Bawalah Kegembiraan yang Baik

Liputan Singkat Sinau Bareng Pasar Bunga Bratang 30 Desember 2017 (Bagian 2)

Ketika memasuki Madinah, orang-orang menyambut kedatangannya dengan gembira dan suka cita. Wajah mereka berseri-seri, dan bibir mereka mengucapkan Thala’al badru ‘alaina min tsaniyatil wada/wajabasy syukru ‘alaina

Dalam lantunan itu, terdapat kata-kata ayyuhal mab’utsu fiina… (Duhai sosok yang diutus Tuhan kepada kami). Iya, lelaki itu adalah utusan Allah. Dialah Muhammad Saw. Tetapi pernahkah kita berpikir, pada tahap itu, apa yang diutuskan-Nya untuk disampaikan ke masyarakat atau orang-orang itu. Kebahagiaan umum ataukah sesuatu yang berat? Teologi, budaya, ataukah sesuatu yang sifatnya menyeluruh?

Tidakkah pada saat itu belum semua orang memeluk Islam, bahkan konon jumlah yang telah memeluk Islam baru lima belas persen saja dari keseluruhan penduduk. Semalam dalam mengantarkan jamaah memetik ilmu dari sejarah Kanjeng Nabi, Mbah Nun mengingatkan kita untuk tidak lupa memetik konteks dan butir-butir universal dari perjuangan Rasulullah.

Dalam hemat Mbah Nun, ketika orang-orang Madinah berbondong-bondong dan bergembira atas hijrah Nabi itu telah berlangsung satu atmosfer di mana yang dibawa oleh Nabi kepada mereka adalah kegembiraan yang baik kepada mereka. Sesuatu yang universal, cair, dan menyangkut setiap jiwa manusia. Mereka telah mendengar bahwa Muhammad adalah orang yang baik dan penuh kasih sayang dengan perangai akhlak yang mulia.

Disambungkan dengan kisah-hikmah seorang pelacur yang masuk surga karena menolong anjing yang kehausan dengan sepatunya dibuat mencidukkan air di sumur buat anjing itu, Mbah Nun berpesan agar kita memahami kebaikan universal ini. Lakukan kebaikan yang menggembirakan dan kegembiraan yang baik. Tak soal engkau dari sumur mana, yang penting engkau ulurkan air kebaikan kepada siapapun saja.

Pesan ini sangat ditekankan Mbah Nun, karena kalau lihat situasi kanan kiri dalam politik, umpamanya, perilaku kita lebih banyak diwarnai oleh tindakan menghancurkan kepada yang beda dengan kita, dan mau menolong hanya kepada yang sama dengan kita. Kondisi ini tak ubahnya seperti digambarkan al-Qur’an: tahsabuhum jami’an wa qulubuhum syatta.

Sesudah “gelas ilmu” dan landasan disiapkan, kini saatnya Mbah Nun mengajak seluruh jamaah beristighfar, lalu melantunkan wirid Padhangmbulan, membaca surat al-Fatihah, dan shalawat Aba Bakrin. Kurang lebih dua puluh menit, suasana berfokus pada kekhusyukan kepada Allah Swt dan cinta kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Seluruh jamaah yang memadati jalan Bratang Binangun mengikuti wirid dan shalawat yang dipandu Mbah Nun.

Transisi sesudah shalawatan, Mbah Nun menyampaikan beberapa wawasan. Di antaranya, gambaran keadaan kita yang diibaratkan seperti kambing dan patoknya. Semestinya kambing terikat dan patuh pada patoknya, tetapi yang berlangsung sekarang adalah setiap orang membikin patok sendiri-sendiri, merasa paling benar dengan patoknya sendiri-sendiri itu, dan mempertengkarkannya. Padahal, harusnya patoknya adalah sebuah kesepakatan yang diacu secara bersama-sama.

Berhubung ini penghujung tahun, Mbah Nun ingin sejumlah jamaah naik ke panggung untuk menyampaikan pencapaian mereka setahun ini bisa pada level individu maupun masyarakat (juga apa yang disesalkan, jika ada, pada tahun ini) serta apa harapannya untuk satu tahun ke depan. Proses ini akan dipandu oleh Pak Suko Widodo.

Walaupun baru akan melangkah ke tahap pengungkapan jamaah tersebut, sejauh ini mereka telah telah mencatat bahwa pada bagian awal ini Mbah Nun telah membekali mereka ilmu yang diambil dari ikhtiar memetik nilai dari perjalanan hidup Rasulullah yang selalu saja ada kebaruan jika kita mau jernih dan semurni mungkin melihatnya. (HM)

Ketika memasuki Madinah, orang-orang menyambut kedatangannya dengan gembira dan suka cita. Wajah mereka berseri-seri, dan bibir mereka mengucapkan Thala’al badru ‘alaina min tsaniyatil wada/wajabasy syukru ‘alaina… Dalam lantunan itu, terdapat kata-kata ayyuhal mab’utsu fiina… (Duhai sosok yang…