Bergerak dalam Hijrah yang Tak Berkesudahan

Catatan Majelis Ilmu Padhangmbulan Jombang, 04 Oktober 2017

Dua bulan sudah Mbah Nun berhalangan hadir di Majelis Maiyah PadhangmBulan. Seperti halnya bulan lalu, di malam 4 Oktober 2017 Mbah Nun juga masih berhalangan duduk melingkar beratapkan kesumringahan rembulan bersama para jamaah. Bukan sesuatu yang aneh jika dalam satu malam, Maiyahan di beberapa tempat digelar secara bersamaan. Pun dengan malam itu. Jamaah di sini melingkar bersama PadhangmBulan, sementara di belahan bumi sana, Mbah Nun nyambangi dulur-dulur yang ada di Korea Selatan.

Melingkar bersama. Foto: Hariadi
Melingkar bersama. Foto: Hariadi

Masih dalam suasana khas PadhangmBulan, yang ramai di tengah kesunyian dan hening di tengah kebersamaan, jamaah dari berbagai penjuru, mulai dari Banyuwangi sampai Purwokerto pun melingkar dalam satu. Tak ketinggalan adik-adik TPQ dan SMK Global yang mempesembahkan kebolehan mereka turut memberikan warna dalam lukisan malam itu. Siswa-siwi jurusan seni musik KiaiKanjeng yang baru dibuka tahun lalu pun sudah hadir di atas panggung menyumbangkan beberapa tembang lagu. Semua membaur tanpa pandang bulu. Mereka ngaji bareng, bersama berikhtiar menjemput hidayah guna menemukan kesejatian yang tak semu.

Hijrah yang Direncanakan

Malam yang bertepatan memasuki bulan tahun baru hijriyah ini dimanfaatkan Cak Fuad untuk mengajak jamaah bersama nguri-nguri sejarah hijrahnya Kanjeng Nabi. Mulai dari hijrah yang pertama ke Habasyah di tahun ke-5 kenabian, kemudian hijrah lagi dari Mekah ke Thaif, sampai akhirnya hijrah menuju Madinah Munawwarah.

Dalam melakukan hijrah ini, Kanjeng Nabi tidak hanya semata-mata asal hijrah saja. Kanjeng Nabi pun telah memperhitungkan matang-matang sebelum melakukan hijrahnya. Bahkan, menurut Cak Fuad, Kanjeng Nabi memerlukan waktu satu sampai dua tahun guna memantapkan strategi kehijrahannya. Atas kuasa Tuhan, melalui strategi yang dilakukan Rasulullah, hijrah pertama beliau tersebut pada akhirnya berhasil menggerakkan Raja Najasyi memeluk ajaran Islam.

Pada hijrah yang ke dua, Rasulullah memilih kota Thaif karena di sana banyak keluarga beliau dari Bani Hasyim. Meskipun akhirnya berita kehijrahan beliau tersebut terdengar oleh kaum Quraisy sebelum Kanjeng Nabi tiba di sana. Bergerak cepatlah kaum kafir Qurasy tersebut guna menggagalkan visi misi Kanjeng Nabi di sana. Hingga akhirnya, jarak kurang lebih 150 km yang ditempuh Rasulullah dari Mekah ke Thaif tersebut dibayar dengan ancaman-ancaman yang didapatkan di Thaif. Kanjeng Nabi dilempari kotoran, dan juga batu sampai beliau berdarah-darah. Saking besarnya ancaman yang didapatkan Rasulullah dari masyarakat Thaif, sampai-sampai malaikat Jibril pun menawarkan hukuman dengan menimpakan gunung kepada masyarakat Thaif tersebut.

Cak Fuad mengajak Jamaah Maiyah belajar dari kisah hijrahnya Rasulullah.
Cak Fuad mengajak Jamaah Maiyah belajar dari kisah hijrahnya Rasulullah.

Di sini, Cak Fuad pun menunjukkan betapa sabarnya Kanjeng Nabi. Cak Fuad menunjukkan doa Nabi Nuh saat mendapati kaumnya yang ingkar dengan doa Kanjeng Nabi saat menghadapi masyarakat Thaif tersebut. “Wahai Tuhanku, jangan Kau tinggalkan seorang kafir di atas bumi.” Begitulah kiranya doa yang disampaikan Nabi Nuh. Sementara Kanjeng Nabi, dengan ancaman yang sebegitu hebatnya, beliau masih saja memohon kepada Sang Maha, “Yaa Allah, tunjukilah kaumku. Sesungguhnya mereka itu tidak tahu.”

