Bercermin kepada ‘CERMIN’

Grup band Stinky baru saja melepas single barunya berjudul “Jangan Tutup Dirimu”. Video klip mereka sering muncul di tivi. Antena UHF di rumah saya selesai dipasang. Kami sekeluarga bergembira karena dua hal. Yang pertama, saya berhasil memperoleh ranking satu di kelas. Karena saya ranking satu, sesuai kesepakatan, ibu membelikan tivi tabung berwarna 14 inch merk Sony dengan remote otomatisnya.

“Kalau kamu ranking satu, ibu akan membelikan tivi berwarna.” Ujar beliau saat memasuki tahun ajaran baru.

Dari tivi, saya bisa menikmati acara-acara di stasiun tivi swasta. Tahun 90-an stasiun tivi tidak banyak. Ada tiga stasiun tivi swasta yang saya ingat waktu itu. TPI (dulu milik putri Presiden Suharto), RCTI (kalau tidak ada stasiun tivi ini mungkin kartun Doraemon tidak akan dikenal), yang ketiga Indosiar. Stasiun tivi yang ketiga ini punya dua acara favorit keluarga kami. Yang pertama ‘Pesta Indosiar’, semacam acara live music, kesukaan saya dan kakak saya. Yang kedua adalah acara berdurasi singkat. Kalau tidak salah ingat menjelang Maghrib. Judulnya ‘CERMIN’.

Saya yang masih kecil, tidak begitu paham dengan acara kesukaan bapak ini. Ada seorang laki-laki seolah berbicara kepada penonton dengan kalimat,

“Kalau anda…”

“Kalau engkau….”

“Kalau hidupmu…”

Setiap acara itu mau mulai, bapak selalu mengatakan,

Iki enak iki. Iki enak acara iki. Sek sek aja diganti. Iki enak iki.” 

Remote yang hampir tak pernah lepas dari genggaman tangan saya, saya letakkan. Saya ikuti acara tivi itu sampai selesai. Dan saya masih saja tidak paham dengan ‘CERMIN’.

Satu nama, Cak Nun.

Kata ibu, saya memiliki ingatan yang kuat. Itu kenapa meski saya tidak belajar, saya dapat meraih ranking satu. Itu kata ibu. Saya tidak cerdas, cuma kebetulan saja ingatan saya kuat. Sekali baca sudah. Sekali dengar sudah.

Pada masa itu juga, kakak tertua saya membelikan tape compo. Dengan keunggulan suara yang cukup bagus. Dari situ saya dapatkan nama dua penyanyi, Haddad Alwi dan Sulis.

Namanya Lardi. Teman satu jurusan. Dia mengajak saya ke Semarang untuk mengambil data untuk keperluan tulisan ilmiahnya. Kalau tidak salah tahun kurun 2008-2009. Kami bertiga dengan satu orang teman lagi, berangkat dari Solo menggunakan mobil.

“Kamu pakai celana pendek?” tanya Lardi.

“Iya. Kenapa? Biasa kayak gini. Aku bawa sarung.” Jawab saya.

“Nggak apa-apa. Nanti acaranya kayak pengajian.”

Sampai di masjid Baiturrahman Semarang, saya dapati banyak orang sudah berdatang. Kemudian salah satu nama disebut oleh MC.

Cak Nun sampun rawuh…”

Ramai orang menyalami beliau. Lha Cak Nun? Itu yang di tivi dulu? Begitu batin saya.

Beliau berbicara banyak hal. Hanya satu yang saya ingat, padahal katanya ingatan saya ini bagus lho. Kalimatnya begini:

“Bukan sesudah kesulitan ada kemudahan. Melainkan bersama kesulitan ada kemudahan.”

‘Pengajian’ itu belum selesai saya sudah keluar dari aula. Tidur di beranda masjid. Dan ditegur keamanan masjid. Disuruh untuk masuk. Saya masuk dengan mata riyip-riyip.

Sewaktu di kampus saya menemukan buku dengan judul yang cukup ‘aneh’ di perpustakaan. ‘Slilit Sang Kyai’. Buku yang ditulis oleh Emha Ainun Nadjib. Yang belakang baru saya sadari bahwa Cak Nun adalah sapaan lain dari Emha Ainun Nadjib. Oalah. Ini kan acaranya sering keluarga kami tonton dulu. Saya pinjam buku itu.

Sampai di kosan, saya baca. Lembar demi lembar. Halaman demi halaman. Paragraf demi paragraf. Kata demi kata. Hasilnya, kepala saya pusing. Saya tidak paham. Sama sekali tidak paham. Dan mungkin karena referensi buku bacaan saya sedikit, mungkin buku itu ditulis dengan gaya yang tidak ada duanya.

Biasanya kalau kita pinjam di perpustakaan, satu minggu harus dikembalikan. Nanti boleh diperpanjang. Karena saya tidak ‘ngeh’ dengan ‘Slilit Sang Kyai’ saya perpanjang lagi. Saya pikir dengan membacanya kembali dapat menambah pemahaman saya. Sayang, hasilnya masih nihil.

Saya perpanjang seminggu lagi. Saya buka lagi buku kecil bersampul hitam itu. Sama saja. Masih tidak paham. Semakin dipikir semakin pusing. Semakin mencoba saya dalami, malah tak kunjung saya memasuki. Saya kembalikan dan tidak saya perpanjang.

