Daur-II • 271

Bermacam Cara Pembubaran

“Bukan perkara pelik untuk melawan penguasa lalim, kalau benar-benar penguasa lalim dan rakyat tidak salah persepsi bahwa mereka adalah penguasa lalim. Itu spektrumnya sebatas Ilmu Katon yang kasat mata. Ilmu Katon tidak susah-susah amat meskipun sangat berbahaya dan “ngemu nyawa”. Tetapi dulu Jailangkung saja tergolong mainan anak-anak.”

“Yang susah adalah melawan penguasa lalim yang wajahnya utusan Allah, kostumnya Malaikat dan perilakunya Nabi. Ini abad kemunafikan. Pemalsuan seperti itu amat mudah dilakukan melalui seribu teknik pencitraan dan strategi “talbis”. Apalagi di era Medsos setiap orang bisa menjadi wartawan, redaktur dan sekaligus penyebar berita, dengan cukup melakukannya sambil jongkok di WC. Kemudian rakyat meyakini dengan mantap bahwa mereka dipimpin oleh Allah, Malaikat dan Nabi. Maka mereka siap mati untuk “bersyahadat” kepada “Allah”-nya, takjub kepada “Malaikat”-nya dan patuh membabi buta kepada “Nabi”-nya.”

“Tak kalah susah adalah menyikapi rekayasa talbis, black campaign, pencitraan hitam, manipulasi dan fitnah dari sahabat kita sendiri, saudara kita sendiri, apalagi dari orang yang justru kita sayangi dan hidupi. Markesot pernah dibunuh oleh pihak semacam itu, tremor, berat badannya turun sampai 46 kg, perutnya berisi Logam-logam berat uranium dll. Tim dokter menyimpulkan usianya paling jauh tinggal 3,5 bulan. Intel Markesot sudah memegang semua data di belakang peristiwa itu. Tetapi Markesot mengatakan bahwa ia sangat menikmati prestasi bahwa ia memaafkan dan menyayangi orang-orang yang membunuhnya dengan biaya lebih lima miliar kalau pakai kurs sekarang.”

“Markesot pernah difitnah di panggung acara Monas ketika ia meloncat ambil mikrofon dan memimpin Takbiran, untuk menghindari Pak Harto yang datang menyalami. Bahkan kemudian Markesot dicitra-hitami di depan 2 juta rakyat di Alun-alun Utara Yogya, dalam suatu acara “Pisowanan Agung” yang justru Markesot sendiri inisiatornya serta yang memberikan judul acara itu. Sampai hari ini Markesot menahan diri untuk tidak mengizinkan tangannya bergerak untuk fitnah besar itu, meskipun secara nilai kehidupan tidak mengizinkan pengutang tak membayar dan pemberi utang tak menerima pelunasan”.

***

Sambil tekun mencatat, diam-diam Seger berencana untuk secara khusus menanyakan kepada para Pakde kenapa hal-hal dari masa silam yang tidak penting-penting amat itu diceritakan kepada mereka, dan harus dicatat dengan tertib. Tetapi Seger bersabar menunggu waktu yang tepat. Ia terus saja mencatat.

“Ada bermacam-macam cara untuk membubarkan acara pengajian atau forum-forum apapun lainnya yang buruk, negatif dan bahaya di mata penguasa. Di halaman Masjid “Salman” ITB Bandung akhir 1980-an pementasan seorang Penyair bersama Kelompok Musik Dinasti, yang sekarang gamelannya dikenal sebagai KiaiKanjeng – digerebek dan dibubarkan oleh beberapa truk tentara”, Pakde Tarmihim meneruskan cerita-cerita kecilnya tentang Mbah Sot.

Musik stop, si Penyair berhenti bicara, kemudian sambil tersenyum turun dari panggung, berjalan masuk Masjid. Tak ada ketegangan apa-apa. Tak ada suasana atau kejadian yang ekstrem atau mencolok. Para pemusik Dinasti menyertainya masuk Masjid.

Kenapa dibubarkan? Pertama, pasti karena ada yang merasa berkuasa untuk membubarkan, di sisi lain ada pihak yang tak berkuasa untuk menolak pembubaran. Kedua, pasti pihak yang membubarkan merasa yakin bahwa membubarkan acara itu adalah pelaksanaan kebenaran. Adapun pihak yang dibubarkan, meskipun mungkin meyakini kebenaran pentasnya, namun tidak punya kekuasaan untuk melaksanakannya.

Pentas Musik-Puisi itu salah, entah muatannya atau unsur lainnya. Terserah kadar kesalahan itu adalah melanggar aturan hukum, melakukan perlawanan terhadap yang berkuasa, makar atau semacam perlawanan. Yang pasti dan sudah terjadi adalah kebenaran membubarkan kesalahan.

***

Kalau sejarah manusia tidak mempertanyakan bahwa yang mereka catat sebenarnya adalah kebenaran-versi dan kesalahan-versi, yang bisa berbalik jika penguasanya berganti — maka sejarah harus menyimpulkan bahwa pihak yang benar itu adalah minimal utusan Tuhan langsung, atau malah mungkin perwujudan Tuhan itu sendiri.

Sebab “Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu”. [1] (Al-Baqarah: 147) Bahkan “Sesungguhnya Tuhanku mewahyukan kebenaran”. [2] (Saba: 48) Pembubaran terhadap pentas Musik-Puisi itu pastilah atas dasar wahyu Tuhan.

Yang kuat dan berkuasa pasti benar. Tidak ada selain Tuhan yang kuat, berkuasa dan pasti benar. Di dalam sejarah, tokoh penguasa yang dikenal sebagai paling merasa dirinya Tuhan, adalah Fir’aun. Karena pasukan yang menggerebek dan membubarkan pentas Musik-Puisi itu jelas bukan pasukan Fir’aun, maka pastilah itu tentara Tabi’inal Fir’aun.

Si Penyair menyadari itu, sehingga pembubaran itu tidak merisaukan hatinya dan tidak ia masukkan secara mendalam ke dalam hatinya. Ia bersama para pemusik turun dari panggung dan berjalan memasuki Masjid dengan ekspresi dan gerak-gerik yang normal dan biasa-biasa saja.

Para hadirin entah berapa ribu orang bergerak meringsek ke dalam Masjid. Tata forum tersusun rapi secara spontan. Si Penyair meneruskan pembacaan puisi dan pembicaraan yang tadi terhenti di panggung, tanpa sepatah kata pun ia sebut kata tentara, pembubaran acara, rezim otoriter, atau kata-kata besar dan keras apapun lainnya.

Alhamdulillah forum berlangsung sampai tuntas. Termasuk sesi tanya jawab. Mungkin sebagian hadirin kecewa tidak bisa menikmati musik. Tapi tak apa. Musik kan tidak sedemikian pentingnya seperti shalat lima waktu.

Si Penyair bersyukur bahwa tempat acara berpindah ke dalam Masjid, sehingga sisa pekerjaannya menjadi ringan. Sebab tidak pantas kalau alat-alat musik dibawa masuk. Pasukan tentara tidak mengejar mereka sampai masuk Masjid untuk menghalangi acara. Mungkin karena repot mencopot sepatu mereka.

Yogya, 15 November 2017