Setelah melewati masa-masa sulit dalam hijrahnya, titik terang mulai ada saat Kanjeng Nabi hijrah ke kota Madinah. Di sana beliau mendapatkan sambutan yang baik dari penduduk pribumi Madinah. Dakwah Rasulullah pun mulai tampak membuahkan hasil di Madinah.

Ada semacam simbiosis mutualisme antara kaum Muhajirin Mekah dengan kaum Anshar Madinah. Penduduk Madinah yang kebanyakan berprofesi sebagai petani dan penduduk Mekah yang kebanyakan mata pencahariannya berdagang itu mendadak menjadi pasangan yang sangat serasi. Bagaimana tidak serasi, selama ini penduduk Madinah menggunkan hasil panenannya hanya untuk konsumsi pribadi. Hasil panenannya ditimbun sebagai cadangan makanan sampai nanti tiba waktu panen lagi. Begitu seterusnya. Akan tetapi, setelah kedatangan kaum Muhajirin di sana, mulai tampak perubahannya. Hasil panenan tersebut tidak lagi hanya ditimbun saja. Orang-orang Mekah yang sudah terbiasa berdagang itu pun mencoba memutarkan hasil panenan tersebut di pasar. Orang-orang Mekah datang menularkan ilmu bisnisnya, hingga semakin berkembanglah perputaran perekonomian di sana.

Kehidupan orang-orang Mekah di Madinah ini jauh lebih enak. Di sana, orang-orang Madinah benar-benar ‘memanusiakan’ orang-orang Mekah. Bahkan, sampai ada kesepakatan bahwa tanah-tanah lapang di Madinah yang tidak berkepemilikan diberikan kepada orang-orang Mekah. Hingga Rasulullah pun semakin mantap mengajak kaum Mekah pindah ke Madinah.

Foto: Hariadi
Foto: Hariadi

Atas keikhlasan penduduk Madinah ini, Rasulullah beserta Allah pun memuji mereka. “Orang-orang Madinah itu mengutamakan orang lain (tamu-tamunya) dibanding dirinya sendiri. Meskipun dia sendiri juga butuh,” Cak Fuad membahasakan pujian kepada penduduk Madinah tersebut.

Keniscayaan Hijrah

Sudah manusiawi, seringkali kenyamanan memang lebih ‘mematikan’ dibandingkan penderitaaan. Pun dengan kasus ini. Karena hidup yang sudah mulai enak, Kaum Muhajirin Mekah ini mulai lupa kepada Allah Swt. Hingga turunlah QS. Al-Hadid ayat 16. “Allah bertanya: Belum saatnya kah orang-orang beriman itu ingat kepada Allah dan Al Quran?” Cak Fuad menuturkan bahwa ayat ini merupakan peringatan keras kepada orang-orang Muhajirin yang sudah enak hidupnya.

Ngomong-ngomong, bicara masalah hijrah, lalu bagaimana dengan hijrah kita dan juga mereka-mereka pasca hijrahnya Rasulullah ke Madinah? Apakah kita juga mesti pergi ke Madinah guna menggugurkan kewajiban kita untuk berhijrah tersebut. Agar kita tidak dikira menjadi golongan yang tidak mau hijrah, hingga kita tidak diperbolehkan mendapatkan perlindungan dari ummat Islam.

Tunggu dulu. Hijrah, perlindungan ummat Islam? Maksudnya bagaimana sih? Iya, jadi orang yang tidak mau hijrah, disebut-sebut tidak berhak mendapatkan pertolongan dari ummat Islam. Kecuali kalau mereka meminta pertolongan dalam urusan agama, kita pun tetap harus menolongnya.

Kembali ke masalah hijrah, suatu ketika ada yang menanyakan Rasulullah terkait hijrah pasca hijrah beliau ke Madinah tersebut. “Sekarang  tidak ada lagi hijrah, yang ada jihad dan niat,” Cak Fuad menirukan jawaban Rasulullah.

“Muhajir itu siapa?” Tanya Cak Fuad di sela-sela penjelasan beliau mengenai sabda Rasulullah tentang muhajiir, orang-orang yang berhijrah. Sementara jamaah umek menyuarakan pendapat mereka, ngglethek Cak Fuad malah ngajak guyon, “Menteri pendidikan.” Sontak kalimat Cak Fuad yang tidak disangka-sangka itu pun disambut tawa renyah jamaah.

