Bangsa Memuja Materialisme dan Perbelanjaan

Catatan Sinau Bareng DPRD Surabaya, 19 Agustus 2017

Lagu-lagu KiaiKanjeng menemani perjalanan kami dari Jombang menuju Surabaya. Bismillah nawaitu, kami akan menghadiri Maiyahan Cak Nun dan KiaiKanjeng di halaman gedung DPRD Surabaya. Sepanjang perjalanan, puisi “Kemana Anak-anak Itu” berkali-kali memacu ingatan saya, tahun 97-an zaman di Malang, saat menyaksikan KiaiKanjeng dan Cak Nun membaca puisi itu.

“Ilmu kelakone kanthi laku, ojo mbagusi”, nasihat Cak Nun kepada semua yang hadir.
“Ilmu kelakone kanthi laku, ojo mbagusi”, nasihat Cak Nun kepada semua yang hadir.

Halaman gedung DPRD Surabaya nyaris penuh sesak. Ribuan massa itu tidak hendak melancarkan aksi demo, atau menyampaikan tuntutan agar tarif listrik diturunkan, atau meneriakkan yel-yel ala demonstran. Mereka duduk bersila dalam shaf yang rapat dan teratur.

Sekilas saya mengamati wajah-wajah itu—raut wajah yang sedang bergembira. Beberapa orang membawa alas tikar sendiri, menggelarnya lalu mempersilakan orang di sekitarnya duduk bersama. Penjual kopi terus beredar. Dari sekian banyak mereka yang berkumpul, mungkin ada yang baru pertama kali memasuki halaman gedung DPRD Surabaya. Malam itu DPRD Surabaya menjadi Rumah Rakyat.

Pancasila: Rumusan Kenyataan Sejarah ataukah Dambaan Cita-cita?

Musik Pambuko dari KiaiKanjeng membingkai suasana. Nada iramanya menyatukan ikatan batin dalam kekhusukan yang misterius. Bersambung dengan Rampak Osing dan lagu Terbit Rembulan—pilihan nomor pembuka yang pas untuk Arek-arek Suroboyo yang trengginas.

Saya ndepis di pojok sisi kiri panggung. Sebuah pesan Whatsapp masuk. Seorang kawan menulis: “Dilarang larut”. Saya tergeregap. Saya memang larut sejak sebelum Mbah Nun menyapa jamaah. Ini “gara-gara” musik KiaiKanjeng yang selalu menarik-narik asosiasi berpikir saya mengembarai detail-detail bunyi.

Tepat pukul 21.00 WIB Mbah Nun bersama jajaran DPRD Surabaya menyapa jamaah. Tampak Andrew Kelly (Konjen Amerika Serikat di Surabaya), Wisnu Saktibuwana (Wakil Walikota) dan Pak Suko Widodo. Lagu Nasional Indonesia Raya dan Syukur bukan hanya melantun di bibir, tetapi juga menggema di ruang batin. Pada momentum ini, di setiap Maiyahah, kulit badan selalu merinding. Vibrasi cinta yang tidak perlu diteriak-teriakkan, di-saya-saya-kan, di-meme-meme-kan. Ungkapan: “Belahlah dadaku kalau engkau meragukan cintaku pada Indonesia!” — mungkin cukup tepat untuk melukiskan getaran cinta itu.

Al-Quran surat At-Thalaq ayat 2-3 dijadikan gondelan oleh Mbah Nun untuk menyapa dan menenteramkan hati kita semua. “…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan padanya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangka. Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan kebutuhannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Allah benar-benar membuat ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”.

Poin yang bisa digarisbawahi adalah menjalani takwa sebagai sikap waspada kepada semua hal di kiri-kanan dan sekitar kita; dengan nandur takwa kita akan diberi solusi atau jalan keluar bagi setiap persoalan, dan dilimpahi rejeki dari arah yang tidak kita duga sebelumnya. Tawakal—menjadikan Allah sebagai Muwakkil, Manajer Utama, akan menjamin dan mengantarkan kita tiba di gerbang harapan dan cita-cita.

