Berhijrah dan Berjihad kepada Kekhilafahan Zaman Baru

Catatan Ngaji Bareng di Ponpes Rohmatul Umam Kretek Bantul, 7 November 2017

Saya dicekam perasaan was-was selama acara Ngaji Bareng kali ini. Bukan, bukan karena potensi perpecahan di antara ummat Islam mulai tampak makin meruncing. Baru saja tersiar kabar memang tentang Felix Siauw dan Banser. Kita tidak berposisi mendukung atau anti pada salah satunya, toh setiap kubu memiliki pembenaran dan juga kekurangjangkepan dalam memandang persoalan.

Ngaji Bareng di Ponpes Rohmatul Umam Kretek Bantul. Foto: Adin.

Kubu satu tetap dengan tafsirnya atas “Khilafah” yang sudah baku, sementara kubu satunya entah bagaimana menjadi sangat alergi dengan istilah “Khilafah”. Mungkin memang sedang trend sekarang, untuk tampil sebagai muslim yang moderat kekinian dan bercitra toleran jembar hati,  nasionalis pula, orang Islam mesti risih dengan istilah-istilah semacam “syariat Islam”, “Khilafah” dan sebagainya.

Maiyah sendiri yang saya tangkap dan pahami, tidak berat ke salah satu kubu  bertikai tersebut, yang mungkin masing-masing berpendapat bahwa dunia akan lebih baik bila golongan sana musnah di muka bumi kalau tidak mau mengikuti cara berpikirnya.

Di hadapan istilah Khilafah, Maiyah mengajukan hasil ijtihad. Faktanya bahwa kata itu ada dalam Al-Qur`an tentu berarti bahwa sebaiknya kaum muslim tidak larut dalam arus yang begitu mengantagoniskannya, menertawakan apalagi menajiskan. Maiyah menawarkan hasil tadabbur yang sudah sering kita dengar dan pahami bersama. Dan ternyata, hasil tadabbur Maiyah terhadap Khilafah ini syukur alhamdulillah bisa diterima oleh dua kubu yang berseberangan. Dialog bisa terjadi bahkan terhadap kaum yang dianggap intoleran keras kepala. Sayangnya usaha membuka dialog dengan cara yang lebih kreatif-kultural itu tidak dicontoh, tidak dikontinuasi oleh pihak yang bertikai, sehingga kasus usir-mengusir, petasa-petisi anti ini-itu terus terjadi.

Tapi, sama sekali bukan itu yang membuat saya was-was selama acara Ngaji Bareng di Pondok Pesantren Rohmatul Umam yang diasuh oleh KH Muzammil ini.

Persoalannya saya duduk di bawah pohon Gayam. Itu pohon yang buahnya tidak besar tapi keras. Dan malam hari buah pohon Gayam ini tidak jarang berjatuhan. Mau pindah posisi? Sulit, jamaah yang memadati lokasi sekitar pondok tak terbendung. Padat. Akhirnya hanya bisa pasrah. Menyimak pancaran ilmu dan keindahan yang ditebar oleh Mbah Nun dan KiaiKanjeng, sambil sesekali buah pohon Gayam berjatuhan dengan bunyi kemresek, siutan dan gedebuk yang mengerikan.

KH D Zawawi Imron membacakan puisi “Ibu”. Foto: Adin.

Acara Ngaji Bareng ini, Selasa tanggal 7 November 2017 selain sebagai peringatan ulang tahun pondok ke sembilan belas, juga adalah peringatan Tahun Baru Hijriyah dan Hari Pahlawan. Lho, bukankah hari Pahlawan itu jatuhnya tanggal 10 November? “Tanggal 10 itu meledak peristiwanya, persiapannya ya sejak tanggal 7”, kata Pak Kiai Muzammil disambut tawa jamaah. Kita tidak sedang meributkan kebenaran di sini, kita sedang meresapi keindahan.

Dan keindahan itu, juga hadir KH Zawawi Imron dengan puisi-puisinya. Kyai Zawawi sewaktu-watu menyentakkan rasa nasionalisme kita dan pada waktu lain juga menyentuh haru dengan puisi lain. Terutama puisi berjudul “Ibu”.

Kyai Zawawi Imron tidak bisa berlama-lama. Pukul 23.00 beliau sudah harus meninggalkan lokasi karena pagi-pagi betul beliau sudah mesti berada di Malang untuk acara lain.