Lebih lanjut, Cak Fuad menuturkan bahwa yang dimaksud muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah Swt dan bergerak menuju apa yang diizinkan-Nya. Hijrah itu ada banyak bentuknya. Ia bisa hijrah dari kekufuran menuju iman, hijrah dari maksiat menuju ta’at, hijrah dari duniawi menuju ukhrawi, hijrah dari penyembahan Thaghut menuju kepada Allah semata, hijrah dari ananiyah egoisme menuju itsar (mementingkan orang lain), dan masih banyak lagi yang lainnya. Yang jelas, hijrah ini tak lain adalah bergerak menuju Allah Swt., memurnikan tauhid kita. bergerak dari yang belum baik menuju sesuatu yang lebih baik. Dari yang sudah baik jadi bertambah semakin baik. Beegitu seterusnya, hingga kita pun bisa terus semakin mendekat kepada Sumber segala kebaikan yang ada di semesta.

Wur-wur sembur. Foto: Hariadi.
Wur-wur sembur. Foto: Hariadi.

Masih berkorelasi dengan hijrah, malam itu Mas Syaiful, penggiat PadhangmBulan, mencoba memantik pemikiran jamaah. “Kita ini, Maiyah, itu gerakan apa gerak itu sendiri.” Mas Syaiful juga mengajak jamaah untuk bermuhasabah, apa bedanya kita ini dengan gerakan-gerakan sosial ataupun ormas-ormas itu.

Masih dalam suasana interaksi antarjamaah, hadir pula Mbah Muhsin yang datang dari Banyuwangi. Mbah Muhsin mengaku tertarik dengan Maiyah, sampai dibelani jauh-jauh datang ke sini, karena merasa di Maiyah berbeda dengan pengajian-pengajian lainnya. “Belum ada yang ngaji syar’i basa Jawa. Enggak kayak ning tipi-tipi niku (tidak seperti yang ada di televisi-televisi itu),” aku Mbah Muhsin.

Apa yang dituturkan Mbah Muhsin tersebut seolah mengingatkan kita kembali, bahwa bagaimanapun kita tidak akan pernah bisa lepas dari yang namanya budaya. Termasuk dalam masalah ngaji, mempelajari dan berbagi ilmu. Bahwa yang namanya ngaji tidak harus selalu berbekal dalil-dalil berbahasa Arab. Yang penting adalah bagaimana pesan tersebut bisa tersampaikan. “Namung crito tok, tapi isine Qur’an.” Hanya cerita, tapi isinya Al-Qur`an. Begitu yang selama ini Mbah Muhsin rasakan dalam setiap Maiyahan.

Ada pula yang bercerita merasa tiba-tiba sangat akrab dengan jamaah, padahal belum saling kenal sebelumnya. Juga ada yang menceritakan suatu hal, dan menurut beliau ini belum pernah beliau jumpai di tempat lainnya. Suatu ketika, saking pinginnya beliau bersalaman dengan Mbah Nun, bapak ini meninggalkan tas, dompet, beserta ponselnya. Selang cukup lama, beliau pun ingat akan barang-barang yang ditinggalkannya tersebut. Dan setelah dicek, beliau kaget bukan main. Karena ternyata barang-barang itu maasih tetap utuh di tempatnya yang semula. Beliau tak bisa membayaangkan, di zaman sekarang, jika barang-barang tersebut tertinggal di tempat lain, belum tentu juga akan tetap utuh seperti sedia kala.

Kyai Muzammil menutuo Padhangmbulan. Foto: Hariadi.
Kyai Muzammil menutuo Padhangmbulan. Foto: Hariadi.

Menjelang pukul dua dini hari, Kyai Muzammil pun memungkasi penjelasannya mengenai substansi doa dengan mengajak  jamaah berdoa bersama. Masih dalam semoga, doa-doa yang kita panjatkan memang benar-benar murni wujud sapaan kita kepada Tuhan. Bukan semata seremonial, alih-alih mengharapkan pujian. (Hilwin Nisa)

Dua bulan sudah Mbah Nun berhalangan hadir di Majelis Maiyah PadhangmBulan. Seperti halnya bulan lalu, di malam 4 Oktober 2017 Mbah Nun juga masih…