Bakunya Manusia adalah Menjalani Kebudayaan

Catatan Sinau Bareng Amikom Yogyakarta, 09 Okt 2017

Bersama-sama sudah kita rasakan dan alami bahwa sekarang ini adalah era kosmpolitan dengan ciri dan aplikasi yang berbeda dari dekade-dekade sebelumnya. Kosmpolitanisme saat ini diwadahi oleh terciptanya ruang yang dihuni manusia sejagat. Kita menyebutnya dunia maya. Pilarnya adalah teknologi informatika.

Foto: Adin (Dok. Progress).

Ciri kesejagatan pun bertambah. Ia tidak hanya ditandai oleh mudahnya orang berpindah atau berkunjung ke berbagai belahan dunia berkat teknologi transportasi yang makin maju. Tetapi, oleh kemajuan teknologi telekomunikasi, internet, dan informatika. Berbagai aplikasi tercipta buat orang sedunia. Tanpa harus beranjak dari tempat duduk mereka bisa terkoneksi dengan orang dari benua-benua lain. Berbagai informasi mengalir di situ. Interaksi juga berlangsung. Dunia telah menyusut mengecil dan masuk di dalam gadget yang kita pegang itu.

Malam ini, untuk kedua kalinya, Cak Nun dan KiaiKanjeng hadir di kampus Universitas Amikom Yogyakarta. Kampus yang dulu sekali kita kenal pameonya “Kampus Orang Berdasi” ini sedang  memeringati dan merayakan ultahnya ke-23. Sejak berdiri tahun 1994, perkembangan demi perkembangan telah dialami. Dulu AMIK, kemudian STIMIK, lalu AMIKOM, dan kini Universitas AMIKOM. Dari kecil banget berkembang menjadi “besar” dan go international. Brand-nya: Creative Economy Park.

Anak-anak atau para mahasiwa Universitas Amikom ini jago dalam dua bidang Film Animasi dan ICT. 10 prestasi atau juara internasional diraihnya pada kompetisi film animasi. Di antaranya Best Animation Nice International Film Festival 2017 dan International Filmaker Festival of World Cinema Official Selection Berlin 2017. Salah satu karya filmanimasi terbaik mereka adalah November 10th Battle of Surabaya.

Yes, ini titik persambungan yang manis. Secara skematis, Cak Nun menggambarkan dan memberi contoh persambungan antara Universitas Amikom dengan KiaiKanjeng. Di sini kuncinya: pengalaman dan pandangan akan yang internasional, yang global, atau boleh juga disebut yang kosmopolitan.

Foto: Adin (Dok. Progress).

Semua prodi di Universitas Amikom berbasis dan mengembangkan IT. Menurut Cak Nun, IT adalah avant garde. Para mahasiswa yang mendalami IT adalah penggenggam masa depan. IT akan dan telah menjadi mekanisme dasar apa saja. Dari bisnis, politik, hingga pembuatan KTP.

Tetapi, sebelum jauh mengkaji ihwal IT ini, Cak Nun mengingatkan bahwa dengan semua kecanggihan teknologi itu, sesungguhnya bakunya manusia adalah menjalani kebudayaan (kreativitas). Maka, semua kemajuan dan pencapaian teknologis perlu di-manage. Empat kata kunci dipesankan Cak Nun buat generasi milenial ini. IT perlu dikuasai, diolah dengan kemampuan manajemen dan akuntansi, pribadi harus ber-integritas (aqidah dan akhlak), dan semua pembelajaran atau laku hidup perlu didasari sikap “militeristik” kepada diri sendiri. Itu pesan buat generasi sekarang jika ingin menggenggam dunia di masa depan.

Berbicara mengenai pergerakan teknologi informasi ini, Cak Nun lalu menyinggung teknologi hologram dan artificial intelligence. Manusia mampu membuat kecerdasan tiruan. Ia cipta sebuah benda atau teknologi di mana kemampuan manusia bisa dipindahkan kepada benda itu, dan benda itu bekerja layaknya manusia.

Sense dan imajinasi Cak Nun lembut menangkap “fenomena” pada KiaiKanjeng. Hologram itu lembut, dan suwe-suwe ra ketok. KiaiKanjeng juga begitu. Nggak jelas aliran atau genre musiknya. Hologramis. Juga bersifat animasi. KiaiKanjeng adalah contoh hologram musik. Dihadirkan nomor Gundul-Gundul Pacul yang sudah diolah, dan di situ bukan hanya hologramis, tapi ada muatan globalnya. Lagu itu datang dari Jawa, tapi diuniversalkan. Maka, globalisasi adalah sumbangan daerah-daerah untuk diduniakan, untuk memperkaya dunia. Film animasi karya Universitas Amikom ternyata meski hadir dalam ajang internasional tetap tak hilang ciri lokalnya.

Foto: Adin (Dok. Progress).

Ini baru pengantar Cak Nun sebelum mempersilakan Pak M. Suyanto buat mengemukakan beberapa sambutan atau pemikiran sebagai sohibul bait maupun Rektor Universitas Amikom. Masih di bagian prolog ini, Cak Nun juga sudah menebarkan lontaran-lontaran kecil. Dunia Maya yang kini kita sematkan pada dunia internet, jangan-jangan juga pas untuk menggambarkan dunia yang sesungguhnya ini, kalau kita bisa melihat atau memahaminya dalam perspektif hologram. Ketika yang “ada” itu sejatinya hanyalah “diadakan” atau tampak ada. La tudrikuhul abshoru wa huwa yudrikul abshoro wa huwal lathiiful khobiir.

Dalam arti budaya sebagai sesuatu atau racikan bukan alamiah, sesungguhnya IT adalah puncak budaya manusia saat ini. Tetapi Cak Nun tak akan membiarkan IT meluncur sendirian. Nanti akan dibahas kaitan IT dengan konteks-konteks yang lebih luas. Termasuk dalam hal bagaimana Universitas Amikom dengan IT-nya memempatkan diri secara tepat dan otentik dalam dunia kosmopolitan. (HM)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image