Aamanu wa hajaru wa jahadu, Para Jihadis di Lokasi Ngaji Bareng

Tema Tahun Baru Hijriyah dan Hari Pahlawan oleh Mbah Nun dianggap bukan mengada-ada, dan bukan sesuatu yang otak-atik gathuk. Karena ada ayat yang khusus membahas soal “haajaru” atau orang-orang yang berhijrah, juga ada yang khusus membahas “jaahadu“, orang-orang yang berjihad. Dan ada ayat yang menyambung tema-tema itu ditambah “aamanu“, orang yang beriman. “Yaa ayyuhalladziina aamanu wa haajaru wa jaahadu…” Ayat tersebut kemudian dibacakan oleh Kiai Muzammil. Artinya, ada satu tarikan nafas kesadaran dalam iman, hijrah dan jihad.

Sejak dari awal masuk ke lokasi acara, kita memang akan sering sekali bertemu dengan para jihadis, para mujahid; penjual sosis, bakso tusuk, siomay, tukang kopi keliling dan banyak sekali pejuang-pejuang tangguh. Ini adalah peristiwa kepahlawanan. Para mujahidin ini nyata, bukan tokoh pahlawan berselamur mitos.

Pahlawan pejuang kehidupan. Foto: Adin.

Mbah Nun sempat menyampaikan hal senada bahwa bila kita berbicara pahlawan, tidak mesti kita lantas merujuk pada nama-nama besar, pahlawan versi negara seperti Soekarno, Hatta, Bung Tomo dan sebagainya. Mereka benar, memang pahlawan. Tapi jangan lupa juga bahwa hidup sehari-hari adalah medan jihad yang tak kalah sengit. Dan berjuang mempertahankan hidup, dengan prinsip kejujuran dan keikhlasan adalah juga peristiwa kepahlawanan, adalah jihad juga.

Sayangnya memang terdapat kesalahkaprahan kita dalam memandang sosok pahlawan. Kadang kita masih memakai logika “pahlawan harus menderita”. Para aktivis misalnya–tentu tidak semua–seringkali ‘membanggakan’ kisah pedihnya–boleh membaca ini sambil nyetel lagu “Di Udara”-nya Efek Rumah Kaca. Kisah-kisah tokoh yang dipopor senjata, dilempar ke laut, disiksa dan seterusnya jauh lebih sexy untuk direproduksi daripada kisah-kisah bagaimana menjaga keguyuban, bersedia mengerti posisi aparat itu sebagai alat yang mau tidak mau harus melaksanakan tugasnya dan kemudian berusaha mencari win-win solution. Peristiwa ketika Mbah Nun berhadapan dengan aparat yang dituangkan dalam tulisan “Pembubaran Pengajian Gus Dur” saya kira contoh yang baik sekali bila kita mau mempelajari cara-cara yang kultural, silmi, lembut penuh pengasuhan.

Pun, dalam mengenang pahlawan, kesadaran kita juga masih kesadaran mitos daripada rasional. Sehingga ketika belajar sejarah tentang sosok tertentu, kita terpaku pada pandangan “ini heronya, itu penjahatnya”, seolah yang pihak sini adalah pahlawan tanpa cela sedangkan yang sana adalah monster beringas. Padahal manusia ya manusia, dia menjadi pahlawan pada peristiwa kepahlawanan itu, setelahnya adalah kewajaran hidup.

Soekarno membacakan proklamasi, merdeka kita. Setelah itu dia pulang, makan sate di warung. Itu bulan Ramadlan. Sebenarnya kisah-kisah kecil dan wajar lebih asik daripada ingar-bingar yang kolosal.

Kita kehilangan kewajaran, kita kurang seimbang dalam memandang. Apa yang dilakukan oleh Mbah Nun dan KiaiKanjeng adalah usaha terus-menerus demi mengembalikan keseimbangan pandangan kita itu.

Foto: Adin.

