Pertapaan Ramadlan (3)

Berpuasa Untuk Allah dan Mempuasai Indonesia

Anakku yang keluar ruangan sambil tertawa terpingkal-pingkal itu umurnya sedikit melewati 50 tahun. Ia pecinta dan sahabat rakyat kecil, penggerak UKM, penghimpun pekerja-pekerja di jalanan, serta banyak lagi yang menarik pada anak itu. Terutama otentisitas dan kemandirian hidupnya bersama keluarga dan komunitasnya.

Alamat anak itu di wilayah Negeri Kemanusiaan, berlindung di bawah Payung Ketuhanan. Ia menjauh dari wilayah Negara Politik Kekuasaan.

“Kenapa kamu tertawa dan lari keluar?”, saya menagih.

“Karena aslinya saya sangat sedih”, jawabnya, “bahkan bisa dibilang sangat menderita. Selama iktikaf saya dibikin sangat kewalahan oleh kepungan kesedihan dan penderitaan itu, sehingga akhirnya saya tertawa terpingkal-pingkal. Teruuuus sampai detik ini sebenarnya, tapi saya tahan jangan sampai keluar melalui wajah dan mulut saya”

“Jadi”, aku coba memahami, “hidupmu sedang sangat sedih dan menderita….”

“Lho. Bukan hidupku. Bukan aku”, jawabannya agak menekuk logikaku, “Saya baik-baik saja. Hidup saya bahagia sekeluarga. Kami melakukan apa yang harus kami lakukan. Kami menerima dari Tuhan apa yang menurut Tuhan baik untuk kami terima. Kami bahagia karena hidup kami tidak berpedoman pada apa yang kami inginkan, tetapi berjuang memahami apa yang Tuhan rancang untuk hidup kami”

Kucoba membantah, “Tadi kamu bilang kewalahan oleh kesedihan dan penderitaan, sehingga akhirnya malah tertawa….”

“Lha ya memang benar demikian. Sedih dan derita yang saya sangga sampai kewalahan itu tidak ada kaitannya dengan kehidupan pribadi dan keluarga saya”

“Lha kaitannya dengan apa?”
“Nggak apa-apa nih saya berterus terang….” “Lho memang itu yang saya mau dengarkan”

Satu: Kaum Muslimin. Dua: Bangsa Indonesia. Tiga: Ummat Manusia” Tak sengaja tangan saya bergerak sendiri, mengambil peci di kepala dan membantingnya ke lantai.

“Hebat amat kamu? Besar amat urusanmu? Gila. Ummat Manusia, Kaum Muslimin, Rakyat Indonesia….”
“Lho itu bukan urusanku”
“Gimana sih. Katanya kamu disiksa kesedihan dan penderitaan tentang Tiga itu…”

“Lha ya saya sedih dan menderita karena Tiga itu, untuk Tiga itu, demi Tiga itu, karena saya sangat mencintai Tiga itu. Selama Ramadlan ini saya berpuasa untuk Tiga itu juga, dengan minta izin kepada Allah, karena Beliau bilang ‘puasamu untuk-Ku’. Kali ini saya mohon izin untuk berpuasa untuk Allah, tetapi sekaligus mempuasai Tiga itu….”

Ternyata saya terseret untuk bicara miring-miring: “Saya tahunya puasa. Kok ini ada mempuasai….”
“Bahasa Jawanya puasa itu pôsô (baca ô-nya seperti di Concorde, bukan Toronto), mempuasai itu masani. Berpuasa berhenti pada tindak puasa itu sendiri pada seseorang. Mempuasai berarti memfungsikan puasa sebagai sarana untuk mencapai sesuatu pada sasaran tertentu”

“Kan Tuhan bilang ‘puasamu untuk-Ku’? Apa boleh untuk yang lain? Mosok Tuhan kok di-jamak, ibadah kok ke dua kiblat, cinta kok di-madu….”
Anak itu menjawab dengan kecerdasan yang agak mencemaskan, serta ketajaman yang bagiku mengkhawatirkan:

“Namanya juga memohon. Permohonan itu memungkinkan default jadi custom. Allah sendiri melambaikan tangan ‘ud’uni astajib lakum’, ayo ayo minta aja, nanti Aku kasih. Main icon karakter utama Allah saja Ar-Rahman Ar-Rahim. Belum lagi deretan sifat-Nya yang penuh cinta: Maha Pemurah, Maha Dermawan, Maha Pengayom, Maha Pengasuh. Maka permohonan saya melalui ‘masani’ atau ‘mempuasai’ itu sesungguhnya menunjukkan teguhnya pengakuan saya kepada Maha Pengasih Maha Penyayang-nya Allah”

“Kamu nakal ya….”, kata saya.
“Karena hanya Tuhan yang punya solusi untuk sakit parahnya Tiga itu. Dan hanya ibadah puasa yang memiliki kadar ketinggian dan kemuliaan yang paling efektif untuk memancing perkenan Tuhan agar menolong Tiga”

“Sebentar, sebentar”, kupotong dia, aku berpikir sekarang giliranku: “kalau ditanyakan yang mana yang utama dan paling urgen di antara Tiga, apa jawabmu?”

“Bangsa Indonesia”, ia menjawab tegas, “merekalah yang paling darurat yang membutuhkan pertolongan Tuhan, sehingga saya pasani….”
“Saya tunda pertanyaan ‘Emangnya kamu siapa sehingga GR mempuasai Indonesia dan merasa ada kemungkinan didengarkan oleh Tuhan?’. Itu saya tunda. Pertanyaanku berikutnya saja: “Pengetahuanmu pasti sempit. Pola berpikirmu pasti linier dan parsial. Ilmumu kacamata kuda. Bagaimana mungkin Bangsa Indonesia menjadi kesedihan dan penderitaan bagimu? Apa salahnya Indonesia? Ia sakit? Penyakit jenis apa yang bisa mempan atas Indonesia?”

“Indonesia baik-baik saja. Rakyatnya sudah terlatih 70 tahun lebih untuk menjadi bangsa yang maju dan matang. Pemimpin tertingginya dulunya Satrio Piningit, kemudian menjadi Satrio Pinilih. Dulu tersembunyi. Kini menjadi pilihan Bumi dan Langit”
“Kalau pucuk pimpinannya Pinilih, berarti itu produk dari Perwakilan Rakyat yang juga pinilih. Berarti tentaranya, polisinya, semua satuan pasukan-pasukan pertahanan nasionalnya, cendekiawannya, lembaga-lembaga kepemerintahannya, perusahaan- perusahaan Negaranya, dinamika Undang-undang dan improvisasi aturan-aturannya, juga Pinilih”

“Mutu profesionalitasnya, tingkat intelektualitasnya, ketangguhan mentalitasnya, bahkan ketajaman spiritualitasnya, sudah serentak move on ke pencapaian Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghofur, gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo. Inisiatif berhutang yang sangat radikal dan revolusioner dua tahun belakangan, menunjukkan kita adalah bangsa besar, Negara kuat, yang gagah perkasa menyongsong masa depan….”

Anakku itu agak terpaku dan menjadi kosong wajahnya. Aku meneruskan: “Itulah sebabnya di awal pertemuan aku menanyakan: Ketika kau beriktikaf, di mana letak Allah, di mana Rasulullah, di mana Dunia, serta di mana Masjid?”.

Yogya, 21 Juni 2017.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image