Belajar Lagi Baca Tulis

Semua ummat manusia di peradaban apapun meyakini secara mantap dan hampir absolute bahwa anak-anak manusia harus berpendidikan, berkebudayaan, harus belajar membaca dan menulis, harus mencari ilmu dan pengetahuan. Daur 025 – Pandai Kepada Diri Sendiri

Seorang sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer pernah berkata bahwa, “Jika engkau ingin mengenal dunia maka membacalah dan jika engkau ingin dikenal dunia maka menulislah”. Qoute ini begitu fenomenal bahkan mungkin menjadi dasar atau pedoman sekaligus alasan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia yang ingin mengikuti jejak Pram.

Saya pribadi turut terkesima dengan kata-kata penggugah semangat yang disuarakan oleh Pramoedya. Kata yang sederhana namun penuh muatan yang luar biasa. Mengoyak pikiran dan alam bawah sadar saya untuk rajin membaca (Iqro’), merenung, memahami, mendeteksi untuk kemudian menuangkan sari-sari dari bacaan tersebut ke dalam sebuah tulisan. Pram sudah jauh-jauh hari berteriak lantang menyerukan pentingnya budaya baca kepada bangsa ini. Jauh sebelum pemerintah kita yang pada tahun 2016 lalu baru gembar-gembor untuk mewujudkan kampung-desa-kecamatan-kabupaten-provinsi dan negeri literasi.

Bangsa ini perlu belajar banyak kepada Pram, begitu juga manusia-nya. Apalagi bagi mereka yang ingin menjadi penulis terkenal. Puji Tuhan, berkat Pram sekarang banyak lahir penulis-penulis hebat di negeri ini. Baik pria maupun wanita. Penulis fiksi atau non fiksi. Kalau ingin menulis, terutama di ranah sastra maka buku-buku Pram bisa menjadi referensi utama bagi seorang penulis untuk membuat dan menyusun sebuah karya sastra. Tak dipungkiri karya tulisan Pram telah banyak memengaruhi dan mewarnai khasanah sastra di Indonesia.

Akan tetapi ungkapan Pram di atas juga bersifat paradoks. Artinya di satu sisi kita bisa ambil nilai positif-nya namun di sisi lain juga bisa menimbulkan efek negatif. Seperti disebutkan, “Jika ingin mengenal dunia maka membacalah”, ini hal positif yang bisa kita ambil dan terapkan. Sementara ungkapan, “Jika ingin dikenal dunia maka menulislah”, ungkapan tersebut mesti dipahami dengan pemahaman yang luas. Karena kalau hanya dimaknai secara sempit, linier atau satu arah, maka dapat berakibat tidak baik. Kalau kita menulis tujuannya hanya agar terkenal, maka fokus kita menulis adalah soal hasil, yang berupa uang atau royalti, pengakuan, dan keuntungan-keuntungan semu duniawi semata. Bukan tentang kualitas dan manfaat dari tulisan yang kita karyakan, ini yang bahaya.

***

Setahun yang lalu, saya membaca sebuah buku yang berisi kumpulan esai berjudul “Sedang Tuhan pun Cemburu” karya Emha Ainun Nadjib. Buku dengan cover depan berwarna merah dan berukuran cukup tebal. Saya baca mulai dari lembaran pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Ketika membaca uraian pada kata pengantar dari sang penulis (baca: Mbah Nun), ada sesuatu yang tiba-tiba menampar muka saya dan menghantam jantung hati saya. Di situ Mbah Nun menyampaikan bahwa beliau menulis itu bukan karena ingin jadi penulis. Bukan! Apalagi menulis buku agar bisa terkenal, tidak sama sekali.

Mbah Nun menulis karena memang ada yang mesti ditulis. Bukan karena tuntutan kerja, jenjang karier, atau motivasi pribadi belaka. Menulis adalah media Mbah Nun untuk berkomunikasi dengan orang-orang. Menulis adalah cara Mbah Nun men-silaturahmi-kan gagasan, ide, pengetahuan, ilmu dan pemahaman-pemahaman beliau agar siapa saja yang membacanya mau ikut berpikir, menggali, memamah, meneliti, menemukan keseimbangan cara pandang dan selanjutnya mengimplementasikan secara nyata nilai-nilai yang terkandung di dalam tulisan tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari.

Dampak yang timbul setelah membaca uraian dari Mbah Nun tersebut, saya jadi takut menulis. Iya takut. Kenapa? Karena jangan-jangan selama ini motif saya menulis adalah agar bisa dikenal orang, untuk gaya-gayaan, mencari eksistensi atau yang lebih parahnya lagi agar orang lain mengecap saya sebagai orang yang pintar. Kalau benar begitu, betapa bodohnya saya ini. Alangkah naif dan piciknya pikiran saya selama ini. Malu, sumpah saya malu kepada diri saya sendiri.

Satu hal yang selalu saya yakini bahwa semua yang terjadi di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Allah Sang Maha Pembuat Skenario. Maha memperjalankan adegan demi adegan. Dan setiap adegan merupakan arena pembelajaran. Hidup memang untuk belajar, dan hamba senantiasa belajar kepada Tuhan. Dari yang tidak tahu menjadi paham. Dari yang tidak kenal menjadi sayang. Dari yang sombong menjadi kerendah-hatian dan lain sebagainya. Diri ini mesti mawas diri, tidak mengaku-ngaku pandai namun mesti pandai kepada diri sendiri untuk selalu merasa tidak pandai.

Hari ini saya belajar lagi tentang baca-tulis. Belajar “membaca” kepada Pramoedya, serta belajar “menulis” kepada Emha (Mbah Nun).

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image