Sementara ancaman kejatuhan buah pohon Gayam masih menghantui, saya jadi teringat satu peristiwa ketika saya baru menikah. Bapak saya yang baru datang dari Sulawesi tidak begitu mengenal besannya, mertua saya. Mertua saya seorang Soekarnois sejati, sedang bapak saya tidak pernah punya rasa hormat yang mendalam pada tokoh politik, atau tokoh apapun mungkin. Hanya dua nama tokoh yang saya tahu beliau senang: Kahar Muzakkar dan Emha Ainun Najib. Pada satu malam yang nahas itu, saya dan istri berada di tengah obrolan ‘sindir-sindiran’ antar besan:

Bapak Saya: “Ituu zaman Soekarno gara-gara dia banyak bicara, besar mulut saja itu orang kita yang jadi susah. Dia enak saja di istana.”

Mertua: “Era Soekarno duluuu, biarpun makan susah, hidup susah tapi semua dilakukan dijalankan demi harga diri bangsa…”

Berada di tengah obrolan yang bukan debat tapi saling sindir itu rasanya traumatis, waktu seolah berjalan perlahan dan tidak tahu harus berbuat apa. Tapi mendengar kalimat-kalimat Mbah Nun pada malam Ngaji Bareng di Pondok Rohmatul Umam, di tengah teror fisik dan psikis kejatuhan buah Gayam, membuat saya mengerti bahwa memang selalu ada sudut, jarak dan sisi pandang yang berbeda dalam memandang segala sesuatu. Dan baik bapak saya maupun mertua saya, tetap pahlawan juga bagi kami sekeluarga.

Serbuan Buah Pohon Gayam dan Kepala Terlindung Peci Maiyah

Sesi tanya jawab dibuka. Seorang penanya dengan bahasa kromo inggil bertanya soalan fiqh mengenai mengorbankan anak. Maksudnya, berqurban atas nama anaknya.

Penanya kedua seorang guru sejarah yang bingung dengan kondisi anak zaman sekarang yang sulit diajak belajar sejarah.

Penanya ketiga seorang mahasiswa yang kebetulan sedang KKN di wilayah tersebut, bertanya perihal kondisi bangsa yang makin pecah belah. Tampak jelas dari nada bicaranya, kejenuhan akan pertikaian yang tidak sudah-sudah. Semua pihak, saling menuding bahwa pihak lawannyalah yang merusak kebersamaan. Dan tudingan itu justru makin memperuncing permusuhan.

Lebih aman duduk di bawah pohon pisang. Foto: Adin.

Tiba-tiba beberapa buah pohon Gayam berjatuhan di dekat kami. Konsentrasi ke arah panggung mau tidak mau terganggu terutama ketika…  “bletok!” sebiji buah Gayam tepat mengenai kepala seorang jamaah. Sontak semua mata tertuju pada empunya kepala. Tapi rupanya Mas yang ketiban buah gayam tidak apa-apa, kepalanya cukup terlindungi dengan peci khas Maiyah yang dikenakannya.

Sebenarnya saya awalnya tidak tahu nama pohon ini. Baru ketika saya menjawil Mas berpeci Maiyah itu, lalu saya tanyakan jenis pohon yang bersangkutan, Mas itu menjawab, “Ini pohon Gayam Mas, buahnya kecil tapi keras” katanya. Mas itu menoleh dan mencari-cari buah yang tadi telah menyakiti kepalanya. Ada di situ. Tergeletak.

Mas itu rupanya tidak memendam kesumat, dia tidak berniat membalas kelakuan buah yang menyakitinya, dia tidak berusaha meng-UU ORMAS-kan buah itu, tidak lantas menuduh radikal, intoleran, anti Pancasila atau menyuruh si buah Gayam menandatangani surat pernyataan anti khilafah dan pro Pancasila. Gawat juga kalau begitu.

Mas itu jembar hatinya, dia tersenyum pada buah ‘radikal’ itu. Mas itu mungkin cukup paham bahwa tingkat kemampuan dan pemahaman si buah Gayam ya segitu itu. Beruntung pula kepalanya terlindung peci Maiyah.

Saya baru kembali memperhatikan panggung tepat ketika Mbah Nun berkata, “Yang sekarang terjadi bukan Pancasila, yang terjadi adalah manipulasi Pancasila untuk menyingkirkan yang tidak sesuai dengan dirinya”

Mbah Nun kembali menegaskan bahwa mereka yang di atas, yang berada di kayangan kekuasaan tidak bisa lagi diandalkan untuk menjaga kerukunan dan kebersamaan. Kita punya presiden, gubernur dlsb tapi tidak benar-benar punya pemimpin. Banyak tokoh agama, tapi tidak ada imam.

