Allah masih memberikan optimisme akan perbaikan negara ini melalui anak-anak.
Allah masih memberikan optimisme akan perbaikan negara ini melalui anak-anak.

Bila melihat problematika negara yang terjadi hari ini yang sangat kompleks kesalahan manajemen ketatanegaraan dan perilaku para pengurusnya, rasanya kita sampai pada tahap hampir putus asa bisa terjadi perbaikan menyeluruh. Bila tidak punya keyakinan pada peran Allah, mungkin putus asa menjadi satu-satunya capaian kita.

Namun Allah masih memberikan harapan dan itu ditanamkan-Nya dalam diri anak-anak bangsa ini. Ratusan kali dalam maiyahan, kita bisa belajar pada mereka. Pun tak terkecuali  malam ini.

Hujan yang menyapa jamaah cukup panjang membuka kesempatan anak-anak kecil mendekat ke panggung dan dilibatkan Mbah Nun untuk belajar bersama. Dari mereka lewat tembang permainan anak Jamuran yang dipandu Mas Jijied dan Mas Doni, kita melihat harapan besar dalam kreativitas dan imajinasi yang tak terbayang oleh kita yang dewasa. Bila dalam permainan Jamuran yang dibawakan bapak-bapak KiaiKanjeng biasanya hanya Jamur Gulo Setangkep, Kethèk Mènèk, dan Kendil Borot, malam ini imajinasi anak-anak menelurkan Jamur Kulkas.

Apa dan bagaimana bentuknya? Ternyata mereka sedekap lalu digelitiki dan yang tertawa yang jadi. Imajinasi itu dari kulkas yang dingin maka kemudian menggigil dan sedekap.

Fragmen dolanan ini menggambarkan anak-anak tidak meninggalkan budaya nenek moyang. Mereka tetap memiliki kontinuasi dari leluhur. Dan ini membangkitkan optimisme masa depan bangsa dan negara ini. Mereka generasi yang benar-benar baru.

Belajar Kepada Autentisitas Anak-anak