Daur-II • 230

Bersemayam di Negeri Al-Qur`an

“Lha ya”, Pakde Brakodin mengejar, “apakah karena itu maka kalian akan pergi meninggalkan Indonesia, bahkan pergi dari dunia, mencari tempat tinggal lain di angkasa luar?”

Junit mencoba tetap tenang. “Kami belum sampai ke tahap itu, Pakde. Kami hanya mengungkapkan bahwa kami mungkin tidak sanggup meneruskan budaya permakluman tanpa batas dan tanpa henti terhadap budaya taqlid bebek anut grubyug itu…”

Seger menambahkan dengan mengutip firman: “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. [1] (Al-Anfal: 53). Kami takut kehilangan kenikmatan, Pakde”

“Kehilangan kenikmatan bagaimana?”, tanya Pakde Brakodin.

Toling yang menjawab. “Kami ini jumlahnya hanya beberapa biji. Tidak punya daya apapun untuk melakukan perubahan di lingkungan kami. Jangankan Indonesia yang terlalu besar dan terlalu luas serta terlalu ruwet ini. Maka sebagai kaum yang kecil dan sangat minimal jumlahnya, sekurang-kurangnya kami sendiri jangan sampai kehilangan nikmat dari Allah. Maka sebisa mungkin kamu melakukan perubahan-perubahan atas diri kami sendiri…”

“Perubahan bagaimana, ke mana dan dengan cara apa?”

Junit menarik napas panjang. Kemudian menjawab pelan. “Kami bekerja keras tiap hari mencari nafkah semampu-mampu kami. Sekedar supaya tidak kelaparan dan mengupayakan punya tempat berteduh. Wala tansa nashibaka minad-dunya. Sekedar supaya tidak mati kelaparan di dunia. Tetapi hati, pikiran dan jiwa kami kalau bisa bertempat tinggal di Negeri Al-Qur`an…”.