Berkendaraan Islam Menuju Silmi

Catatan dari Padhangmbulan, Menturo Jombang, 11 April 2017

Seperti biasa, Menturo, desa kecil yang letaknya terbilang cukup jauh dari keramaian kota, malam itu kembali disulap menjadi malam yang lain dari malam-malam lainnya. Selain karena pantulan sinar sang rembulan yang memancar paling benderang dibanding biasanya, malam itu juga istimewa karena desa kecil ini telah dihujani para manusia dari berbagai daerah yang berbeda-beda.

Padhangmbulan April 2017
Cak Fuad: Melayani dan Dilayani sebagai penggerak Bahasa Arab. Foto: Hariyadi

Ada pemandangan sangat elok di malam 11 April 2017 itu. Aura sosok ibu sangat terasa pancarannya dari majelis Padhangmbulan yang akrab disebut-sebut sebagai ‘Ibu Maiyah’ itu. Ada potret-potret ketulusan dalam pelayanan yang terpancar dari sana. Layaknya seorang ibu, Padhangmbulan tak hanya memberikan pelayanan terkait kebutuhan jasmani saja, akan tetapi juga kebutuhan ruhani. Padhangmbulan tak hanya memfasilitasi para Jannatul Maiyah (JM) yang haus akan ilmu sebagai kebutuhan ruhaninya. Akan tetapi, di sana juga disediakan fasilitas untuk para JM yang benar-benar lapar dan dahaga secara jasmani. Meskipun begitu, bukan sekadar transaksi jual beli yang tergambar dari sana. Bukan sekadar transaksi jual beli yang terpaku pada untung dan rugi semata. Lebih dari itu, para penjual makanan maupun minuman tampak begitu sabar melayani para JM. Melayani para JM yang sudah barang tentu tidak kesemuanya merupakan warga sekitar sana. Untuk sekadar memenuhi kebutuhan biologisnya. Agar bisa bertahan dan kuat nyimak Maiyahan sampai selesai, dan kembali ke daerah asalnya.

Indahnya lukisan malam itu seolah menjadi potret nyata akan apa yang telah dipesankan Cak Nun. Bahwa dalam hidup, kita harus berusaha seimbang. Seimbang dalam menjalani kehidupan yang terus saja mengalir dan bergetar ini. Setiap kali kita berurusan dengan sesuatu yang berbau “bumi”, kita harus segera membawanya ke “langit”. Pun ketika kita memikirkan sesuatu yang bersifat “langit”, kita harus segera sadar. Bahwa kita masih menginjak bumi. Harus segera menariknya lagi ke bumi. Begitulah kiranya, menduniakan akhirat, dan mengakhiratkan dunia.

Melayani dan Dilayani

Masih dalam suasana hangat kekeluargaan, malam itu dengan penuh kerendahhatian, Cak Fuad mencoba meluruskan anggapan masyarakat -khususnya para JM- yang selama ini terbentuk tentang Beliau. Meski sudah tidak diragukan lagi kemampuan dan sepak terjang Beliau dalam bidang Bahasa Arab, tetapi Beliau enggan jika disebut sebagai ahli Bahasa Arab. “Jangan berlebihan menilai saya.” Begitu tutur Beliau malam itu. Beliau mengaku cenderung lebih pantas disebut sebagai penggerak daripada ahli Bahasa Arab. Lagi-lagi, dengan sangat rendah hati, Beliau mengaku kalau selama ini hanya sebagai penggerak saja. Sebagai penggerak yang berusaha turut mengembangkan pendidikan Bahasa Arab, bidang ilmu yang digelutinya.

Beliau menceritakan sebagian perjalanan kiprahnya dalam bidang Bahasa Arab. Mulai 1968, saat menjadi mahasiswa tingkat kedua, Beliau sudah menginisiasi sebuah majalah berbahasa Arab yang diberi nama Al Wahdah. Kemudian majalah Lisan, yang diterbitkan di seluruh Indonesia. Menurut Cak Fuad, Lisan inilah yang membuat nama Beliau mulai dikenal di dunia per-bahasa arab-an yang ada di Indonesia. Sampai puncaknya, pada 1999, saat menjadi dekan Fakultas Sastra IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri Malang), Beliau mendirikan sebuah ikatan pengajar Bahasa Arab se-Indonesia yang kemudian lebih dikenal dengan nama IMLA. Bahkan, sekarang organisasi inj telah mengepakkan sayapnya sampai di kancah internasional.

