Daur-II • 225

Berpeganglah Pada Ikat Pinggang Qorun

Sebenarnya anak-anak muda itu semua sepakat bahwa Ashabul Kahfi menyembunyikan diri di Gua karena tidak mau terlibat di dalam sistem kekufuran dan kedhaliman. Sementara masyarakat Ahlul Gua Sirna justru berlomba mendekati penguasa politik dan pemilik modal mayoritas.

Semua golongan di dalam Ummat Ahlul Gua Sirna berkompetisi untuk semoga diikutkan berkuasa, sehingga mudah-mudahan ikut kecipratan uang dan harta benda. Suatu golongan bahkan tega membunuh eksistensi golongan sesama Ahlul Gua Sirna demi memastikan perolehan kekuasaan, proyek-proyek, program-program dengan dana besar. Dana kecil pun oke asal dapat.

Calon penguasa yang baik adalah yang memberi uang kepada mereka. Tingkat kebaikan pejabat di mata Ahlul Gua Sirna berbanding sama dengan banyaknya uang yang diberikan kepada mereka. Terdapat banyak bangunan-bangunan dalam lingkup Ahlul Gua Sirna, bagian atasnya sangat sibuk menawarkan kompromi dan kolaborasi dengan penguasa dan gudang-gudang uang. Bagian bawahnya tidak mengerti apa-apa, hanya dipakai pijakan pundak dan kepalanya oleh pimpinan-pimpinan mereka.

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu di masa Jahiliyah dulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. [1] (Ali ‘Imran: 103).

Jitul tertawa lagi. “Berpeganglah pada ikat pinggang Qorun, tak apa bercerai-berai di antara kalian. Ingatlah nikmat pasokan dana untuk program-program yang berpakaian Islam. Bermusuh-musuhanlah dan jangan bersaudara. Berduyun-duyunlah mendekat ke jurang neraka…”.