Belajar Menjadi Manusia Dulu

Di kesunyian malam, para jamaah diajak belajar ‘menjadi manusia dulu’.
Di kesunyian malam, para jamaah diajak belajar ‘menjadi manusia dulu’.

Lewat Sinau Bareng, sampai ke pedalaman perdesaan, melawan hawa dingin, berteman keheningan, pun Cak Nun tak pernah berhenti dan terus-menerus tanpa lelah membawa suluh untuk menghidupkan serta menerangi hati dan pikiran siapapun saja yang bersama-sama duduk untuk mencari kawruh, jawaban, atau sekadar kerinduan akan suasana yang baik.

Juga dengan kehadiran Cak Nun, mereka diajak tekun berpikir, sungguh-sungguh berkomitmen kepada nilai-nilai kehidupan. Sebut, misalnya Pancasila, bagi bangsa Indonesia. Malam ini pun dengan detail dan multimetode Cak Nun mengajak jamaah mensimulasikan praktik ber-Pancasila. Apa kita benar-benar siap dan sungguh-sungguh mampu ber-Pancasila yang sila pertamnya adalah ber-Ketuhanan Mahaesa, bila kita melihat kenyataan perilaku politik yang ingkar akan nilai-nilai Tuhan.

Karena itu, satu sikap bisa diandaikan. Anggap saja tidak ada sila pertama. Maka kita mencoba fokus belajar menjadi manusia dulu (Sila kedua). Belajar menjadi manusia yang ditandai oleh adanya sikap kasih sayang kepada orang lain, empati, tak mau menyakiti, tak akan mencuri meski tak ada undang-undang, justru karena mereka adalah manusia. Jika bisa demikian, itu sudah sangat lumayan. Meskipun toh pada ujung dan puncak kemanusiaannya, manusia tetap akan kembali kepada Tuhan dengan menyadari mereka tak punya saham apa-apa atas dirinya. Hanya Tuhan yang memiliki saham atas diri mereka.

Itu adalah salah muatan yang dengan telaten diuraikan Cak Nun. Sebuah pengayaan metode memahami manusia melalui Pancasila atau memahami Pancasila lewat memahami manusia. Masih ada sejumlah hal terbahas, secara prinsip-prinsip dasarnya di antaranya pendidikan, rumus dasar kepemimpinan, tentang ayat-ayat Al-Qur’an pada dalam diri manusia dan hamparan alam semesta dan kemakhlukan.

Untuk merespons tema dan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari Jamaah, Cak Nun tidak sendirian. Mas Sabrang MDP turut serta. Atmosfer Sinau ini tertata dengan baik dengan pilihan-pilihan lagu atau nomor KiaiKanjeng yang hampir keseluruhannya bersifat kontemplatif. Sejak awal Soran, para vokalis KiaiKanjeng telah mengajak jamaah dan warga rengeng-rengeng dan shalawatan yang telah familiar di masyarakat khususnya di pedesaan. Saat di tengah acara, nomor do’a Robbana ya Robbana, mereka semua ikut serta. Musik memelan, suara jamaah diberi ruang mengisi kesunyian dengan suara-suara kekhusyukan.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image