Melayani dan dilayani. Begitulah kiranya pesan yang bisa diambil dari sedikit sepak terjang perjuangan Cak Fuad yang beliau ceritakan malam itu. Dari kisah ini, sepertinya Tuhan ingin menegaskan, bahwa siapa yang menanam, akan menuai. Siapa  berpuasa, akan berbuka pada waktunya. Pun siapa memudahkan, juga akan dimudahkan. Keadilan dan kasih sayang Tuhan masih dan akan tetap berlaku. Sampai  kapan pun itu.

Rupanya, Tuhan pun mulai memberikan balasan atas kesungguhan Cak Fuad, khususnya dalam upaya mengembangkan Bahasa Arab. Tidak sedikit kisah-kisah dialaminya yang terasakan memudahkan jalan Beliau. Saat baru mulai megajar di IKIP Malang, misalnya. Di sana, baru tiga bulan, SK mengajar beliau sudah turun. Dan tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun. Padahal, pada 1976, waktu itu mengurus SK tidak lah mudah. Dan sudah barang tentu ada sejumlah biaya yang harus dikeluarkan untuk megurusinya. Buah-buah kemudahan tersebut tidak hanya dirasakan seorang diri. Bahkan, Bu Ud, istri Beliau pun turut merasakannya. Diceritakan  bagaimana Bu Ud sangat dimudahkan dalam mengurus paspor, yang menurut aturannya, sebenarnya tidak semudah itu. Mengingat ada kesalahan dalam penulisan nama Bu Ud di lembar ijazahnya.

Islam, Aplikasi untuk Menuju Silmi

Cak Fuad menjelaskan  ayat yang belakangan ini lebih sering Cak  Nun bahas dalam setiap Maiyahan. Udkhuluu fissilmi kaaffah. Begitu kira-kira dalil yang Beliau perdengarkan kepada para JM di beberapa Maiyahan terakhir ini. Menurut Cak Fuad, QS. Al Baqarah ayat 208 ini mempunyai beberapa arti. Kata silmi dalam ayat itu bisa diartikan sebagai kedamaian, ketaatan, dan juga Islam. Masuklah kalian dalam perdamaian, ketaatan, dan Islam secara menyeluruh. Adapun makna Islam dari silmi di sini lebih cenderung kepada isi, atau substansinya. Bukan sekadar kulitnya atau strukturnya saja.

Memasuki Islam secara menyeluruh. Kita tidak boleh hanya mengambil bagian-bagian tertentu saja dari Islam. Tidak boleh pilih-pilih. Hanya mengambil nilai-nilai ataupun aturan-aturan yang menguntungkan diri kita saja, misalnya. Atau, malah menjadikan Islam sebagai salah satu jalan untuk mengeruk keuntungan sebesar-besanya. Menjadikan Islam sebagai ladang bisnisnya.

Baik Islam yang secara struktur maupun silmi yang menjadi substansinya, sebenarnya saling berkaitan, dan tidak bisa dipisahkan. Islam bisa menjadi jalan untuk menuju silmi tersebut. Seperti pernah disampaikan Cak Nun, bahwa Islam itu program, aplikasi. Kalau dalam matematika, ada yang namanya suatu fungsi. Fungsi sendiri merupakan suatu relasi yang menghubungkan setiap anggota dalam suatu himpunan daerah asal menuju daerah kawan, daerah tujuan. Ibaratkan Islam itu suatu fungsi, maka Islam inilah yang akan membawa setiap penganut ajarannya menuju silmi secara bersama-sama. Dengan kata lain, mengamalkan nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam secara menyeluruh, akan mengantarkan kita pada silmi. Mengantarkan pada keselamatan, perdamaian.

Selain itu, Cak Fuad lebih lanjut menegaskan bahwa udkhuluu fissilmi kaffah di sini juga mengandung arti jamii’an. Bersama-sama. Kita dianjurkan untuk menuju silmi secara bersama-sama. Mencari keselamatan bersama. Tidak hanya memikirkan keselamatan dan kebahagiaan seorang diri.

Tampaknya, para JM pun juga mulai tergerak untuk menuju silmi secara berjama’ah. Secara bersama-sama. Paling tidak mengajak orang-orang terdekatnya. Seperti JM asal Madiun itu. Seorang nenek yang tengah nyimak Maiyahan sembari menjaga cucunya yang tengah terlelap itu pun mengaku hadir di Padangmbulan bersama keluarganya. Awalnya, yang istiqamah hadir di Padangmbulan hanya putranya saja. Belakangan ini, putra nenek tersebut juga mengajak keluarganya untuk turut serta sinau dan bermandikan cahaya di Majelis Padhangmbulan  itu.