Terdapat manipulasi-manipulasi di tingkat atas yang hasilnya adalah pertikaian dan permusuhan antar pihak yang sama-sama tidak mengerti akar persoalan. Hampir tidak ada ditemukan indikasi ketulusan pada kaum penguasa. Masyarakat kelas bawah justru serius, tahlilan ya tenanan menjaga guyub rukun. Tapi ketika tahlilan, wiridan, bahkan mungkin–kalau ada–sripahan sampai pernikahan diadakan oleh kalangan istana sana, semuanya akan beraroma politis; melekatkan mitos sederhana, mitos bersahaja, mitos berwibawa, satrio piningit, citra sebagai pelestari budaya dan bla bla bla lainnya.

Para pejuang KiaiKanjeng. Foto: Adin.

Terhadap kekuasaan macam ini memang kita sebaiknya su`udhon. Karena pola kekuasaan masih berjalan dengan mekanisme mitos. Akibatnya kesadaran politik puja-hujat semakin lestari dan tak ada kemauan dari para penguasa untuk menegakkan akal sehat serta usaha menggiring proses demi melengkapi pemahaman mengenai hal-hal mendasar pada pengikut-pengikut setia mereka masing-masing. Mereka justru tampak menikmati. Mungkin akal sehat sungguh sesuatu yang asing bagi yang di kayangan kekuasaan sana.

Barusan persoalan antara seorang ustadz eks HTI vs Banser misalnya. Bermula dari si ustadz diminta tanda tangan pernyataan tidak akan membicarakan Khilafah dan pro-Pancasila. Pertanyaannya, mana di antara kubu-kubu itu yang utuh pemahamannya soal Khilafah dan Pancasila? Utuh benar mungkin tidak, tapi minimal ada usaha untuk melengkapi pandangannya dengan kehadiran yang berbeda? Yang liyan?

Gawat memang kalau semua orang disuruh menandatangani pernyataan pro Pancasila. Bisa jadi yang paling keberatan, kabotan untuk menandatanganinya ya pemerintah sendiri. Karena terbukti kita belum pernah punya pemerintah yang Pancasilais, yang produknya minimal adalah persatuan, dipimpin oleh khidmat kebijaksanaan dan mengarah kepada keadilan sosial. Sengaja tidak dimasukkan di sini kriteria berketuhanan yang Maha Esa, wahh kalau itu sih mimpi saja jangan, daripada kecewa.

Ya tapi itu kalau total mau nyuruh menandatangani pernyataan pro-Pancasila tanpa pandang bulu. Kita ini kan sudah tenar sebagai negeri serba nanggung.

Maka kita, manusia-manusia tanpa jabatan, bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa ini yang mesti mandiri berikhtiar menjaga harkat, martabat, harga diri serta kebersamaan dan keamanan satu sama lain. Rakyat jelata, grass root, inilah benteng terakhir.

Mendekati akhir, ketika kita sebelumnya diajak melihat kahanan yang serba buram dari bangsa ini. Seolah tidak ada lagi harapan, Mbah Nun menyampaikan bahwa harapan tetap selalu ada. Di tengah golongan yang siap saling hancur-menghancurkan, Allah swt tentu juga menyiapkan generasi pengganti yang lebih jernih pandangannya, tidak terseret arus saling memusuhi dan yang terutama dicintai oleh Allah sendiri sehingga instrumen kekuasaan langit, barisan gelombang malaikat, selalu non-stop berperan aktif menjaga pikiran mereka dari degradasi pemahaman serta kerancuan berpikir.

Para Mujahidin. Foto: Adin.

Sudah cukup malam, pukul 01.00 lebih dan jamaah, para mujahidin peradaban tetap istiqomah. Acara diakhiri dengan pembacaan doa. Mbah Nun memang menyampaikan, karena sudah cukup larut maka cukup bersalaman dari hati.

Saya menyaksikan, walau bukan untuk bersalaman secara fisik, orang-orang mendekat ke arah panggung entah apa yang mereka datangi, mungkin mereka nyamperin harapan. Mereka berhijrah ke zaman baru dengan keimanan yang teguh dan mental jihad yang membersamai. (MZ Fadil)

Saya dicekam perasaan was-was selama acara Ngaji Bareng kali ini. Bukan, bukan karena potensi perpecahan di antara ummat Islam mulai tampak makin…