselenggarakan oleh Yayasan Pametri Budaya Nusantara bekerja sama dengan beberapa komunitas lain.

Tinggalkan Logika Pertentangan

Ada sekurang-kurangnya tiga hal sederhana tetapi dasar menurut saya yang dapat saya petik dari Sinau Bareng malam itu di Lapangan Pasar Lama Imogiri yang dihadiri publik sangat banyak. Termasuk terlihat banyak santri-santri muda yang mengikuti, serta tentu saja warga setempat: Bapak-bapak, ibu-ibu, tua-muda, dan para muda. Warga di sini pun sangat antusias dengan kehadiran Mbah Nun dan KiaiKanjeng.

Pertama, Mbah Nun sangat ingin mengajak masyarakat untuk tidak berada dalam posisi memandang agama dengan memversuskannya kepada budaya. Apalagi buru-buru melihat budaya sebagai bertentangan dengan agama. Mbah Nun mengantarkan pemikiran ke arah basic dulu. Tanpa ini, pembahasan mengenai problematika yang dilontarkan penggagas acara ini: pergeseran persepsi masyarakat akan budaya dan agama serta meningkatnya suasana hedonisme, tak akan bisa mencapai tahap pengkajian secara mendasar.

Apa pemahaman dasar yang dimaksud dengan budaya? Itulah poin kedua. Yaitu, budaya adalah Iguh-nya manusia atau respons manusia terhadap kehidupan. Iguh adalah usaha, ikhtiar, dan kreativitas manusia. Segala yang termasuk ke dalam lingkup kehidupan sangat banyak dan berjenjang jenisnya. Ada yang berwujud perintah agama, ada pula alam semesta, dan ada juga tantangan sosial-budaya. Respons manusia terhadap semua hal itu nanti akan ada hubungannya dengan budaya. Sebagai misal, di dalam menjalankan perintah agama sekalipun, ada keperluan kita kepada budaya. Allah memerintahkan kita shalat, dan untuk memenuhi syarat rukunnya, manusia perlu menutup aurat, lalu dibikinlah baju atau rukuh yang sesuai dengan syarat itu. Upaya manusia membuat busana, sarung, sajadah, dan lain-lain itu adalah wilayah budaya manusia.

Foto: Adin (Dok. Progress)

Jadi, bukan agama versus budaya, melainkan diterapkannya agama itu membutuhkan kemampuan budaya manusia. Jangan dulu bicara budaya dalam arti kesenian, tetapi pahami terlebih dahulu yang paling inti dan esensial awal dari posisi agama dan budaya di dalam diri manusia. Keduanya, rasa-rasanya saling mengandaikan, justru karena yang menerima pesan-pesan agama itu adalah manusia.

Selanjutnya poin ketiga. Bagaimana manusia merumuskan dan menjalankan iguh-nya terhadap kehidupan. Menurut Mbah Nun ada tiga komponen yang memandu manusia dalam membangun iguh-nya itu. Satu yang sempat Beliau sebut yaitu bimbingan Allah Swt. Artinya, di dalam merespons kehidupan ini, di mana respons-respons itu nanti berwujud budaya, manusia mendapatkan inspirasi dan panduan dari Allah yang menyodorkan kepada mereka nilai-nilai, informasi, dan ilmu. Allah membekali manusia untuk berbudaya.

Pola dan relasi dasar inilah yang Mbah Nun ingin hadirin dan jamaah menggenggamnya terlebih dahulu. Di sini, Mbah Nun mengatakan bahkan urip sederhana saja butuh budaya. Urip sederhana yang dimaksud bukan hidup pas-pasan, melainkan hidup dengan cara-cara yang sederhana yang belum bergantung pada teknologi dan teknokrasi. Yang Mbah Nun kerap contohkan adalah bagaimana cara kita mengolah beras menjadi nasi atau dari nasi menjadi berjenis-jenis menu nasi itulah budaya. Atau bagaimana kita mengubah kayu menjadi perkakas itulah budaya. Allah menciptakan pohon kayu, manusia mengubahnya menjadi apa saja buat kebutuhan hidupnya. Dalam sudut ini, Tuhan (yang memberi agama) dan manusia justru tampak “bekerja sama” atau berbagi peran. Sebab manusia tak mungkin langsung makan beras. Dibutuhkan iguh, kerja, dan keterlibatan manusia agar beras itu menjadi nasi.

Jembatan Bernama Pemahaman

Paparan di atas sekaligus menggambarkan bahwa antara agama dan budaya manusia itu sendiri terdapat sebuah jarak yang dihuni oleh cara manusia memahami segala sesuatu. Pemahaman dan pemikiran. Jika seseorang memandang syirik berhubungan dengan benda misalnya keris atau syirik mengangkat tangan buat hormat bendera Merah Putih, yang perlu dilihat atau ditinjau adalah bagaimana cara berpikir mereka kok bisa sampai kepada kesimpulan itu. Itulah sebabnya, sering dan malam itu disampaikan lagi, Mbah Nun mengatakan syirik atau tidak itu tidak terletak pada bendanya, melainkan pada bagaimana cara kita memandang keris itu. Mbah Nun mengajak semua hadirin lebih akurat dan presisi dalam memahami persoalan cara pandang budaya ini, dan bagi Mbah Nun sebenarnya tidak sulit dan sudah cetho.

