Wedang Uwuh (36)

Belajar Mudik ke Sorga

Kedaulatan Rakyat, 4 Juli 2017

Beruk tidak mau kalah, menyumbang pendapat soal Idulfithri dan Mudik.

“Mudik itu istimewa. Selama setahun masyarakat bergerak kesana kemari, lalu lalang dari suatu tempat ke tempat lain, berdesakan, berebut, berlomba, bersaing, bahkan bermusuhan – di dalam mobilitas ekonomi. Orang mencari nafkah sepanjang hari. Ada yang untuk supaya keluarganya bertahan bisa makan dari hari ke hari. Ada yang mencari uang untuk jaminan hidup seminggu atau sebulan ke depan. Ada juga yang menghabiskan waktunya untuk menghimpun kekayaan, menumpuk uang dan harta benda, sampai ada yang kekayaannya melebih pendapatan seratus juta orang…”

“Jangan melebar-lebar ke ketimpangan ekonomi”, saya menyela, “fokus kita adalah makna dan hikmah Mudik…”

“Siapa yang melebar, Mbah?”, bantah Beruk, “saya pas akan omong mengerucut ke Mudik, Simbah memotong dengan kecurigaan”

“Baik, teruskan…”

“Mudik bukan mobilitas ekonomi”, Beruk meneruskan, “berbeda dengan yang dilakukannya selama setahun yang konsentrasinya adalah nafkah dan perekonomian. Mudik adalah mobilitas silaturahmi. Sebaran kasih sayang. Pergerakan besar untuk memastikan ketersambungan persaudaraan dan kasih sayang. Masyarakat mengupayakan pembersihan diri satu sama lain dengan mekanisme maaf-memaafkan satu sama lain secara besar-besaran”

“Sudah?”

“Belum, Mbah. Meskipun skalanya masih terbatas pada lingkungan keluarga masing-masing dan sedikit-sedikit agak lebih meluas dari itu, misalnya dengan acara-acara Syawalan di kantor-kantor atau lingkaran-lingkaran persaudaraan dan komunitas silaturahmi yang lain. Tetapi itu sudah luar biasa. Dan itu hanya terjadi di Indonesia. Bahkan tidak ada tradisi budaya Mudik di Negeri lahirnya Islam, maupun di Negara-negara lainnya di mana Kaum Muslimin menjadi penduduknya”

Kemudian sudah pasti Pèncèng tidak akan ketinggalan. Dan sebagaimana biasanya, pandangannya agak ekstrem dan sok nyeleneh.

“Mudik itu belajar hidup di sorga”, katanya.

“Waduh, ini bukan hanya filosofis, tapi sufistik…”, saya menanggapi.

“Orang mudik fokus pada keasyikan silaturahmi. Demikianlah juga kelak kehidupan di sorga”

Beruk dan Gendhon serius menatap Pèncèng.

“Orang mudik ketemu sedulur-sedulur, mungkin masih ada sedikit unsur persaingan kekayaan antara ini dan itu, agak pamer mobil yang lebih bagus, sehingga masih ada juga cemburu, iri, dan dengki. Tetapi tetap yang utama dan menang adalah kemesraan bersaudara dan berkeluarga. Begitulah juga kelak bebrayan di sorga”

Kami bertiga mendengarkan dengan saksama.

“Di sorga kita tidak perlu mencari nafkah, tidak membanting tulang mencari penghidupan, tidak ada persaingan, kompetisi, perlombaan. Sementara semua itu adalah muatan utama kehidupan di dunia. Maka dengan Idulfithri dan mudik kita dilatih setahun sekali untuk istirahat dari panasnya hati hidup model di dunia…”

“Apakah itu berarti semua keinginan kita selalu tercapai di sorga?”, tiba-tiba Beruk bertanya.

“Kalau tidak demikian, tidak bisa dibayangkan atau dirumuskan bahwa itu kehidupan sorga. Mestinya ya iya…”

“Kalau keinginan kita berbenturan atau sama dengan keinginan orang lain bagaimana? Misalnya kita ingin memperistri wanita yang sama?”

“Juga tidak bisa dibayangkan bahwa di sorga ada pertentangan. Sistem nilai kehidupannya berbeda dibanding di dunia. Habitat dan sifat-sifatnya juga tidak sama. Di dunia sorga seseorang bisa menjadi neraka bagi orang lain: di sorga tidak terjadi demikian. Tapi saya tidak menerima pertanyaan lebih lanjut, sebab saya tahu Gendhon mau bertanya apakah saya punya pengalaman hidup di sorga…”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image