Langsung menukik pada pertanyaan: “Apa yang Anda harapkan dari kehidupan di Indonesia?” — Mbah Nun mengurung jamaah untuk menemukan jawaban yang substantif. Pertanyaan yang jawabannya “wajib” didengar secara langsung oleh para wakil rakyat. Pertanyaan yang mungkin masih seleh-genje dijawab wakil rakyat. Pertanyaan yang tidak diduga oleh jamaah yang memadati halaman DPRD Surabaya dan tidak disangka oleh para wakil mereka.

Beragam jawaban terlontar. Sejahtera, makmur, damai, rukun, toleransi adalah sejumlah kosakata dari jamaah untuk menggambarkan harapan kehidupan Indonesia. Tidak langsung menelanjangi ragam jawaban itu, Mbah Nun mengajak berpikir melingkar, men-thawafi kandungan isi pikiran jamaah. Melacak akar kata Pancasila beserta makna asalnya. Sungguh ini dialektika yang menarik untuk dicermati. Mbah Nun tidak mau gegabah atau langsung memberi penjelasan tanpa pondasi etimologis yang kokoh.

Kalau Pancasila diibaratkan pohon, maka kita harus menemukan akarnya, meneliti oyot-nya, mencermati batang dan daunnya agar buah yang dihasilkan bisa diidentifikasi secara jelas dan objektif.

Area Balai Pemuda hingga DPRD Kota Surabaya penuh padat dari ujung ke ujung.
Area Balai Pemuda hingga DPRD Kota Surabaya penuh padat dari ujung ke ujung.

Panca — semua sepakat artinya lima. “Bagaimana dengan kata Sila? Dari bahasa apa? Makna asalnya apa?” tanya Mbah Nun. Dalam bahasa Jawa, Sila bisa diucapkan Silo: posisi duduk dengan melipat kaki ke depan. Dari bahasa Kawi, Sila bisa berarti duduk di tempat yang paling dasar. Dari bahasa Sanskerta, Sila adalah perilaku. Sila juga nyaris sama dengan Sila-turrahim, yang berbahasa Arab. Shilah, artinya sambungan.

Menuntaskan asal kata dan makna dasar kata Sila, Mbah Nun menegaskan bahwa sila pertama hingga sila kelima adalah perilaku yang saling terkait dan bersambungan. Kenyataan sila kelima dimuati oleh kandungan sila keempat. Di dalam sila keempat terdapat kandungan sila ketiga, dan seterusnya. Hingga memuncak di sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah akar kesadaran yang paling utama bagi Bangsa Indonesia.

Jadi, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia merupakan cakrawala harapan bangsa Indonesia. Bagaimana kalau cakrawala itu dilihat dari sisi filosofi Jawa, misalnya toto tentrem kertoraharjo? Bagaimana pula kalau dilihat dari terminologi Islam: baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur?

Sayangnya, makmur dan kemakmuran yang menjadi dambaan hampir setiap orang—makmur ekonomi, makmur duniawi, makmur masa depan—diituntun oleh nafsu materialisme. Sedemikian “rendah” gambaran cita-cita Bangsa Indonesia?

Tapi, tidak bagi Pancasila. Shirathal mustaqim-nya adalah keadilan sosial. Panduan nilainya adalah adil. Ketika makmur sejahtera dikonotasi sebagai makmur duniawi—namun, pada saat yang sama membuat Tuhan marah dan tidak mengampuni — maka, adil merupakan salah satu sifat Tuhan yang semestinya ditransformasi, diterjemahkan, dijadikan indikator utama bagi elemen hidup berbangsa. Thayyib adalah indikator kehidupan yang lebih berkualitas dan beradab. Wa rabbun ghafur — berada dalam naungan ampunan Rububiyah atau Sifat Kepengasuhan Tuhan.

Gamblang sudah—ada distorsi yang cukup serius antara rumusan sila Pancasila dengan kenyataan masa depan yang didambakan bangsa Indonesia. Kesenjangan yang mungkin baru dipahami setelah Majelis Ilmu Maiyah memotretnya. Tapi, apakah bangsa Indonesia memerlukan sedekah ini?