Mbah Nun bahkan memberi contoh yang kiranya berada beberapa langkah lebih ke depan dibanding beberapa pandangan dalam wacana agama dan budaya yang selama ini mewarnai. Ada sesuatu yang terberi. Ada sesuatu yang dari yang terberi itu lalu dibuat (secara teknologis) sedemikian rupa menjadi peranti di mana peranti dibikin seperti itu karena ada maksud dan keperluannya, umpamanya alat musik untuk mencipta keindahan. Ada alat yang dicipta untuk dinikmati keindahan yang dihasilkannya. Tetapi, juga peranti itu dapat dipakai untuk tujuan di luar keindahan sendiri, seperti kekhusyukan dan pepujian kepada Allah dan Kanjeng Nabi. Dalam hal KiaiKanjeng, gamelan dan alat musik lainnya sudah pasti berfungsi untuk keindahan, sudah pasti pula untuk membangun kekhusyukan hubungan batin dengan Allah dan Rasulullah, sudah pasti pula untuk memperindah kebersamaan di antara sesama, dan ada satu lagi.

Apa itu? Mbah Nun mengatakan, ”Tidak mungkin KiaiKanjeng tidak “mengajak” alam (gamelan) untuk bertasbih kepada Allah.” Keberangkatannya jelas. Allah sendiri telah menegaskan “Bertasbih segala apa yang ada di langit dan di bumi…”. Gamelan dan alat-alat musik yang hakikatnya adalah benda dari alam karenanya mustahil tidak bertasbih. Maka bahasa kulturalnya, ketika dibunyikan sebagai alat musik pun proses musikal ini diniatkan atau dibayangkan sebagai salah satu bentuk tasbihnya.

Apa yang barusan saya sitir di atas adalah gambaran bagaimana Mbah Nun melakukan “memberi makna” pada (benda) budaya. Alih-alih melepaskan sifat dan relasi budaya yang melekat pada benda-benda itu (termasuk praktik-praktik budaya lain yang hidup di dalam masyarakat) dengan misal mensyirikkan atau mengharamkan, Mbah Nun justru memberi muatan makna-makna baru, yang gagasannya atau cara memahaminya diambil dari pesan-pesan Allah Swt itu sendiri.

Dari sudut ini, seluruh yang disampaikan Mbah Nun dalam Sinau Bareng ini bukan saja mengajak masyarakat menengok kembali hubungan dasar antara manusia dan Tuhan dalam konteks cipta budaya, melainkan perlahan-lahan membawa masyarakat untuk aktif menemukan “memberi makna” atas budaya yang sudah tercipta, hidup, dan bersemayam di dalam masyarakat.

Foto: Adin (Dok. Progress)

Dalam kerangka itulah, Mbah Nun banyak bercerita dan merespons para narasumber lain, dari soal budaya dalam arti khasanah filosofi Jawa (seperti kesadaran sawang-sinawang, konsep keris-pedang-cangkul, dan konsep wong tuo hingga bentuk-bentuk budaya lainnya seperti lagu-lagu dolanan anak yang uniknya justru dijadikan “tempat” para pujangga menitipkan pesan-pesan kehidupan. Tentu saja, sejumlah nomor KiaiKanjeng dimanfaatkan pula sebagai jalan mengulas manusia dan budaya ini oleh Mbah Nun.

Selain itu, paparan-paparan Mbah Nun disamping berfungsi me-restart pandangan akan budaya dan agama, juga dapat memulihkan situasi yang digambarkan oleh Kiai Abdul Muhaimin sebagai “paranoid” terhadap budaya. Bagi Mbah Nun sendiri, salah satu sebab mendasar dari kondisi ini adalah tidak dibekalinya masyarakat sejak dini atau dahulu dengan kemantapan kebenaran dalam memahami dan menjalani budaya dan tradisi mereka. Kalau mereka mantap dan yakin akan kebenarannya, maka tidak mudah goyah ketika diterpa angin dari berbagai arah.

***

Pukul 02.40 dini hari pun akhirnya saya sampai di rumah sesudah menarik garis lurus dari Imogiri ke arah utara. Para penghuni rumah sedang pulas dan lelap dalam tidur. Saya memilih merebahkan badan, membuka-buka lagi catatan, sembari menunggu Subuh tiba. Dari catatan-catatan itu, memang terlihat, sangat sering soal-soal budaya menjadi latar belakang dan tema acara maupun topik pertanyaan-pertanyaan jamaah dalam Sinau Bareng bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng. Adakah dunia sedang menapaki degradasi budaya? (Helmi Mustofa)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image