Bertemu dengan Tokoh Fiktif Daur

Tanah Nusantara bisa dikatakan semacam janda yang masih subur, yang tetap bisa ditanami dan berbuah.–Daur II-220Disembunyikan, Disamarkan, Di-Jahr-kan

Daur, adalah salah satu rubrik di caknun.com yang memuat esai Emha Ainun Nadjib. Dalam rangka literatur, saya tetap menuliskan nama lengkap beliau sebagaimana yang tertulis di setiap esai. Tanpa imbuhan mbah, cak, ataupun jelmaan tokoh pakdhe Markesot; meskipun saya sempat berpikir demikian. Tulisan ini adalah sebuah refleksi sederhana, sewaktu-waktu saya temukan bersama tokoh-tokoh dalam Daur.

Suatu hari saya berkunjung ke sebuah warung kopi yang terletak di tengah hutan. Benar-benar di tengah hutan. Artinya tetangga samping kanan dan kirinya juga di tengah hutan. Tepatnya di kota Blora, di sebuah daerah yang silakan ditebak atau diikhtiari di mana letak warung kopi tersebut. Saya sudah meng-azzamkan sejak beberapa bulan sebelumnya, untuk berkunjung ke warung kopi itu setiap kali ke Blora.

Di sana, seseorang perempuan sepuh menjual “Kopi Santan” yang hanya bisa ditemukan di kota Blora. Dan benar, ketika saya datang dan seteguk-dua teguk meminum Kopi Santan tersebut, timbullah pertanyaan-pertanyaan seperti halnya saya ini meniru cara berpikir Brakodin yang cenderung cepat menyimpulkan sesuatu dengan logis, realistis, dan masuk di akal. Hanya saja di samping saya tidak ada pakdhe Markesot yang sigap menjadi mushahhih.

Dalam hati saya berkata, “Mereka menjadi manusia lokal. Bahkan sangat lokal. Pertimbangan-pertimbangannya lokal…” persis yang pernah di katakana Brakodin dalam Daur II-150Ilmu dan Cinta, Ruang dan Waktu.

Sambil melihat betapa indahnya Indonesia cukup hanya dalam satu ruangan warung kopi tersebut. Bapak-bapak sepuh berambut putih duduk bersila dengan beberapa kawannya, semoga begitu. Mereka saling bertukar cerita seharian pekerjaan mereka menanam kayu jati dan mengumpulkan kayu-kayu rencek–kayu kering di hutan yang berserakan, biasanya warga setempat menggunakannya untuk kayu bakar). Terdengar di telinga saya percakapan-percakapan mereka yang… sungguh! Saya benar-benar merasa Indonesia di warung kopi itu,

Lha iyo, wis mbok gawekno kopi cah kae?” (Nah, sudah kau buatkan kopi bocah itu?), tanya seorang laki-laki sepuh kepada ibu pembuat Kopi Santan, sambil menunjuk ke orang yang dia panggil dengan sebutan ‘Cah. Bocah. Ya, dan yang dimaksud mereka adalah kawannya sendiri, sesama Bapak-bapak sepuh! Saya ikut tertawa sembunyi-sembunyi.

Lha wis tuo mbok celuk cah iku piye?” (Orang sudah tua kau panggil dengan bocah itu gimana maksudnya?), tanya ibu pembuat Kopi Santan, sambil dia tetap mengaduk racikan kopinya.

Yo Lumrah, Lha wong rung reti opo-opo pekoro negoro lak pantes isih bocah. Nek kuwe ora mbok, wong kue iso medukun. Reti togel, reti sembarang sing bakal mangkat bupati.” (Ya wajar, lha wong belum tau apa-apa tentang Negara kan namanya masih bocah. Kalau kau tidak mbok, kau kan bisa ilmu perdukunan, tahu togel. Bisa menerawang juga siapa yang bakal naik jadi Bupati), jawab orang tersebut. Saya membayangkan dia ini seperti tokoh Sapron. Suka bercanda hal-hal yang artifisial, meniru tokoh pakdhe Markesot.

Tertawa nereka pecah.

Orang yang dianggap bocah dari mereka neyeletuk, “Ealah. Uripku ora pekoro negoro. Negoro rak ndue opo-opo. Opo? Tanah? Biyuh! Iki tanahku, tak rumat mergo syukur pengeran. Tak iciri brambang, pari, jagung. Negoro iki rak nduwe opo-opo. Sing sugih iki awak-awak iki mergo ngrekso.” (Aduh. Hidupku tak lain bukan untuk Negara. Negara tidak memiliki apa-apa. Tanah? Tanah ini milikku, aku rawat karena bentuk syukur kepada Allah, aku tanami bawang merah, padi-padi, juga jagung. Negara tidak memiliki apa-apa. Yang kaya adalah kita ini karena menjaga dan merawat negeri)

Lagi, dalam hati saya berkata, “Perhitungan sehari-hari mereka seputar ladang, hutan, tanah merdeka. Muhasabah mereka berkembang pada spektrum warung kopi.

Sesaat melayang di telinga saya, “Kehidupan sebenar-benarnya itu di sini. Bukan di luar sana…”. Seolah-olah yang bicara benar-benar tokoh Sundusin. Saya membayangkan suaranya berat dan penuh hati-hati.

Beberapa saat kemudian satu orang lagi datang, dia menggunakan blangkon dan baju tradisional Jawa. Dengan menghembuskan asap rokoknya, dia menyapa orang-orang seisi warung kopi.

Salah satu dari lingkaran mereka berseru, “Wahh iki, Kethoprak Matarame teko“. (Wah ini! Kethoprak Kerajaan Mataram datang.)

Tampaknya orang tersebut tidak ada dalam tokoh-tokoh Daur.

Lalu semua orang tertawa dan saling menepuk-nepuk pundak satu sama lain. Kethoprak adalah istilah untuk pertunjukan wayang orang. Saat ini di kota ini pertunjukan tersebut masih dipertontonkan meskipun dengan biaya yang cukup mahal dibanding pertunjukan tradisional lain.

Saya, terharu. Menangis terharu. Syukur saya menyempatkan datang ke warung kopi itu. Di sana saya seperti membaca Daur-Daur yang ditulis Emha Ainun Nadjib. Tokoh-tokoh Daur dalam benak saya seperti sebuah ruang yang di dalamnya tidak memiliki orientasi macam-macam, kecuali orang-orang, atau karena fiktif. Maka ‘tokoh-tokoh’ di dalamnya mengasah nalar dan spiritual. Yang biasanya saya membaca tulisan-tulisan Daur, kini saya seperti melihat percakapan antara Brakodin, Sundusin, dan Pakdhe Paklik mereka, di kota ini. Di Kota yang kering dengan menjulang pohon-pohon jati seperti menyentuh kaki langit, membuat penduduknya memiliki sudut pandang ke atas, vertikal (Muhasabah dan Bersyukur) dalam kehidupan mereka sendiri.

Blora, 25 September 2017

Tanah Nusantara bisa dikatakan semacam janda yang masih subur, yang tetap bisa ditanami dan berbuah.” –Daur II-220 – Disembunyikan, Disamarkan…