Daur-II • 232

Bahan Baru untuk Bertengkar

“Tetapi kalau yang lebih primer bagi kalian adalah terlebih dulu mengetahui peta tafsir atas Al-Qur`an, apakah kalian cukup lapang dan bijaksana untuk menyaksikan bagaimana peta budaya dan mental Ummat Islam yang dibangun dan diakibatkan oleh perbedaan-perbedaan tafsir?”, kejar Pakde Tarmihim.

Beliau mengutip: “Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu”. [1] (Yunus: 19).

Kalau yang dilakukan adalah Tafsir atas Al-Qur`an, yang maksudnya adalah “memahami Kitab Allah, menerangkan maknanya, menyingkap hukum dan hikmahnya”, atau “menyingkap maksud yang diinginkan Allah”—meskipun sejak awal secara sangat sadar dibatasi dengan pernyataan “sebatas kemampuan manusia”—maka produknya bisa sangat mengkhawatirkan, karena sangat potensial untuk menjauhkan Kaum Muslimin dari hakiki dihadirkannya Islam oleh Allah.

Umpamanya, dari Kitab yang diawali “Iqra`”, satu kata itu saja—lahirlah pemahaman-pemahaman yang bermacam-macam, berbeda-beda, bahkan tidak mustahil bertentangan satu sama lain. Seribu Mufassir berhak memunculkan seribu pemahaman. Tatkala setiap pemahaman itu dipercaya, dianut, dan diikuti oleh sejumlah Kaum Muslimin, maka mereka akan terpilah menjadi kumpulan-kumpulan sebanyak jumlah Mufassir.

“Sekarang ini bahkan ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu, seperti yang disebut di firman itu, malah justru menjadi sumber baru untuk saling menegaskan perbedaan, merayakan ketidaksamaan, bahkan menikmati permusuhan. Dulu orang bertengkar karena belum ada rujukan baku dari Tuhan. Sesudah Tuhan memberi firman-firman untuk rujukan, bukan membuat manusia bersatu dan tenang. Melainkan malah menemukan alat baru untuk membangun pertengkaran”.