Sinau Bareng Membangun Manusia Indonesia di Eropa

Atomium dan Dewa Ruci

Bagian 4 dari 8

Selepas diskusi sore, dari rumah Pak Baktiar kami menuju tempat acara. Mungkin dimaksud sebagai sebuah penghormatan kepada tamu, kami dimampirkan ke sebuah tempat monumental. Atomium. Ia mempunyai tinggi 102 meter, dibangun saat Brussel World’s Fair tahun 1958 oleh Andre Waterkeyn. Saya justru seperti dikembalikan 8 tahun lalu saat saya masih aktif di BEM KM UGM dan sering mondar-mandir di sekitaran bundaran UGM.

Jika kalian pernah ke UGM, kalian tentu tak asing dengan suasananya; dua jalur kendaraan yang dibelah taman rumput di tengahnya. Bedanya, jika kalian mendapati monumen Atomium di Brussel, di UGM kalian akan mendapati gerbang alumunium dan Graha Sabha Pramana yang kerap penuh sesak karena acara mantenan. Cuaca malam itu tak begitu dingin. Sedikit angin yang wajar, dan tanpa hujan membawa kami kembali dalam sesi foto bersama di depan Atomium.

Mampir Melihat Atomium
Mampir Melihat Atomium. Foto: Gandhie

Saat melangkah ke gelanggang foto, sembari melihat bentuk konfigurasi atom di depan pandangan, saya teringat renungan saya 1,5 tahun lalu sewaktu masih tinggal di Muenster. Saya bercerita tentang apa yang ada di pikiran saya itu kepada Cak Nun. Tentang reaksi fusi matahari. Reaksi inti atom. Saya selalu teringat apa yang sering beliau sampaikan, man ‘arofa nafsahu, faqod ‘arofa robbahu; barangsiapa kenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya. Meskipun Imam An-Nawawi tidak menyebutkan hal di atas sebagai sebuah hadits, tapi sungguh saya mendapat pelajaran yang besar. Bahkan di beberapa kitab di Jawa, olah rasa dan olah cipta telah menjadi bagian penting untuk mencari kesejatian dari diri sendiri. Istilah buwana alit, juga sering dipergunakan dalam literasi Jawa untuk menyebut keluasan diri sendiri.

Apakah setelah menemu kesejatian, kita akan menjadi seperti reaksi fusi? Entahlah. Saya tidak ahli-ahli amat dalam bidang kimia. Sejauh yang saya ketahui, salah satu reaksi fusi yang terjadi di Matahari menggabungkan inti atom hidrogen menjadi helium dan menghasilkan energi yang besar. Ada banyak sekali skema dalam reaksi fusi, tapi yang membuat saya tergelitik adalah reaksi itu terjadi antar inti atom.

Ya, inti dan bukan kulit atau elektronnya. Inti bagi saya adalah seolah kesejatian. Meskipun masih ada kemungkinan ditemukan kesejatian dalam kesejatian dikarenakan pengetahuan manusia adalah relatif terhadap batas atau tabir keilmuannya. Penggabungan inti atom adalah serupa manusia yang telah menemukan tentang kesejatian hidupnya. Manusia-manusia inti ini dapat berkumpul, bermajelis, dan ber-apa saja bersama-sama. Berkonsep ma’a.

Manusia-manusia inti jika berkumpul akan menghasilkan energi yang besar. Yang juga bisa dipergunakan untuk ber-apa saja. Sama seperti reaksi fusi inti atom. Bisa menghasilkan energi luar biasa untuk memberi penghidupan kepada sesama seperti matahari atau bisa memberikan dampak yang sebaliknya seperti bom hidrogen. Maka manusia-manusia inti ini harus pula sinisihan wahyu. Harus pula mengkoneksikan buwono alit-nya kepada buwono ageng. Harus pula memahami seluk beluk sangkan paran-nya sebagai manusia agar energi inti yang luar biasa tetap terarah sebagai manifestasi kesejahteraan.

Cak Nun menyentil lucu. Tentang keterbatasan ilmu manusia dan keluguannya. Bagi ilmuwan saat ini, tentu atom adalah satuan terkecil dari benda. Beliau berseloroh bahwa bagaimana jika, pada nantinya, ditemukan konfigurasi atom di dalam atom itu sendiri, atau bahkan ditemukan konfigurasi semesta yang seperti planet-planet di dalam tubuh atom tersebut. Entah apa jadinya, apakah manusia akan merasa dipecundangi dan merasa semakin rendah di hadapan Sang Maha Tinggi, atau malah dibuat gantung diri karena semakin bingung dengan tata kelola metabolisme semesta. Yang jelas, candaan beliau ini mengigatkan saya untuk tidak terlalu jumawa dengan semua ijtihad yang ada. Bahwa mungkin kelak ditemukan kebenaran yang jauh lebih sejati dari apa yang kita yakini. Kebenaran yang membuat kita tertawa atas kekonyolan diri sendiri di masa lampau.

Setelah selesai sesi foto, kami kembali ke mobil van Volkswagen yang mengantar kami selama di Belgia. Di dalam mobil, Cak Nun bercerita tentang carangan Dewa Ruci. Tentang Bima yang diperintah masuk ke dalam lubang kecil telinga Dewa Ruci. Tiada yang Bima dapati kecuali memang semesta yang sangat luas. Bisa jadi atom di masa depan adalah lubang kecil dari potret semesta. Tapi bagi saya pribadi, antara atom dan Dewa Ruci, yang perawakan dan tampangnya mirip Bima adalah menjadi pepeling, menjadi pengingat. Bahwa mungkin kita terlalu sibuk untuk mencari Tuhan di luar diri kita, tapi tak pernah kita temukan Tuhan di diri kita masing-masing. Karena sejatinya, Dia lah tuan rumah bagi tempat tinggal kita. Dialah shohibul baiti yang punya saham 100% atas diri kita.

Mungkin dimaksud sebagai sebuah penghormatan kepada tamu, kami dimampirkan ke sebuah tempat monumental. Atomium. Ia mempunyai tinggi 102 meter.

Bagikan

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image