Yang pasti Arek-arek Suroboyo dan Surabaya sendiri sebagai jantungnya Indonesia adalah kebun yang di atas tanahnya tertanam benih-benih sifat keadilan yang thayyib. Karena itu, Mbah Nun tidak tanggung-tanggung menggali tanah kesadaran mereka. Halaman gedung DPRD Surabaya benar-benar menjadi persemaian bagi pepohonan masa depan. Rakyat dan para wakil rakyat berembug, sinau bareng, di pusat jantungnya Indonesia.

Tidak ada yang beranjak. Jamaah tetap rapat dan setia, duduk bersila di atas alas plastik atau karpet yang disediakan panitia. Suasana guyub rukun ala pedesaan yang kontras dengan aroma metropolitan kota Surabaya. Dan yang pasti, mereka tampak bergembira.

Menyuntik Darah Segar di Jantung Indonesia

Mbah Nun tidak berhenti pada etimologi Pancasila. Pertanyaan berikutnya pun meluncur: “Pancasila itu rumusan kenyataan sejarah ataukah cita-cita dambaan Bangsa Indonesia?” Terdengar jawaban berbagai versi. Kalau Pancasila adalah rumusan kenyataan sejarah, apakah nenek moyang kita dahulu pernah mengalami keadaan yang dirumuskan itu? Kalau Pancasila adalah cita-cita harapan Bangsa Indonesia, apakah cita-cita itu telah tercapai?

“Nggandol pada tali Allah,” sebut Cak Nun mengibaratkan bagaimana sikap tawakkal.
“Nggandol pada tali Allah,” sebut Cak Nun mengibaratkan bagaimana sikap tawakkal.

Dari pertanyaan itu kita akan kembali bercermin pada kenyataan hidup nenek moyang, mbah buyut, para pendahulu kita bahwa kehidupan Bangsa Indonesia zaman ini tidak lebih bermutu, tidak lebih baik, tidak lebih beradab daripada kehidupan nenek moyang. Indikatornya jelas dan sederhana. Bangunan paling tinggi, paling megah, paling mewah yang menghabiskan triliunan rupiah adalah pusat perbelanjaan. Manusia Indonesia modern memuja kebutuhan materialisme.

“Jangan mbagusi! Kita harus belajar dari sejarah Bangsa Indonesia”, saran Mbah Nun. Bandingkan dengan kemegahan bangunan sejarah zaman nenek moyang—Borobudur adalah bangunan spiritual dan kebudayaan yang agung. Ini belum menghitung bagaimana presisi dan akurasi ukiran ekspresi wajah di setiap relief dindingnya. Pencapaian perjalanan dunia batin spiritual dan kejernihan hati kita belum ada apa-apanya. Nenek moyang kita lebih sukses ber-Pancasila sehingga kita tinggal merumuskannya.

Sinau Bareng di halaman gedung DPRD Surabaya merefleksikan lingkaran “dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat”. Mereka berkumpul di Rumah Rakyat, diikat dan disatukan oleh kesadaran bersama untuk membaca kembali Pancasila. Kehadiran Mbah Nun yang melacak sejarah masa lalu untuk membaca masa depan bersama rakyat dan para wakil rakyat, selain menyuntik “darah segar” nasionalisme di jantung Indonesia, juga menyemai benih kesadaran baru: sudahkan kita sungguh-sungguh dan serius ber-Pancasila?

Di penghujung acara musik-puisi Mbah Nun “Kemana Anak-anak Itu” membakar patriotisme Arek-arek Suroboyo. Kemana anak-anak itu / Siapa yang menyembunyikan mereka / Siapa yang menculik mereka / Siapa yang meracuni dan membuang mereka….

Saya pun larut dalam kesadaran yang menggelora. Disesaki juga oleh kekhusyukan sekaligus getaran cinta yang tidak mudah dirumuskan pada Indonesia.(Achmad Saifullah Syahid)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image