Sesuai Batas Masing-Masing

Berbicara tentang ‘menyeluruh’, Cak Fuad memberikan penjelasan lebih jauh. Sebagai manusia, orang tentu terbatas kemampuannya. Dan akan sangat kesulitan jika harus mengamalkan semua nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam. Menyikapi hal ini, Cak Fuad pun membacakan dua ayat yang sekilas terlihat bertentangan. Meskipun sebenarnya, kedua ayat ini tidaklah bertentangan. Hanya berbeda konteksnya saja.

Salah satu ayat menyerukan agar kita bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa. Sedangkan ayat lain memberikan  kelonggaran, bahwa kita diperkenankan bertakwa sesuai batas kemampuan kita. Lantas, bagaimana sebenarnya maksud dari kedua ayat tersebut?

Menurut penjelasan Cak Fuad, perintah bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa itu berlaku secara teoretis. “Sebuah keharusan secara teoretis.” Tetapi, dalam penerapannya, kita diberikan kelonggaran sesuai dengan  batas kemampuan kita masing-masing. Mengingat kemampuan kita sebagai manusia sangatlah terbatas. Dan akan sangat kesulitan jika kita menjangkau semua nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam.

“Seorang muslim, jika ingin total mengamalkan keislamannya, pilih sektor atau bagian yang cocok untuk dirinya. Sesuai dengan kemampuan-kemampuan, kesiapan-kesiapan, dan kondisi situasi yang dihadapi.” Begitu Cak Fuad meneruskan penjelasannya. Dengan kata lain, setiap orang mempunyai ibadahnya masing-masing. Sesuai tempat dan juga kemampuannya. Dan tidak perlu dipaksakan sama. Ibadah mahdhoh itu pasti, sedangkan yang muamalah disesuaikan dengan posisi dan porsi masing-masing pribadi.

Cak Fuad mencontohkan seorang mahasiswa yang tiba-tiba keluar dari kelas saat mendengar adzan. Dosennya pun juga akan pekewuh jika mengingatkan mahasiswa tersebut untuk menunggu sampai jam pelajaran habis dulu. Masak orang mau shalat dilarang. Meskipun toh  nanti juga masih bisa mengejar waktu shalat. Masih bisa shalat sesuai dengan waktunya. Atau satpam perumahan yang demi mengejar pahala shalat berjamaah, mereka meninggalkan pos jaganya, sampai ada yang kemalingan. Mudharat yang didapatkan pun jauh lebih besar daripada manfaat untuk dirinya seorang. “Padahal, bisa jadi pahala kamu menjaga pos lebih besar dari 27 derajat. Lebih besar daripada pahala kamu shalat jama’ah.”

Kebanyakan masyarakat kita hari ini begitu keras dan kaku mengejar pahala pribadi. Tapi abai dengan ibadah sosial yang justru menjadi tanggung jawabnya. “Padahal, akhlak yang paling banyak membawa orang masuk surga.” Ibadah sosial yang menjadi tanggungannya inilah sebenarnya jauh lebih utama daripada sekadar mementingkan pahala seorang diri. “Agama kita itu yusron. Allah lebih mudah memahami manusia, daripada manusia memahami manusia,” terang Cak Fuad. Jadi, Allah pasti paham, kita meninggalkan shalat jamaah untuk menjaga keselamatan lebih  banyak orang, misalnya.

Senada dengan itu, Yai Muzzammil juga mengingatkan, bahwa kita harus menggunakan siyasah dalam beribadah. Pilih mana yang prioritas. Dan kemaslah dengan indah.

Mas Saiful, jamaah dan penggiat asli Jombang, juga turut berbicara malam itu. Beliau menyampaikan kunci-kunci keseimbangan hidup yang disampaikan Cak Nun di Kadipiro beberapa waktu  yang lalu. Meskipun kunci tersebut disampaikan Cak Nun saat workshop kepenulisan, menurut Mas Saiful kunci ini juga berlaku dalam menjalani kehidupan. Tidak hanya untuk tulis-menulis. Dan kita tidak akan bisa seimbang, tanpa ada kematangan tauhid dalam hati kita.

Malam itu, para JM dibekali kunci-kunci untuk menuju silmi. Perlahan dibukakan pikiran dan hatinya, agar lebih bisa menjalani skenario kehidupan sesuai dengan kehendak Sang Sutradara. Doa yang dipimpin Cak Fuad mengiringi kepulangan para JM yang telah mengantongi tetesen ilmu dari Padhangmbulan dan semoga bisa dibagikan untuk orang-orang di sekitarnya. Hingga kita pun mampu masuk ke dalam silmi bersama-sama. (Hilwin Nissa’)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image