Berjodoh dengan Maiyah

Bismillahirrahmanirrahim, Maiyah merupakan sebuah cairan bukan padatan. Pernyataan ini yang menyapa dalam diri saya ketika pertama kali berMaiyah sekitar dua tahun lalu. Maiyah mengajarkan manusia untuk berproses melalui konsep dasar berpikir menuju kematangan diri. Hidup itu  merupakan sebuah proses menuju hidup yang sejati. Kesadaran diri sangat dibutuhkan demi mencapai kesempurnaan hidup yang sejati. Mengutip hadits Rasulullah yang sering disampaikan Mbah Nun “Man ‘Arofa Nafsahu Faqod ‘Arofa Robbahu” maka kenali diri untuk mengenali Tuhan.

Alhamdulillahirabbil’alamin, ada konten khusus untuk Jamaah Maiyah atau siapapun untuk bisa mentadabburi tulisan Mbah Nun sekaligus saling berbagi ilmu lewat tulisan. Bicara tadabbur Daur, saya tertarik pada tulisan Mbah Nun pada Daur 306 – Obor-obor Cahaya berikut,

Di tengah pancaran obor-obor cahaya itu terdapat telaga yang sangat luas, yang permukaan airnya tak terkirakan indahnya. Telaga yang datar, tapi tampak jelas kedalaman airnya tak terukur oleh matematika, fisika dan biologi…

Lewat tulisan ini saya mencoba mentadabburi tulisan Mbah Nun ini, di mana tulisan saya ini masih banyak kesalahan dan atau salah persepsi, maka masih perlu dikoreksi.

Membaca Daur 306 ini saya teringat cerita lakon pewayangan Bimo yang sering dibawakan oleh dalang dalam pagelaran wayang. Flash back era Wali Songo, wayang merupakan media Sunan Kalijogo dalam memperkenalkan Islam kepada masyarakat.

Menurut saya, Sunan Kaljogo menggunakan prinsip “Man ‘Arofa Nafsahu Faqod ‘Arofa Robbahu” dalam membuat lakon pewayangan, dikarenakan lewat budayalah masyarakat (Jawa) bisa mengerti siapakah dirinya. Sunan Kalijogo menggabungkan budaya dengan ajaran Islam sampai titik di mana terjadi asimilasi budaya dan Islam ibarat “tumbu ketemu tutup” kata Mbah Nun.

Kembali ke cerita Bimo, diceritakan Bimo salah satu Pandhawa ini berguru kepada Resi Durna. Demi mencari kesempurnaan hidup. Bimo disuruh Resi Durna mencari air suci Prawitasari. Karena ta’dhim Bimo kepada sang guru maka berangkatlah ia ke Gunung Reksamuka di hutan Tikbrasara. Di sana Bimo tidak menemukan air suci Prawitasari tapi ketemu dua raksasa Rukmuka dan Rukmukala. Dengan kesaktianya, dua raksasa bisa dikalahkan.

Kembalilah Bimo ke gurunya dan atas petunjuknya Bimo disuruh pergi ke samudera tanpa tepi. Ketika sampai di samudera, Bimo dihadang Ular Naga dan setelah mengalahkannya, Bimo bertemu dengan Dewa Ruci. Kemudian Dewa Ruci menceritakan bahwa apa yang dicari itu sebenarnya tidak ada dan atas upayanya Dewa Ruci memberikan Bimo pakaian Batik poleng berwarna empat yaitu merah, hitam, kuning, dan putih. Sebuah gelang Candrakirana dan tusuk konde dari kayu asem.

Kisah Bimo mencari air suci Prawitasari ini sangat memberikan pelajaran bagi manusia dalam mencari tujuan hidup. Air Prawitasari berasal dari kata prawita artinya bersih, suci, dan sari itu inti. Dan air melambangkan ilmu. Jadi yang dicari adalah ilmu yang suci. Maka ditempuh di dalam hutan Tikbrasara yang berasal dari kata tikbra yang berarti tajam, landhep, dan sara itu prihatin. Jadi maksudnya adalah tajamnya batin yang prihatin. Gunung Reksamuka berarti laku, maka secara utuh bisa diartikan “laku ning urip prihatin kanthi landhep ing batin” atau dalam Islam dikenal dengan perjalanan tarekat.

Dalam menempuh tarekat menemui Rukmuka dan Rukmukala, yang melambangkan kemewahan dunia. Perjalanan masuk ke samudera yang berarti hati manusia yang luas tak bertepi, kemudian mengalahkan ular naga yang berarti kejahatan. Maka bisa diartikan perjalanan manusia mengalahkan kejahatan dalam hati, yaitu hawa nafsu yang dilambangkan dengan empat warna batik poleng, nafsu amarah hingga muthmainnah.

Tusuk konde kayu asem berarti esem (tertarik), maka laku yang dipakai adalah tidak tertarik pada kemewahan duniawi. Maka dengan semua laku yang dijalani dapat memperoleh gelang Candrakirana. Candra berarti bulan dan kirana adalah sinar. Secara utuh bisa dimaknai mendapat sinar dari sang pencipta yang mampu menembus hakikat hidup.

Sepenggal cerita lakon wayang dan tulisan Daur 306 bisa dimaknai tersirat merupakan perjalanan manusia menuju maha empu diri yang sejati. Seperti di tengah pancaran obor-obor cahaya itu terdapat telaga yang sangat luas, berarti di tengah kemerlapan dunia terdapat kesunyian yang abadi dan itu bisa ditempuh dengan laku prihatin demi menuju maha empu diri yang sejati.

Letak berjodohnya Maiyah dengan kehidupan terlihat dari nilai yang dibangun dengan nilai yang sudah ada di masyarakat. Hal ini yang selama ini saya rasakan dari Maiyah. Sebelum berMaiyah pandangan hidup saya masih terputus-putus dalam menyikapi permasalahan. Dan ibarat tumbu ketemu tutup berMaiyah dapat menyambungnya. Sehingga bisa dikatakan saya berjodoh dengan Maiyah.

Bismillahirrahmanirrahim, Maiyah merupakan sebuah cairan bukan padatan. Pernyataan ini yang menyapa dalam diri saya ketika pertama kali berMaiyah sekitar…