Di bulan berikutnya Lardi mengajak saya ke Kasihan, Bantul, Yogya dengan menggunakan motor ceper kesayangan saya. Nama acaranya Mocopat Syafaat. Tambah enggak ngerti lagi saya. Ini acara apalagi? Saya duduk di belakang panggung. Karena itu area TK, jadi saya bersandar di ‘plorotan’ sampai merem melek karena acaranya tak kunjung selesai. Padahal sudah lewat dini hari.

“Ayo pulang. Kamu ngantuk.”

“Sudah dapat datanya?” tanya saya.

“Besok bulan depan lagi. Atau kalau nggak ke Kadipiro saja.”

Sampai Solo jam 01.30. Riyip-riyip di jalan. Tidur di kosan, bangun kesiangan, hemat karena tidak perlu sarapan.

Satu siang di hari Jumat, Lardi mengajak saya ke Kadipiro Jogja, dengan keperluan yang sama. Mengambil data. Dengan agak kesasar kami sampai di sebuah lokasi dengan alamat yang menurut saya juga ‘aneh’. Gang Barokah. Ini apalagi? Tempatnya di sebelah pom bensin Kadipiro. Depan Soto Kadipiro 2. Yang saya hafal sotonya.

Kami diajak naik ke lantai dua setelah dipersilakan masuk. Di ruangan itu banyak tersimpan dokumentasi tulisan-tulisan Cak Nun yang ada di media cetak, foto-foto beliau bersama grup KiaiKanjeng, dan beberapa buku serta kaset dan CD musik. Saya buka-buka arsip.

Lho? Hadad Alwi? Pernah ikut Cak Nun? Di KiaiKanjeng? Hadad Alwi yang kasetnya seing saya putar? Yang judul albumnya ‘Rindu Rosul’ berapa itu?

Dari situ kemudian pertanyaan demi pertanyaan mengalir ke kepala saya. Padahal yang butuh data teman saya. Kenapa pula saya bertanya-tanya?

Di suatu momen di Kadipiro, saya dapati Cak Nun bersama dengan almarhum W.S Rendra yang sedang berpamitan pulang.

Wes mas Willy mbok gae mobil iki wae.” Kata Cak Nun.

Iki wes pesen taksi seko hotel.” Jawab W.S Rendra.

Saya bingung menyaksikan adegan itu.

Cak Nun?

KiaiKanjeng?

Hadad Alwi?

Kok ada W.S Rendra di sini?

Lho kok ada vokalisnya Letto?

Lha? Ada Novia Kolopaking juga?

Kemudian muncul kalimat di kepala ini,

“Mungkin aku akan sering pergi ke sini……”

Maaf kalau tulisan ini terlalu menyinggung hal-hal yang mungkin menurut orang lain tidak perlu disampaikan. Karena terlalu kecil untuk dibicarakan. Tetapi bagi saya, mengenali diri sendiri itu penting. Termasuk bagian-bagian terkecil, kisah-kisah masa kecil dari diri ini. Dari sekian kali saya main ke Kadipiro, tidak banyak kalimat-kalimat dari Cak Nun, dari Mas Sabrang, atau dari Pakdhe Toto Raharjo yang saya ingat.

Kalau ibu saya mengatakan saya memiliki ingatan yang bagus, mungkin tidak berlaku untuk semua yang saya dengarkan. Mungkin cukup satu dua kalimat. Mungkin cukup satu dua huruf. Mungkin cukup bagi saya satu ayat saja.

Di zaman kecepatan informasi seperti ini, bahkan kalimat-kalimat Cak Nun yang dijadikan ‘quote’ dan tersebar di internet satu pun saya tidak ada yang ingat. Yang saya ingat dulu, ketika di Mocopat Syafaat, Cak Nun pernah bertanya kepada hadirin.

“Katakanlah anda semua mengagumi Gus Dur. Sekarang, tolong tulis satu kalimat saja dari Gus Dur yang anda ingat.”

Apa itu yang terjadi terhadap diri saya?

Maka ketika ada pertanyaan:

“Kamu ngapain setiap bulan ke Yogya? Kuliahmu kan di Solo?”

“Kamu ngapain kumpul-kumpul seperti itu? Pulang dini hari. Naik motor. Buat apa?”

Saya pikir itu pertanyaan retoris. Tidak perlu saya jawab. Karena saya tidak punya jawaban yang tepat. Bagi saya itu seperti pertanyaan:

“Besok kamu kencing jam berapa saja?”

Tuhan lebih tahu, mungkin kalau saya tahu apa-apa, Tuhan khawatir saya menjadi orang yang merasa tahu apa saja. Dan menurut saya, itu tidak baik buat pencernaan. Jadi kalau ada pertanyaan:

“Besok kamu kencing jam berapa saja?”

Jawabannya ya:

“Besok saya beri tahu kalau sudah kencing. Nanti saya catat, saya tulis jam berapa saja.”

“Lho kok besok?”

“Kan pertanyaannya buat besok?”

Tidak harus paham sekarang. Mungkin besok. Mungkin lima tahun lagi. Mungkin sepuluh tahun lagi. Yang penting selalu bercermin kepada ‘CERMIN’. Karena itu pertama kali kita terjalin.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image